BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SEMUA ANAK SAYA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Ramah tamah sekaligus makan siang di rumah keluarga Suradi dan Erlina berlangsung sangat hangat. Orang-orang di sekitar lingkungan rumahnya Suradi tak percaya orang kaya itu ternyata humble sangat rendah hati.



“Jadi tambak itu memang milik Herry?” tanya seorang bapak pada Suradi.



“Ya itu murni miliknya Herry, sejak awal dia beli bibit ikan, dia bikin saung lalu dia pasang semuanya dan dia beli bibit itik, semuanya itu Herry beli sendiri. Tidak mau menggunakan uang saya. Jadi saya hanya membelikan tanahnya saja. Semua pengadaannya itu pakai uang Herry,” jawab Pak Suradi.



“Wah modalnya Herry besar juga ya.”



“Alhamdulillah itu tabungannya dia sejak lama,” ucap Suradi.



“Sejak awal dia tak pernah mau dibelikan motor baru atau apa pun dia lebih senang pakai motor di rumah yang mati nomornya. Uang beli motor ya saya masukkan rekening dia karena itu memang di alokasikan untuk dia.”



“Motor yang dia pakai itu motor rusak dan  dibetulkan oleh Mas Yanto jadilah motor itu kembali lancar tapi memang sengaja nomornya tidak dihidupkan agar tidak ke jalan raya.”



“Kalau Herry enggak pernah bandel kok. Jadi sebenarnya enggak apa-apa dia bawa motor ke jalan raya. Bawa motor ke jalan raya tuh enggak bahaya buat Herry, dia enggak pernah ugal-ugalan.”



“Anak ABG enggak boleh dilepas seperti itu. Dia bisa aja terpancing atau terbawa sesuatu hal yang buruk karena masih labil. Jadi lebih baik kita mencegah. Nanti kalau dia sudah mulai mapan cara berpikirnya, dia sudah dewasa tidak mudah terombang-ambing arus, baru dia boleh diberi motor yang bisa ke jalan raya.”



“Saat ini kan memang belum punya SIM, buat apa dibelikan motor yang ada nomor? Malah nanti saya yang salah kalau saya kasih motor tanpa  surat ijin mengemudi.”


__ADS_1


“Bapak ini kan CUMA mertuanya Mas Yanto ya, kok sebegitu sayangnya sama Herry dan Timah?” tanya bapak yang lain pada Suradi.



“Saya bukan cuma mertuanya Yanto. Saya orang tua Yanto, Herry dan Timah,” kata Suradi.



“Buat saya begitu Yanto menikah dengan Fitri, dia itu anak saya dan semua adiknya adalah anak saya,” jawab Suradi bijak.



“Alhamdulillah bu Gendis dapat besan yang seperti ini. Sejak dulu memang bu Gendis dan Suripto terkenal sangat baik pada orang di lingkungan ini, sehingga wajar kalau dia panen anak-anak yang seperti Yanto, Herry dan Timah.”



“Mas Yanto enggak ada yang bisa kasih nilai jelek. Sejak dia kecil dia sudah belajar cari uang walaupun bapaknya saat itu masih kaya. Tapi dia tidak pernah sombong pada orang yang berkekurangan sehingga saat dia jatuh tetap banyak yang menolongnya.”



“Oh begitu?” kata Pak Suradi tak percaya.



“Iya Pak. Yanto kecil itu adalah anak orang kaya. Saat semua orang di sini belum punya mobil, orang tua Yanto sudah punya mobil. Saat beberapa temannya punya motor baru dia tidak minta motor baru, dia tenang saja menggunakan sepeda ke sekolah karena seperti yang Bapak bilang tadi belum umurnya. Belum punya SIM buat apa beli motor.”




Suradi baru sadar ternyata dulu Yanto adalah anak orang terkaya di kampung ini.



“Itulah Pak, apa yang kita tanam akan berbuah dengan manis, jadi kita panen hasil yang baik itu wajar. Sama seperti Bu Gendis saat ini, dia panen Yanto itu wajar karena itu adalah hasil didikannya.”



“Istri saya juga anak tunggal tapi dia tidak sombong. Bapak dan ibunya itu juragan kambing di Cilacap. Dia kuliah di Jogja dan kami bertemu lalu saya bawa pulang ke Solo. Dia tetap tidak sombong kok makanya dia juga mendidik anak tunggal kami tidak sombong. Alhamdulillah Fitri mau dengan montir bengkel yang penghasilannya kecil walaupun dia sarjana.”



“Saat itu yang dilihat adalah kejujuran dan dia tahu Yanto bukan tidak mau kuliah tapi saat itu Yanto lebih fokus pada mencari uang untuk makan ibunya juga adik-adiknya. Itu yang membuat saya juga jatuh cinta pada Yanto sejak anak itu SMK.”


__ADS_1


“Dia tidak pernah mau saya bayarin sekolah, dia tetap bayar sekolah sendiri. Dia malah bayar kos di rumah saya walaupun saya sudah kasih gratis,” kata Suradi.



“Itu yang membuat saya mempercayakan Yanto untuk jadi suaminya anak saya.  Mereka dua-duanya sama-sama suka, tapi tidak berani menyatakan jadi saya yang menjodohkan,” kata Suradi.



“Jadi mereka menikah akibat Bapak jodohkan?”



“Saya menjodohkan karena mereka sama-sama suka cuma tidak berani mengemukakan. Yanto merasa tidak pantas jadi suaminya Fitri karena saat itu dia lebih muda dan Fitri kuliah sedang dia tidak. Fitri takut mengatakan pada kami bahwa dia menyukai Yanto karena dia takut kami menolak pemuda miskin seperti Yanto. Dua-duanya sama-sama menahan diri walau sama-sama cinta. Saya sebagai orang tua melihat itu dan saya memuluskan perjodohan yang memang sudah diatur sama Allah,” kata Suradi.



“Saya pikir mereka belum kenal dan tidak saling cinta.”



“Mereka saling cinta. Putri saya sangat cemburuan pada Yanto padahal Yanto ketika itu masih sekolah di STM atau SMK kalau sekarang dan banyak yang suka. Putri saya yang sudah kuliah sangat posesif terhadap Yanto.”



“Oh begitu bukan mas Yanto yang sengaja ngejar Mbak Fitri karena hartanya?” tanya bapak pertama tadi.



“Yanto enggak ngejar harta Pak. Kalau Yanto mengejar harta saya,  sertifikat rumah ini dan 2 tambak itu kemarin saya kasih atas nama dia tapi dia tidak mau.”



“Masya Allah. Sampai sebegitunya anak itu,” kata bapak yang kedua.



“Itulah Pak. Saya paling benci kalau ada yang menganggap Yanto itu mengejar harta anak saya. Yanto memilih keluar dari rumah saya biar bisa kasih uang belanja buat anak saya. Dia tidak mau sama sekali dikasih nafkah oleh saya Pak. Mereka malah ngontrak di Jogja selama 3 tahun sebelum anak saya hamil. Mereka pulang ke Solo karena anak saya hamil dan kandungannya lemah jadi memang harus dekat dengan orang tua dan anak saya berhenti kerja.



Suradi menutup kasus Bogor sebagai penyebab Fitri kembali ke Solo.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.

__ADS_1



__ADS_2