
“Waduh anak Papa sudah bangun,” sapa Yanto menegur Daffa yang keluar kamar dengan wajah fresh karena sudah mandi sore. Yanto langsung menggendong anak sulungnya tersebut.
“Minum 5usu dulu ya,” ajak Yanto. Dia mengambilkan 5usu botol kemasan yang dingin. biasa Daffa suka minum 5usu botol dingin.
Tanpa menolak Daffa pun menghabiskan 1 botol kecil 5usu kemasan tersebut.
“Eyang enggak dikasih susunya,” goda Erlina pada Daffa.
“Habis,” kata Daffa.
“Harusnya tadi sebelum habis kamu tawarin Eyang,” Timah mengajarkan keponakannya itu.
“Ndak oyeh,” kata Daffa sambil menggeleng.
“Ih pelit,” Herry mengejek keponakannya.
Tak lama si kecil pun keluar kamar, dia juga sudah rapi. Sudah selesai mandi. rupanya begitu bangun tidur dengan kemampuan terbatas tangannya yang masih di gibs Fitri langsung memandikan keduanya secara bergantian.
“Kok enggak bilangin Papa buat ngurusin anak-anak? Kamu kan enggak boleh banyak bergerak dengan tangan kirimu,” tentu saja Fitri mendapat teguran dari Yanto.
“Enggak kok aku cuma pakai tangan kanan. Memang sesekali di bantu tangan kiri, tapi enggak berat-berat,” bantah Fitri.
“Seharusnya enggak usah, biar cepat sembuh. Karena usia kita bukan usia pertumbuhan. Semakin banyak bergerak nanti semakin lama sembuhnya.”
__ADS_1
“Iya,” jawab Fitri.
Yanto pun memberikan 5usu kemasan pada Daanish. Tiap sore mereka jatahnya minum 5usu kemasan 1 botol kecil.
Anak-anak Yanto ini lucu, 5usu dari pabrik yang sama dengan rasa yang sama bila menggunakan kemasan kotak anak-anak tak suka. Mereka lebih suka kemasan botol.
“Wah burgernya sudah jadi ini,” kata Fitri melihat daging isi burger, keju serta aneka sayuran sudah tersedia di meja. Tentu juga dengan saos sambalnya. Roti juga sudah di panaskan.
“Enak lho Mbak. kokinya top,” kata Timah.
Fitri pun langsung menambahkan meracik sesuai dengan kemauannya dan dia memakan burger tersebut.
“Iya Pa, beneran enak loh. Papa hebat masaknya,” Fitri memuji suaminya yang memang sejak dulu suka masak.
“Alhamdulillah kalau suka,” jawab Yanto.
“Kok enggak pakai keju slice nya?” tanya Yanto.
“Eh, iya saking terburu nafsu. Aku enggak lihat ada keju di piring,” jawab Fitri.
“Biarin lah nanti yang kedua aku bikin pakai keju.”
“Timah. Besok pagi kamu bisa bawa yang isi sosis loh kalau kamu mau. Karena tadi mas Yanto sudah minta tolong Herry untuk beli roti yang buat hot dog. Sosisnya juga ada di kulkas kan,” kata Fitri.
__ADS_1
“Ya Mbak, besok pagi aku bikin juga satu untuk yang bawa ke sekolah,” balas Timah.
“Aku tadi usul pada Mas Yanto, Mbak. Bikin isi yang kotak jadi enggak perlu beli roti khusus burger. Nanti pakai roti tawar biasa aja,” kata Herry.
“Wah boleh tuh kalau kokinya mau,” kata Fitri.
“Mau, besok Mas mau kok. Sudah bilang sama aku tadi. Besok pulang kerja Mas Yanto mau beli daging cincang lagi buat isi,” kata Herry.
“Padahal aku bilang enggak usah beli daging cincang, pakai daging ayam aja kan daging ayam di rumah banyak,” ucap Timah.
“Oh iya, bisa juga tuh. jadi sinya bukan beefburger ya tapi chicken burger,” kata Fitri.
“Iya Mbak,” kata Herry.
“Tergantung chef-nya lah. Kita mah tinggal makan,” jawab Timah.
“Bener banget tergantung chef-nya Tapi sayangnya chef-nya sekarang senangnya tergantung mood.” goda Fitri. Sejak tadi Yanto hanya diam mengamati istri dan kedua adiknya bicara.
“Bukan tergantung mood. Masalahnya chef-nya sudah terlalu sibuk di luar,” kata Gendis.
“Iya Bu. Padahal kita nungguin banget Chef bikin masakan ikan patin ya Bu. Kayak dulu lagi,” Timah setuju dengan Gendis.
“Iya nih chefnya udah lama banget enggak masak ikan patin dulu kalau libur dia suka bikin ikan patin bakar,” kata Herry ikut bereaksi terhadap malasnya chef mereka.
__ADS_1
“Kalian enggak usah merajuk gitu deh. Besok kita bikin ikan patin bakar bumbu pecak yuk,” kata Yanto langsung merespon omongan kedua adiknya.
“Aasyiiik,” sorak Timah dengan senang.