
Sepanjang perjalanan menuju rumah mereka, Yanto Timah dan Gendis saling diam. Yanto bingung mau bicara apa lagi soal Fitri.
“Tadi Fitri enggak pesan apa-apa yang minta dibawakan Bu?” tanya Yanto saat mereka telah tiba di rumah.
“Enggak ada tuh, enggak pesan apa pun soal minta dibawakan barang-barang anak-anak atau barang dirinya,” kata Gendis.
“Baiklah aku langsung pamit ya Bu. Aku tak mau lebih lama nanti pasti jadi serba salah,” pamit Yanto.
“Sebenarnya tidak serba salah kalau kelakuanmu itu benar. Ibu tahu siapa kamu. Kalau kamu bisa sampai tertawa lepas dengan seorang perempuan, sosok pasti itu sangat istimewa buatmu. Kamu ingat saat mendengar Aisy masih cinta sejak SMP sampai sekarang saja, istrimu itu diam kok. Dia enggak marah, dia melaporkan Aisy karena melakukan pencemaran nama baik.”
__ADS_1
“Tapi sama Tini ini beda kan? Apa yang kamu lakukan? Ibu yakin bukan cuma sekadar ketawa. Pasti ada lebih dari itu yang sangat menyakitkan Fitri. Ibu enggak tahu apa yang terjadi di sana. Kalau hanya saling tertawa Fitri tidak akan marah seperti ini. Walau kamu tertawa dengan orang lain aja itu suatu keajaiban,” kata Gendis. Dia langsung masuk kamar untuk menaruh barang-barangnya.
“Astagfirullah!” kata Yanto. Dia langsung mengingat apa yang dia lakukan di tempat umum bersama Tini. Tertawa terbahak-bahak dan Tini bergayut di lengannya! Bukan hanya bergayut saja tapi kepala Tini pun disandarkan ke lengannya dan dia tidak menolak sama sekali. Bahkan dia menepuk-nepuk lengan Tini dengan akrab sama seperti ketika dia SD dulu.
Dia tidak menolak bahkan merespon dengan hangat.
“Astagfirullah,” kata Yanto lagi sambil menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Bahkan dengan Yani yang resmi jadi istri sirinya aja dia tak pernah berpegang tangan apalagi sampai Yani bergayut di lengannya dan dia biarkan kepalanya bersandar seperti yang Tini lakukan kemarin.
“Ya aku sangat salah,” terus kata-kata itu dia ucapkan. Yanto sadar apa yang menyebabkan kemarahan Fitri kemarin. Pasti Fitri melihatnya seperti itu.
__ADS_1
‘Di tempat umum saja berani seperti itu, pasti kalau berduaan akan lebih dari itu. Pasti itu yang ada dalam pikiran Fitri. Aku memang eramat bodoh,’ sesal Yanto dalam hatinya. Dia segera mengambil kunci mobil dan bersiap kembali ke rumah kota untuk meminta maaf pada istrinya.
‘Ibu benar, waktu dia mendengar semua curhatan Aisy bahwa Aisy mencintai dia sejak SMP sampai saat ini, Fitri tidak marah sama sekali. Dan ibu juga benar aku tertawa lepas pada orang lain itu adalah suatu keajaiban karena tahu tawa aku selama ini hanya buat orang-orang terdekatku saja.’
“Mas aku titip belut ya,” ucap Herry membuyarkan pikiran Yanto tentang kesalahannya.
“Kemarin aku sudah ambil belut dan aku sudah bersihkan. Ini bawakan buat Mbak Fitri, dia suka kasih makan belut buat anak-anak. Mbak Fitri bilang proteinnya sangat bagus buat Daanish dan Daffa,” kata Herry lagi sambil memberikan satu box belut beku yang sudah bersih karena sudah diambil sejak kemarin.
“Ya nanti aku sampaikan pada mbakmu,” jawab Yanto lirih. Dia malu sendiri mengingat kelakuan buruknya. Pasti banyak orang tua lain melihat kelakuan mesra mereka di tempat umum seperti itu.
__ADS_1
Yanto pun segera meluncur ke rumah kota lagi.