BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
HONEYMOON SETELAH 10 TAHUN PERNIKAHAN


__ADS_3

“Ma, maaf, Papa boleh usul nggak?” kata Yanto saat dia sedang berdua dengan Fitri memperhatikan kedua anak mereka bermain di kandang ayam milik Timah dan Suradi. Mereka memang sedang berada di rumah Pak Suradi dan Bu Erlina. Kedua pemilik rumah sedang di rumah kota sejak semalam. Sehingga rumah ini kosong. Untuk itu tadi pagi sengaja Yanto dan Fitri ke sini untuk memberi pakan dan membersihkan kandang juga membetulkan sesuatu yang perlu Yanto perbaiki.


“Usul bagaimana Pa?” tanya Fitri. Dia meletakkan snack pagi untuk suaminya di meja kecil di halaman belakang. Hanya ubi rebus dan teh tubruk panas. Memang seperti itu kesederhanaan yang Fitri jalani. Tak pernah dia mau repot dengan harus membeli snack sekelas bakery untuk konsumsi sehari-hari. Karena itu juga tidak terlalu enak di lidahnya Yanto. Buat orang lain enak belum tentu buat diri kita atau pasangan kita itu enak. Lidahnya Yanto maunya seperti itu, ya itulah yang disiapkan oleh Fitri.


“Papa ingin lho kita liburan berdua,” ucap Yanto sambil memandang lekat perempuan yang telah memberinya dua putra. Perempuan yang dulu hanya ada dalam angannya. Tak berani dia berharap memiliki karena terlalu tinggi untuk dia gapai.


“Kok Papa kepikiran begitu?” tanya Fitri, dia balas pandangan suaminya. Mencari makna apa yang tersirat dari mata lelaki yang buatnya, tak pernah tergantikan oleh siapa pun.


“Papa sudah bosen ya?” tanya Fitri takut. Kebosanan dalam rumah tangga adalah sumber persoalan pelik yang awalnya dianggap sepele.


“Justru nggak bosen Ma. Papa cinta banget kok sama Mama. Mama tahu itu! Cinta kita bukan dari sejak nikah kan? Kita jatuh bangun menahan agar kita tidak mengatakan cinta, karena kita terpisah oleh jarak yang kita bentuk sendiri. Aku membuat pagar dengan mengatakan aku masih STM dan kamu anak majikanku. Sedang kamu berpikir aku menolak karena kamu lebih tua. Pagar itu kita yang membentuk.”

__ADS_1


“Terus kenapa Papa berpikir untuk liburan berdua saja. Papa nggak mikir anak-anak?” Fitri masih belum paham niat suaminya mengajak dirinya berlibur berdua saja.


“Sejak anak-anak hadir, kita nggak pernah lho pergi berdua untuk liburan. Pertama kali kita pergi, kita rasanya was-was. Itu pun ke pernikahannya Burhan. Satu minggu ibu Gendis mempersiapkan batin Mama supaya tega meninggalkan Daffa saat itu. Ingatkan bagaimana khawatirnya Mama ingin cepat pulang karena meninggalkan Daffa di rumah?”


“Kita belum pernah bulan madu. Kita lama mengecap kebahagiaan saat kita di rumah Jogja berdua dulu. Di sana kita sama-sama saling mengenal. Di sana pula kita pertama kali melakukan hubungan suami istri setelah bulan keempat kita menikah. Tapi saat itu kita tak pernah berpikir pergi liburan. Kita merasa cukup berdua di rumah saja tanpa ganti suasana.”


“Papa ingin jalan-jalan berdua, karena ingin kita bulan madu untuk pertama kalinya setelah pernikahan kita yang ke-sembilan malah hampir kesepuluh ya Ma,” kata Yanto.


“Pernikahan keempat aku mulai hamil Daffa. Pernikahan ke-5 Daffa lahir besok pernikahan ke-10,” kata Fitri lagi.


“Itu lah Ma dasar pemikiran Papa. Kalau misalnya Mama nggak mau jauh-jauh mungkin kita bisa menginap di hotel berdua selama beberapa hari hanya di Solo saja. Kalau Mama nggak berani pergi jauh kita hanya tidur saja di hotel bukan untuk making love karena itu bukan tujuan utama Papa.”

__ADS_1


“Papa cuma ingin kita keluar jalan tanpa beban. Nanti pulang lagi ke hotel. Begitu saja, mungkin dua atau tiga hari kalau Mama nggak berani pergi jauh cukup di kota Solo.”


“Tapi kalau Mama berani pergi jauh, mungkin kita bisa ke Jogja, kita menginap tiga atau lima hari. Kalau Mama mau ke Bromo, ke Bandung atau ke Malang terserah Mama. Atau malah mau ke Bali?” tanya Yanto lagi.


Fitri berpikir ulang, memang selama ini dia tidak pernah liburan berdua hidupnya hanya untuk anak-anak dan suami saja. Seharusnya memang dia berpikir untuk sesekali memanjakan dirinya.


Dia harus mulai egois tidak berpikir HANYA buat anak-anak saja bukan artinya dia tidak mencintai, justru karena dia mencintai anak-anak dia harus punya pikiran yang fresh dan sehat.


“Boleh juga sih Pa, kita liburan tapi untuk ke mana dan jangka waktunya nanti Mama pikir dulu ya. Yang pasti saat ini jawaban buat wacana Papa kita honeymoon Mama setujui,” jawab Fitri. Dia pun bukan hanya memikirkan dirinya sendiri tapi dia juga memikirkan Yanto yang butuh refreshing dari beban beratnya selama ini.


Beban berat menghidupi dirinya dan dua anak mereka juga banyaknya karyawan dan adik-adik serta keluarga besarnya karyawan mereka sudah bertambah karena sekarang bengkelnya juga semakin bertambah luas.

__ADS_1


__ADS_2