
“Katanya hari ini pada bawa satu jenis ya? Tak bawa masing-masing seperti biasa?” ucapan tanya keluar dari bibir Andre.
“Iya kalau Harry nggak datang kita bingung makannya karena dia yang bagian bawa nasi,” jawab Tria.
“Sebenarnya ini adalah menu khusus buat kamu dari Timah,” Kata Herry. Dia memberikan bekal yang dibawa pada Andre.
“Apa ini?” tanya Andre. Dia langsung membuka tanpa disuruh.
“Wow ini yang disebut kembang genjer? Wah amazing!” ucap Andre. Tanpa menunda Andre langsung mengambil sendok dan mencicipi masakan itu.
“Rasanya khas ya. Seperti kangkung tapi beda. Wah terima kasih. Aku akan langsung bilang terima kasih pada adik cantikku itu,” ucap Andre menggebu-gebu seperti mendapat hadiah sangat berharga.
Tria membuka bekalnya yaitu tempe dan krupuk.
“Hari ini aku bawa sesuatu yang spesial juga,” ucap Andre.
“Apa itu?”
“Ini yang opung aku masak. Mungkin buat kalian akan merasa aneh. Ini disebut daun singkong tumbuk. Tidak seperti yang kemarin dibikin oleh ibu Gendis, ibunya Herry,” kata Andre.
“Wah bumbunya apa sama?” tanya Harry.
“Sepertinya bumbunya sama sih sama bumbu yang dibuat oleh mamanya Herry. Bisa dibikin bumbu pedas atau dibikin tidak pedas. Suka-suka orang saja. Aku rasa basicnya sama. Cuma di kami itu ditumbuk dulu. Sehingga seperti bubur. Mungkin, maaf ada yang ji-jik karena bentuknya begini. Tapi pasti enak sih kalau untuk yang sudah biasa makan,” jelas Andre.
__ADS_1
“Siapa yang bilang ji-jik? Ini pasti nikmat,” kata Herry. Mereka pun mulai makan menu yang mereka bawa. Tak ada kemewahan lauknya hanya tempe dan kerupuk padahal mereka bukan anak-anak dari orang kalangan menengah ke bawah. Mereka menengah ke atas semua.
Bahkan kalau untuk uang, Herry sudah bisa beli rumah dan mobil dari hasil usahanya sendiri. Bukan dari orang tuanya.
Kesederhanaan memang sudah mendarah daging buat mereka. Dan Andre juga tidak pernah bermewah-mewah. Anaknya Gultom Situmorang itu memang bersahaja bahkan Andra yang sudah diberikan mobil saja tiap hari ke kampus tetap pakai motor biasa. Sangat beda dengan Eka padahal kekayaan Husein jauh di bawah Gultom.
“Wah, nikmat … nikmat banget,” kata Harry merasakan sayur daun singkong tumbuk yang baru sekali mereka rasakan. Kalau Tria ya tentu saja sudah sering. Sejak kecil dia sering menginap di rumah budenya dan dia sudah terbiasa dengan opung. Buat opung Tria juga cucu perempuannya, karena di keluarga opung memang tidak ada cucu perempuan juga. Jadi buat Riana dan opung Tria itu istimewa.
“Sebenarnya lebih enak kalau yang masak mama Riana. Walau ini asli masakan medan. Tapi mama Riana lebih jago masak ini,” jelas Tria.
“Iya kah?” tanya Herry.
“Bener Mas. Memang mama jago masak. Masak arsik pun lebih enak mama dari opung.”
“Itu ikan Mas tapi di bumbu dengan menu dari Medan,” jelas Tria.
“Tria kamu kapan-kapan buat dong. Aku biar nggak penasaran,” pinta Harry.
“Untung enggak ada Satrio ya, kalau ada Satrio kamu habis deh. Kamu tuh awalnya saja malu-malu. Ternyata malu-maluin. Tukang makan,” kata Herry.
“Kalau kamu kan sudah kenal aku sejak dulu, sejak SMP kita bersama jadi kamu enggak aneh kan?” jawab Harry.
“Iya Satrio kan baru kenal kamu,” balas Herry.
__ADS_1
“Kalau aku sejak kenal minggu lalu, aku sudah tahu emang orang ini rakus,” kata Andre tentu saja dengan tawanya yang khas. Tawa yang sangat keras.
Para guru suka bingung melihat keakraban anak-anak orang kaya ini. Mereka tak malu membawa nasi dari rumah tidak seperti murid-murid lain yang begitu istirahat langsung penyerbu kantin.
“Besok bawanya seperti sekarang ya. Aku akan bawa menu spesial lagi. Aku yang bawa sayuran. Harry tetap bawa nasi atau bisa juga lontong atau ketupat. Tria seperti hari ini lauk boleh tempe atau tahu atau kerupuk dan Andre seperti saat ini juga bahwa jus markisa dari Medan,” ucap Herry sambil membereskan alat makan miliknya.
Sebenarnya bukan jus dalam bentuk jus yang Andre bawa. Itu sirup botolan dari Medan tapi ditulisnya jus. Jadi sirup dingin saja tidak kental seperti jus buah yang biasa Tria bikin. Tak apalah sekali-kali hanya minum sirup.
“Menu spesial apa yang kamu mau bawa besok?” tanya Harry.
“Aku mau bawa pecel. Pecelnya ini spesial tidak seperti biasa. Biasanya itu hanya makan dengan bakwan saja tidak dengan nasi pun enak.
Itu sebabnya tadi aku bilang kalau Harry besok bawa ketupat atau lontong saja tak perlu nasi.
“Kalau begitu aku yang bawa bakwan saja,” kata Tria.
“Aku besok bawa bakwan dan kerupuk.”
“Nah oke aku pastikan aku bawa pecelnya. tapi aku bawa bumbunya yang pedas ya,” jawab Herry.
“Kan kita semua suka pedas. Jadi nggak usah ditanyakan itu,” kata Andre. Dia sudah tak sabar merasakan menu baru lagi.
“Benar-benar bergaul dengan kalian ini aku menjadi lebih bahagia. Tak perlu repot dengan jajanan dan ribut di kantin karena saling mendahului,” kata Andre.
“Sebenarnya saling mendahului biasa. Kamu saja yang terlalu berangasan sehingga bikin ribut,” kata Harry.
__ADS_1
Andre hanya nyengir karena memang itulah kenyataannya kesenggol sedikit dia akan langsung ngamuk dan kepalannya langsung melayang. Dia ditakuti karena kebrangasannya selain memang jago futsal.