BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KEDATANGAN HERU


__ADS_3

“Ya sudah Bu, bersiap aja untuk Mamas antar pulang karena Timah tak bisa banyak bolos. Mas akan bilang pada Fitri bahwa Mas akan mengantar ibu,” kata Yanto begitu mendengar Gendis mengatakan Timah butuh untuk pulang sedang Fitri tidak mau pulang sama sekali.


“Ma, Papa mau bicara,” kata Yanto saat Fitri sedang ngeloni Daffa yang ingin tidur siang.


Fitri tak bereaksi dia tetap diam saja.


“Kalau Mama enggak mau jawab enggak apa-apa.  Yang penting Papa kasih tahu Papa akan antar ibu dan Timah untuk pulang ke rumah desa. Karena Timah harus sekolah, nanti Papa kembali lagi.”


“Kamu beneran enggak mau pulang sekarang?” tanya Gendis pada Fitri.


“Enggak Bu. Aku masih mau di sini aja. Tapi aku pasti pulang kok. Ibu tenang aja,” Fitri menjawab kata-kata ibu mertuanya.


“Sudah ya, kamu jaga kesehatan. Walaupun sedang marah tetap kamu harus makan yang benar,” kata Gendis.


“Aku tidak marah Bu. Tak ada lagi amarah. Semua sudah berlalu. Ibu vitamin dan obatnya jangan lupa ya,” jawab Fitri. Dia jelas memberitahu tak ada lagi rasa terpuruk atau marah. Semua sudah dia lepas agar tak jadi beban di batinnya.


Satu jam kemudian Yanto memang mengantar Timah dan Gendis pulang ke rumah desa

__ADS_1


Karena Fitri dan anak-anak masih ada di sini tentu saja Suradi dan Erlina juga ikut bertahan di rumah itu. Untuk memberi makan ternak dan menyirami pohon sudah diurus oleh pegawainya Herry, jadi tak perlu takut kalau hewan ternaknya kelaparan.


“Mbak Fitri itu ada tamu,” ujar seorang pembantu.


“Siapa mbok?”


“Katanya namanya Heru, teman SMA-nya Mbak Fitri,” jelas sang pembantu.


“Suruh duduk saja, dan jangan lupa siapkan minum,” jawab Fitri.


“Yah, Bu. Aku ada tamu. Titip anak-anak kalau bangun ya,” pamit Fitri untuk ke ruang depan.


“Aku juga gabling kamu masih di sini atau enggak,” jawab Heru sambil berdiri mengulurkan tangannya.


“Ini rumah orang tuaku, jadi enggak akan pindah. Kalau aku sudah tinggal di desa bersama suami dan anak-anak aku,” kata Fitri menjelaskan dia sudah memilih menjadi orang desa saja.


“Suamiku baru aja pulang antar ibu dan adikku. Karena adik kan masih harus urus-urus berkas di SD.”

__ADS_1


“Apa kabar Mas? Ada perlu apa ya datang ke sini,” tanya Fitri. Kalau tak ada keperluan tentu tak mungkin Heru akan datang menghampirinya. Terakhir Heru datang satu hari setelah dia lulus SMA. Datang untuk mengantarkan bunga dan hadiah dari kedua orang tuanya sebagai ucapan selamat lulus.


Sejak Fitri kuliah, hingga pindah ke Jogja dan kembali ke Solo, Heru tak pernah main ke rumah ini. Pertemuan mereka sebelum di TU kemarin adalah saat reuni SMA ketika Fitri baru melahirkan Daanish.


“Aku kemarin lupa minta nomor teleponmu. Jadi sebenarnya ke sini mau minta nomormu bila tidak bertemu kamu. Atau kalau kamu sudah tidak tinggal di sini.”


“Aku ke sini kadang satu bulan sekali atau dua bulan sekali sih. Kalau ada tamu yang datang dan meninggalkan pesan pasti disampaikan hari itu juga ke rumah. Karena nomor telepon memang kami tidak memberikan sembarangan.”


“Untuk aku apa enggak ada dispensasi dapat nomor telepon?” tanya Heru.


“Mas tenang aja. Ini nomor telepon aku,” kata Fitri memberikan kartu nama bengkel. Di kartu itu hanya ada satu nomor ponsel yang digunakan oleh Fitri dan Yanto bersamaan, bukan nomor pribadi mereka.


“Itu nomor umum ya Mas. Jadi aku dan suamiku yang pegang. Kalau telepon bilang dulu mau bicara dengan aku. Takutnya pas suamiku yang pakai, Mas bingung karena yang angkat telepon dia,” jelas Fitri.


“Kami tidak memberikan nomor telepon pribadi pada siapa pun.”


“Sebenarnya Mas ingin ketemu sama suamimu,” jelas Heru.

__ADS_1



__ADS_2