
“Mama, Papa !” teriak Daanish melihat kedua orang tuanya turun dari taksi online. Tak terasa 5 hari sudah mereka berlibur. Banyak yang mereka dapat dari penyegaran mereka. Menjauh sebentar dari rutinitas. Yang pasti pikiran mereka jadi fresh dan mereka sudah berkomitmen akan rajin jalan kaki.
Fitri langsung memeluk kedua putranya. ‘Ternyata aku bisa juga menjauh dari mereka sekejap. Dua permata hatiku ini.’
Minggu depan Daanish sudah mulai sekolah TK dan Daffa mulai masuk kelas 1 SD.
Tentu saja Timah dan Herry juga mulai masuk tingkat berikutnya minggu depan. Semua sekolah akan dimulai minggu depan.
Hari ini, Suradi mengajak kedua anaknya untuk pergi ke toko buku. Tahun ajaran baru pasti mereka butuh buku dan alat tulis baru.
“Ayah aku nggak mau loh ya diambilin buku sebanyak-banyaknya. Ayah suka ngaco,” kata Timah lebih dulu saat baru saja turun dari mobil.
“Iya Ayah tahu. Pilihan Ayah kuno ya?”
“Bukan cuma kuno tapi Ayah tuh beliinnya nggak kira-kira,” kata Herry
“Kayanya Ayah bagusnya beliin buat Daffa saja deh. Daffa kan juga memang belum dibelikan buku sama Mbak Fitri dan mas Yanto,” Timah memberi saran untuk ayah mereka yang super royal tapi tak mau mereka manfaatkan.
“Kenapa belum dibelikan?” tanya Suradi bingung. Anak dan menantunya bukan orang pelit atau tak ada dana ‘kan?
“Mas Yanto takut dapat buku dari sekolah, padahal setahu aku kalau buku tulis itu nggak pernah dapat.”
“Mas Yanto bilang belinya nanti saja sekalian kalau sudah mulai belajar. Jadi sudah tahu apa saja yang dibutuhkan,” Herry menjawab pertanyaan Suradi.
Mendengar itu tentu saja Suradi tidak membuang kesempatan, dia beli buku tulis untuk anak SD juga sampul dan pensil serta pensil warna. Dia juga membelikan banyak buku gambar kecil dan besar juga krayon buat Daanish yang akan mulai masuk TK.
__ADS_1
“Tuh kan, Ayah tuh kayak begitu tuh. Nggak disuruh beli, main beli saja. Nanti salah lho,” Timah mengomeli ayahnya.
“Enggak bakal salah lah. Kalau buku tulis sih. Kecuali buku cetaknya. Kalau buku tulis pasti dipakai,” kata Suradi senyum-senyum.
“Apa yang kalian butuhkan apa sudah dibeli semua?”
“Sudah Yah. Sudah ambil semua kok,” kata Herry.
“Seharusnya Ayah juga nggak perlu jajanin kami kayak begini.”
“Terus kalau Ayah nggak jajanin kalian, mau buat siapa?” kata Suradi.
“Enggak mungkin kan Ayah beliin Mbak Fitri lagi? Wong dia sudah tidak sekolah lagi,” Suradi membalas protes anak-anaknya.
“Mas Iyok,” sapa Timah melihat Satrio sedang mencari buku juga. Dia lihat tas plastik transparan milik toko buku sebagai wadah belanjaan Satrio sudah banyak terisi.
“Hai, lagi mborong buku?” tanya Satrio.
“Nemani Ayah mborong buku,” jawab Timah. Satrio mendengar kata ayah langsung tolah toleh mencari sosok Suradi. Dia langsung memberi salim saat melihat sosok itu yang sengaja dia hampiri.
“Kamu sama siapa?”
“Sama tetangga Pak,” jawab Satrio. Tadi saat akan berangkat ke toko buku Satrio melihat tetangganya yang juga akan keluar rumah tapi dia dorong lagi motornya karena bannya kempes. Jadi Satrio menawarkan diri mengajaknya belanja bareng.
“Sat, sudah?” tanya seorang gadis manis.
__ADS_1
“Sebentar lagi. Kamu sudah?”
“Sudah. Aku sudah bayar. Tinggal ambil saat keluar toko nanti,” jawab gadis itu memperlihatkan dia sudah selesai belanja.
“Saya ke kasir ya,” pamit Suradi, dia menggamit Timah. Entah di mana Herry. Timah menghubungi Herry melalui teleponnya untuk menuju kasir. Timah sampai tak pamit pada Satrio.
“Sepatu bagaimana sepatu?” tanya Suradi setelah mereka selesai transaksi.
“Dua bulan lalu aku baru beli sepatu sekolah. Jadi nggak perlu,” kata Herry.
“Punyaku sepatu sekolah masih bagus, jadi nggak perlu beli lagi,” jawab Timah juga. Dua anak ini sejak dulu tak pernah mau dibelikan sesuaitu bila tak butuh.
“Kalau begitu kita beli sepatu buat main, yuk. Punya Ayah juga sepatu buat jalan kakinya sudah mulai jebol. Sudah lama banget Ayah nggak beli. Ayo, kita ke toko sepatu beli sepatu buat jalan sehari-hari saja.” Kata Suradi.
Timah dan Herry pun menemani Ayah mereka mereka beli sepatu sneaker buat kegiatan sehari-hari.
“Ini pas nggak ya sama ukuran Daffa dan Daanish?”
“Ayah kalau beli seperti itu tolong bilang ke bagian penulisan bon bahwa barang bisa ditukar bila kekecilan atau kebesaran. Kalau nggak ditulis di situ kalau hanya lisan saja bisa bahaya. Saat kita tukar mereka akan mengelak,” kata Herry.
“Iya Yah. Takutnya kebesaran atau kekecilan kalau buat adik-adik.” komentar Timah.
“Oke, Ayah akan turutin saran kalian,” jawab Suradi. Tentu saja dia senang ke dua cucunya jadi dibelikan sepatu juga oleh dirinya. Dia beli sepatu kembaran untuk Erlina dengan dirinya. Tentu dia tak berani membelikan Gendis apa pun alasannya. Nanti ada salah paham bisa bahaya.
Dan kali ini Timah mau pun Herry mau dibelikan sneaker karena mereka memang butuh ganti-ganti kalau sneaker. Kalau sepatu sekolah kan memang tak boleh lain model dan warna jadi mereka merasa tak butuh.
__ADS_1