
Dengan terpaksa bibi memisah semua lauk menjadi dua bagian. Satu bagian dia taruh di meja makan taman, satu bagian di meja makan tengah seperti biasa. Rupanya Satrio memilih makan di meja makan belakang di taman dia tadi sudah bilang sama bibi biar teman-teman bang Andra tetap di ruang makan.
“Kak kita makan di belakang saja, di taman. Jangan bikin bang Andra malu teman-temannya makan di ruang tamu. Kita enak kok makan di taman,” kata Satrio pada Andre.
“Masalahnya kemungkinan kita makan cuma berdua,” jawab Andre.
“Kenapa Kak?” tanya Satrio.
“Tria menangis entah apa yang dikatakan oleh teman-temannya abang tadi. Aku yakin pasti ada hubungannya dengan orang tuamu atau dengan Ekan. Pasti mereka bilang kalau Tria itu sok alim padahal dia sama dengan Eka itu yang bikin Tria menangis,” ucap Andre penuh sesal.
Satrio sedih dia tak bisa berkata apa pun. Tak bisa dipungkiri nama jelek Eka sudah menjadi seperti virus bagi kehidupannya dan kehidupan Tria. Hanya orang-orang baik seperti keluarganya Herry yang mengerti bahwa Tria tidak sama dengan Eka. Tapi orang yang tidak mengerti pasti menyamakan mereka. Karena mereka adalah satu kandung. Itu sebabnya Satrio juga sangat menjaga Tria. Kasihan kakaknya kalau disamakan dengan Eka.
__ADS_1
“Aku akan bujuk mbak Tria makan sama kita di taman Kak,” jawab Satrio berjalan ke kamar Tria.
“Abang, meja makan sudah siap,” kata bibi pada Andra.
“Ayo kita makan dulu,” ajak Andra pada teman-temannya.
“Lho Bi, kenapa ini cuma untuk empat orang saja?” kata Andra melihat hanya ada empat piring yang bibi siapkan.
“Oh begitu. Baiklah,” kata Andra terluka. Dia sedih adiknya menjadi marah dan berkorban seperti itu. Dia dari keluarga yang saling menyayangi, tentu masalah dengan Andre dan Tria kali ini membuat dia tak senang.
“Ndra, aku mau bicara serius sama Tria boleh?” kata Andri.
__ADS_1
“Nggak usah deh. Dia lagi marah seperti itu, nanti Andre malah lebih buas daripada tadi. Andre itu nggak tanggung-tanggung pukul orang yang menyakiti Tria. Sejak dulu siapa pun itu, dia tak peduli dan pasti dia punya argumen untuk membela dirinya. Sehingga tak mungkin dia disalahkan oleh mama dan papa walaupun dia berantem dengan seseorang. Karena sejak dulu mama dan papa tahu semua yang dilakukan Andre itu demi kepentingan Tria. Bukan untuk dirinya. Jadi seperti yang tadi aku bilang lebih baik lo nggak usah deketin Tria dulu,” cegah Andra.
“Padahal kan niatnya gua duluan yang mau deketin Tria dan mau serius bukan seperti ini,” kata Andri kecewa.
“Ya apa mau dikata? Mulutnya Binsar sama Luhut ini ya nggak bisa dijadikan patokan. Sehingga kamu terbawa-bawa. Mudah-mudahan aja dia masih mau memaafkan kamu yang tidak terlibat,” kata Andra pada Andri.
“Apa aku minta maaf saja. Agar persoalan ini tidak berlarut-larut?” tanya Luhut.
“Ya, sepertinya aku juga minta maaf. Aku tak ingin menjelekkan dia dengan membandingkan dia dengan Eka yang sudah terkenal sejak dulu,” Binsar ikut menyampaikan niatnya.
“Biar saja. Tak perlu seperti itu. Biar nanti aku yang akan mewakili kalian,” jawab Andra.
__ADS_1
“Sekarang ayok habiskan makanan ini,” ajak Andra sambil memulai mengambil makanan yang terhidang.