BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
AKAN KETEMUAN


__ADS_3

‘Akhirnya jadi juga,’ batin Satrio ketika mendapat jawaban kalau hari ini Timah bersedia dijemput setelah EMPAT kali penundaan sejak mereka berkenalan minggu lalu.


Tadi pagi memang Satrio sudah mengirim pesan, hanya Timah bilang dia lihat bila tiba di sekolah ada banyak pekerjaan ekstra atau tidak.


“Tapi nanti Mas nggak usah parkir ke dalam sekolah ya. Tunggu saja di depan. Nggak usah masuk ke dalam sekolahan aku,” pinta Timah.


“Nggak apa-apa kok Mas sudah biasa masuk sekolahan itu,” jawab Satrio cepat.


“Terserahlah, tapi aku pikir sih lebih baik tunggu di luar saja. Toh nggak lama. Aku langsung keluar begitu bel berbunyi. Paling atur-atur buku atau bicara dengan beberapa teman sebentar,” jawab Timah.

__ADS_1


“Ya sudah nanti kabarin saja kalau kamu sudah keluar, biar Mas tahu,” jawab Satrio. Karena memang sekarang mereka sedang bicara ditelepon ketika jam istirahat. Bukan sedang saling mengirim pesan.


“Ya sudah, aku matikan ya Mas,” jawab Timah.


“Iya,” balas Satrio.


Timah langsung memakan bekalnya sambil membaca buku pelajarannya. Gadis kecil itu sedang istirahat dia ditemani beberapa teman yang juga sama-sama membawa bekal tidak pergi ke kantin.


“Ini lho Dang. Aku lagi ingin coba ini buat program pilot project-ku. Kamu bikin apa buat pilotmu?” tanya Timah.

__ADS_1


“Aku lagi mau coba untuk bikin bel dengan sensor sensitif,” kata Dadang. Siswa putra berkaca mata yang sejak tadi duduk di seberang Timah. Mereka duduk bertiga yang satunya juga seorang pria.


Timah memang seperti itu senang bergaul dengan siapa pun tanpa takut diganggu oleh anak-anak yang suka mengambil buku atau makanan Timah. Karena pernah satu kali buku yang sedang dibaca Timah diambil. Walau tak bisa bela diri Timah langsung melawan dan melaporkan pada guru wali kelas mereka. Sejak itu tak ada yang berani mengganggu Timah.


Di sekolah memang Timah menjadi siswa eksekutif dalam artian kepandaiannya bukan kekayaannya atau kesombongannya. Walaupun pandai dia tetap rendah hati terhadap beberapa teman yang ingin minta bantuannya. Seringkali dia mengajari teman-temannya yang mau bertanya. Tapi tak pernah satu kali pun dia mau mengajari teman yang tidak bisa tapi tak mau bertanya. Takut dibilang dia sombong atau sok pintar.


Kalau ada satu teman yang bertanya yang lain pasti akan langsung ikut duduk di sebelahnya agar bisa mendengarkan. Karena apa yang dijelaskan oleh Timah kadang lebih mudah dimengerti daripada yang diberikan oleh bapak atau ibu guru. Mungkin karena Timah menggunakan bahasa-bahasa yang lebih sederhana.


Dan semua temen senang pada Timah kecuali memang anak-anak usil yang suka menggoda suka ngambil bekal makan siangnya atau mengambil buku yang sedang dibaca. Mereka usil ini mencari perhatian Timah yang memang tak peduli pada anak-anak seperti itu.

__ADS_1


Di grup science memang diadakan pilot project itu yang membuat Timah tertantang untuk ikut berpacu. Di sana ada sekitar 27 atau 37 siswa. Timah lupa jumlah siswa keseluruhan yang akan ikut dalam pilot project sekolah. Karena itu Timah rajin membaca dan merangkum sesuatu hal yang dia baca. Juga dia membuat langsung percobaannya di rumah karena pilot project memang diberi waktu 1 bulan untuk mencobanya.


Walau nanti ikan lelenya belum bisa dia panen dengan size konsumsi di hasil uji cobanya, tapi setidaknya dari pilot proyek satu bulan itu dia sudah bisa melihatkan perbedaan antara waktu pertama kali membuat dengan waktu pada saat pemanenan 1 bulan sebelum proposal diajukan. Hanya itu yang diharapkan. Ada perbedaan signifikan waktu awal dengan waktu akhir percobaan di rumah.


__ADS_2