
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Akhirnya tinggal mereka berdua di dalam rumah itu sambil beberes.
“Beli ranjangnya nanti pelan-pelan ya De’, diberesin semuanya dulu pelan-pelan,” ujar Yanto. Dia kasihan pada istrinya yang terlihat sangat lelah karena proses pindahan mereka kali ini.
“Enggak pakai ranjang juga nggak apa-apa toh Mas? Enggak wajib juga kan? Yang penting sudah ada kasurnya,” jawab Fitri. Walau dari keturunan orang kaya, tapi Fitri tidak matrealistis dan tak takut hidup susah.
Perempuan lain sekelas Fitri mungkin akan takut hidup dengan seorang sopir miskin yang harus menghidupi ibu dan adik-adiknya. Tapi Fitri tidak. Dia juga tak takut kalau Yanto hanya ingin harta milik dirinya saja.
“Iya sih.”
“Ya udah Mas istirahat aja kalau capek dari tadi kan Mas nggak istirahat,” saran Fitri.
“Lumayan sih capeknya,” jawab Yanto.
Hari memang masih sore tapi Yanto sudah capek. Yanto berbaring di kasur yang sudah rapi dibereskan Fitri. Tanpa sadar Yanto langsung terlelap.
“Kasihan suamiku,” kata Fitri. Dia memandangi wajah yang memang sejak dulu dia sukai dan dia cintai.
Fitri pun berbaring di sebelahnya Yanto, dia peluk tubuh suaminya dengan pelukan hangat.
Fitri merasa Yanto bereaksi terhadap pelukannya, dia pun merasa malu Fitri menenggelamkan wajahnya di dada suaminya.
Merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah, Yanto pun jadi terbangun dia menciumi wajah Fitri dimulai dari keningnya karena hanya kening yang bisa dia cium kala itu.
Yanto memegang dagu istrinya, sekarang dia bisa menatap wajah Fitri dengan jelas.
__ADS_1
Dia usah bibir istrinya dengan jempolnya.
“Boleh?” bisik Yanto bergetar.
“Kenapa nggak boleh?” balas Fitri.
Pelan Yanto mulai mengulum bibir istrinya. Fitri berupaya belajar membalas perlakuan Yanto. Keduanya memang sama-sama tak mengerti soal seperti itu.
“Boleh enggak?” tanya Yanto selanjutnya.
Fitri hanya mengangguk tanda membolehkan suaminya melakukan hal yang diinginkannya. Mereka menikah sudah hampir tiga bulan, tapi belum pernah berhubungan badan sama sekali. Bahkan cium bibir pun baru kali ini mereka lakukan.
Sore ini terjadilah yang seharusnya. Bukan malam pertama tapi sore pertama buat pasangan legal itu.
“Maaf ya Mas belum bisa, jadi bikin kamu sakit. Terima kasih ya,” bisik Yanto.
“Sakit enggak seberapa, itu kewajibanku,” lalu Fitri pun memeluk tubuh suaminya.
Sesudah itu baru mereka tidur sampai akhirnya lewat waktu magrib. karena sama-sama kelelahan. Lelah karena urusan pindah rumah juga lelah urusan pertarungan pertama mereka.
\*\*\*
Hari berganti hari Yanto dan Fitri bahu-membahu mengatur rumah tangganya. Semua nafkah ditanggung oleh Yanto. Kalau untuk urusan dapur Yanto tidak boleh membolehkan Fitri belanja.
“Yank, mulai bulan depan Mas nggak usah kasih uang belanja ya pinta,’ Fitri yang sudah terbiasa memanggil Yanto dengan panggilan YANK.
“Kenapa?” tanya Yanto sambil mendekap tubuh istrinya. Mereka baru pulang kerja. Hari ini Yanto memang tak kerja. Baru lusa jadi dia tadi antar jemput Fitri ke kantor.
__ADS_1
Saat Fitri kerja Yanto bebenah rumah, mencuci, juga masak. Tak ada yang dia sisakan untuk Fitri kerjakan.
“Semua uang Mas ditabung aja biar kita lebih cepat punya showroom,” kata Fitri.
“Tapi yang kamu yang pegang ya?” pinta Yanto. Dia tidak mau pegang uangnya.
“Enggak usah Mas, pegang Mas saja,” jawab Fitri.
“Baik semua uang akan Mas tabungkan di satu tabungan untuk masa depan. Uang harian yang Mas dapat itu Mas gunakan untuk operasional. Mas tak akan pernah menyentuh uang tabungan kita. Buku dan kartu akan selalu Mas tinggal di rumah,” kata Yanto.
“Untuk ibu dan adik-adik biar aku yang tanggung ya Mas,” pinta Fitri.
“Enggak usah, biar Mas aja. Selama ini juga semua ditanggung oleh Mas bukan dari uang gaji kok. Uang buat Ibu dan adik-adik selama kita nikah enggak Mas ambil dari uang gaji. Tapi dari uang makan dan uang intensif serta tip penumpang aja.” jawab Yanto.
“Enggak pokoknya, aku mau semua uang Mas masuk tabungan tidak boleh tersenggol oleh apa pun. Uang di luar gaji, kalau masih ada sisa buat operasional ya juga langsung masukin tabungan dengan gaji bulan berikut aja. Jadi makin cepat.”
“Mas enggak mau buka usaha pakai uangku. Jadi ya uang tabungan Mas harus cepat kumpul,’ jawab Fitri kekeuh.
“Semua harus ditabung biar kita cepat punya usaha sendiri. Biar Mas enggak selalu pergi jauh dari aku,” pinta Fitri. Mereka sudah 2 bulan berpisah di Jogja, saat ini sudah bulan kelima pernikahan mereka.
“Baiklah kalau gitu,” jawab Yanto pasrah.
“Adik-adik besok jadi datang Mas?” tanya Fitri.
“Katanya ayah nyuruh sopir jemput ibu dan adik-adik dan bawa mereka ke sini. Lalu ayah dan ibu juga ke sini sendiri,” kata Yanto. Lusa hari Minggu memang orang tua Fitri ingin main ke Jogja dan mereka juga mengundang besannya.
Jadi ibu dan adik-adik Yanto akan berangkat sepulang Herry dan Timah pulang sekolah, sedang pak Suradi baru akan datang hari Minggu pagi.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok