
“Kalian langsung saja ke paviliun anggrek kamar 206. Aku belanja dulu di minimarket depan,” kata Herry.
“Aku mau beli aneka kopi sachet untuk Mas Yanto juga snack tissue basah dan macam-macam lah karena kan itu belum ada yang bawa.”
“Aku temani kamu Mas,” kata Tria tanpa ragu.
“Oh boleh, boleh,” kata Herry.
Yang lain tak ada yang curiga mereka langsung menuju paviliun anggrek kamar 206.
Tria dan Herry banyak membeli aneka kopi dan juga pastinya mereka beli aneka mie untuk persediaan mereka di kandang. Mereka juga membeli tissue basah, tissue kering lalu sandal jepit dan peralatan mandi. Tria mengambil dua sikat gigi untuk Suradi dan Yanto.
“Apalagi Mas?” tanya Tria.
“Sandal jepitnya tadi kamu sudah ambil dua Yank?” tanya Herry.
“Sudah. sudah dua sendal jepitnya. Cemilan bagaimana?”
“Ah iya cemilan. Mas Yanto sekarang nggak bisa nggak ngemil terlebih sejak Mbak Fitri hamil. Jangan ambil cemilan manis, dia nggak mau sama sekali cemilan seperti. Yang seperti kesukaan kita berdua saja seperti chitato, happytos atau yang gitu-gitu lah pokoknya. Jangan snack manis. Kalau snack ya harus yang keju,” ucap Herry.
Tria juga mengambil beberapa macam kerupuk, ada kerupuk palembang, kerupuk ikan dan segala macamnya.
__ADS_1
“Mbak yang mie dan saus pisahkan plastiknya ya,” pinta Herry.
“Baik Mas,” jawab petugas kasirnya. Mie nanti oleh Herry akan langsung dimasukkan di tas sekolah saja. Jadi tidak ditaruh di kamar rumah sakit.
“Tasku penuh lho Mas. Nggak bisa masukin itu,” bisik Tria.
“Kan bisa di tasnya Satrio yang atau tasnya Andre,” jawab Herry.
“Iya, aku aku cuma kasih tahu,” balas Tria.
“Iya Mas mengerti,” jawab Herry. Dia langsung membayar semua belanjaannya.
“Mas, kok Mas Yanto nggak dibelikan mie? Mungkin dia malam-malam lapar pengen nyeduh mie,” ucap Tria saat Herry sedang menerima kembalian.
“Ya Mas tungguin sebentar. Aku ambil mie gelas ya. Tiga beda rasa,” jawab Tria sambil berbalik badan.
“Iya cepat, Mas tungguin,” kata Herry.
“Ibu ini ada kue lumpur. Mungkin Ibu mau ngemil buat ganjal perut atau ada juga roti,” kata Tria pada Gendis.
“Iya nanti Ibu makan,” jawab Gendis.
__ADS_1
“Tadi aku beli teh celup dan gula Bu. Mungkin mau aku bikinkan teh panas?” kata Tria lagi.
“Ya sudah itu saja. Bikin teh panas untuk Ibu dan ayah,” kata Gendis.
Tadi Tria juga membeli tiga gelas melamin di supermarket. Tentu dengan tutup dan beda warna agar yang menunggu tidak tertukar. Pilihannya adalah gelas yang ada pegangannya agar tidak kepanasan saat memegang gelas tersebut. Kalau tanpa pegangan, tak ada piring kecil tentu malah sulit meminum bila gelasnya panas.
“Ayah ini ada roti mungkin ayah mau ganjal walau tadi sudah dahar tapi ayah tetap nggak boleh perut kosong,” kata Tria membujuk Suradi yang sejak tadi hanya diam memandangi istrinya. Dia berikan teh panas juga untuk Suradi.
“Mas bisa bicara di luar?” tanya Herry di dalam ruangan tentu masih ada Suradi dan Gendis. Harry, Satrio dan Andre sudah keluar karena mereka ingin bicara bersama Herry dan Yanto.
“Jadi gini Mas kami berlima, tadi punya pandangan terserah Mas mau diterima atau tidak. Semoga ini bisa menjadi salah satu wacana yang kita gulirkan pada Mbak Fitri,” kata Herry dengan pelan pada Yanto.
“Tadi Tria bilang jarak tempuh dari rumah desa ke rumah sakit ini kan nggak butuh waktu lama. Maksimal 1 jam. Jadi kami menyarankan Mbak Fitri di rumah desa saja. Alasan utama untuk kesehatan baby-nya. Dan alasan kedua untuk kenyamanan anak-anak. Setiap pulang sekolah 2 di antara kami akan stand by di rumah sampai esok paginya. Jadi nanti teman-teman ada yang akan menginap. Maksudnya apa? Maksudnya adalah kami stand by mengantar Mbak Fitri kapan pun ke rumah sakit kalau dibutuhkan. Kami semuanya bisa nyetir mobil dan kami akan hati-hati,” jelas Herry lagi.
“Begitu pun ibu Gendis. Nggak usah ada di sini. Itu pertimbangan kami untuk masalah Mbak Fitri. Untuk masalah ayah Suradi kami belum berpikir. Walau kami tahu itu juga harus segera dipikirkan karena kondisi kesehatan ayah kan juga pernah sangat buruk. Tapi aku yakin ayah enggak akan mau bila diajak pulang.”
“Mas berterima kasih pada kalian yang sudah mau membantu berpikir untuk masalah Mbak Fitri. Mungkin seperti yang kalian bilang, jarak tempuhnya tidak terlalu jauh. Nanti Mas akan yakinkan kita tidak mengorbankan ibu di sini tapi kita juga harus berpikir tak boleh mengorbankan anak-anak di rumah. Mas akan bicara dengan Mbak Fitri. Habis ini Mas akan pulang nganterin ibu Gendis dulu ke rumah kota sekalian bicara.”
“Kalau begitu biar aku yang menemani ayah Suradi sampai Mas kembali ke rumah sakit Mas,” ucap Herry.
“Ya kalau Mbak Fitri dan ibu sudah diantar pulang ke rumah desa nanti biar Timah menyiapkan Mas dan keperluan Mas. Kalau pakaian ayah bisa diambil dari rumah kota.”
__ADS_1
“Oke untuk sementara itu dulu nanti tinggal kita bicara tentang masalah ayah Suradi. Semoga dia mau disuruh standby di rumah kota dan datang hanya saat jam kunjung rumah sakit pagi sampai sore.”