
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Tak terasa sekarang sudah masuk bulan ke-4 atau diperhitungkan kedokteran kehamilan Fitri sudah hamil 17 minggu.
Lusa adalah pengajian 4 bulanan kehamilan Fitri. Hari ini sudah mulai persiapan diadakan. Para tetangga mulai datang REWANG, yaitu para tetangga datang membantu tenaga secara sukarela. Tenda besok baru akan dibangun. Memang Suradi mengundang anak yatim untuk acara pengajian besok. Suradi ingin memberi santunan anak yatim.
Sejak kemarin ibu Gendis, Herry dan Timah sudah menginap di rumah keluarga Suradi, karena kebetulan anak-anak sedang libur semester setelah mendapat raport semester ganjil.
“Kalian mau apa?” tanya Suradi pada Herry dan Timah. Hari ini Suradi mengajak kedua anak asuhnya itu jalan tanpa siapa pun.
“Enggak Yah, kami enggak mau apa-apa,” kata Timah.
“Ayah bilang kalian mau apa, bukan mendengar kata penolakan kalian,” balas Suradi.
“Tapi buku kami masih banyak Yah, juga alat tulis dari Mbak Fitri. Itu masih lebih dari cukup untuk semester depan. Jadi kami belum butuh sesuatu apa pun,” jawab Herry melengkapi penolakan adiknya.
“Ayah belikan kamu sepeda listrik ya?” kata Suradi pada Timah.
__ADS_1
“Enggak Yah, itu akan berat untuk biaya listriknya. Nanti aku ngerepotin Ibu atau mas Yanto bila biaya listrik di rumah membengkak. Kalau sepeda biasa, itu mungkin masih lebih baik. Sepeda listrik itu kami tidak boleh menerima karena pasti akan memberatkan beban ibu untuk bayar listriknya nanti, tidak, tidak,” Timah dengan cepat mengatakan tidak berulang. Dia bukan anak yang mau terima apa adanya, Timah memikirkan bagaimana kedepannya ibunya harus menanggung biaya tagihan listrik karena dia ngecas listrik sepedanya. padahal Timah masih sanggup untuk mengayuh sepeda ontel biasa.
“Oke nanti kita beli sepeda biasa saja untukmu, kita cari yang terbaik dan terkuat bukan harga. Ingat kalian tidak usah pikirkan harga, pikirkan yang terbaik dan terkuat untuk kalian pakai.”
“Sebenarnya sepeda juga enggak perlu kok Yah, kan sudah ada motor yang kemarin,” kata Timah.
“Aku ke mana-mana bisa ikut Mas Herry,” lanjut Timah.
“Kalau mas Herry lagi sekolah atau lagi pengajian atau lagi pergi lah pokoknya, kan kamu tetap butuh sepeda,” paksa Suradi.
‘Ini koq jadi kebalik ya? Yang mau beliin yang maksa,’ Suradi tak habis pikir dengan dusa anak yang dia bawa keluar rumah agar para ibu bisa tenang mengawasi masak di rumah.
Suradi makin kagum terhadap kegigihan dua anak ini yang tidak terkontaminasi oleh silaunya hidup mewah dan hidup mudah.
“Baik, besok kita buka aja tabungan atas nama kalian masing-masing. Kita buka tabungan pelajar atas nama kalian. Besok ayah bukakan hari kerja ya. Pagi-pagi kita berangkat, nanti semua uang kalian ditabung di situ. Kalian bisa pakai kapan aja. Kalian bisa ambil kapan aja,” kata Suradi.
Akhirnya Suradi mengalah terhadap kegigihan dua anak tersebut. Lebih baik memang dia memberikan tabungan aja. Nanti tiap bulan dia akan menambahkan saldo di rekening tersebut, tanpa anak-anak itu bisa menolaknya. Itu malah lebih baik.
Akhirnya mereka membeli sepatu dan beberapa baju juga tas kalau dalam hal ini timah maupun Heri tak bisa menolak karena selalu memaksanya dengan alasan untuk selama tinggal di Solo juga nanti saat acara pengajian mereka butuh beberapa kali ganti baju
“Kamu enggak kepengen boneka?” pancing Suradi pada Timah.
__ADS_1
“Aku sudah besar Yah, enggak butuh boneka. aku lagi kepengen beli kambing,” cetus Timah diluar dugaan Suradi.
“Buat apa kambing?” tanya Suradi, dia bingung anak kecil perempuan kok malah kepengen pelihara kambing.
“Mau aku tabung. Aku ingin beli sepasang atau 3 ekor anak kambing. 2 ekor betina dan 1 ekor jantan. Pasti akan berguna untuk tabunganku. Saat bulan haji nanti akan ada yang beli,” ujar Timah.
“Bukankah kambing itu merepotkan? Kamu harus cari makannya setiap hari, juga kamu harus membersihkan kandangnya.” Suradi tentu tak aneh dengan pemeliharaan kambing. Nertuanya di Cilacap adalah juragan kambing.
“Kalau mencari makannya itu bisa, sekalian pulang sekolah Yah, aku bisa menebas beberapa tumbuhan liar di pinggir jalan. Aku rasa bisa cukup untuk tiga ekor anak kambing,” mata Timah terlihat berbinar bicara soal kambing seakan dia sangat menginginkan hal itu.
“Kalau membersihkan kandang kami akan membuang kotorannya itu langsung menjadi pupuk, jadi tidak membebani. Malah menambah kesuburan tanaman milik ibu,” lanjut Timah.
Suradi tentu kaget mendengar pemikiran anak kecil seperti itu, dia akan meminta tukang menyiapkan kandang di rumah Bu Gendis baru akan dia belikan anak kambing yang Timah inginkan. Tapi dia tidak katakan itu saat ini biarlah itu akan jadi kejutan pada Timah.
Suradi akan membuat lantai kandang memiliki kemiringan sehingga semua kotoran otomatis tertampung ke bak penampungan tak perlu di bersihkan susah payah. Cukup disiram semua kotoran langsung terkumpul di bak penampungan.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REGRETS yok.
__ADS_1