BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TIDAK SEKOLAH TAPI …


__ADS_3

Harry pun ke belakang dia ingin belajar tentang kelinci dari Timah. Di belakang dia melihat Timah sedang memperhatikan buku besar bersama Mas Pujo.


“Mas indukan 022 yang lahiran kemarin kok anaknya cuma tiga?” tanya Timah melihat data, demikian yang lamat-lamat Harry dengar.


“Iya Mbak anaknya 4 tapi yang satu sudah kondisi tak bernyawa jadi aku cuma masukkan data 3 ekor saja.”


“Oh oke. Berarti memang dia kematiannya bukan karena pemeliharaan kita, tapi memang post natal ya,” ucap Timah mengerti.


“Ya betul, dia post natal. Jadi aku nggak tulis jumlah awal lalu mati pada saat pemeliharaan,” ucap Pujo. Pembukuan mereka memang terinci seperti itu. Agar tahu juga usia anakan. Tanggal kelahiran juga terdata.


“Berarti nanti benar, aku mau bikin usulan yang tadi kita bicarakan biar kita namabah komoditas jenis yo Mas,” ucap Timah.


“Iya Mbak. Bikin lho, serius aku senang nek nambah jenis,” dukung Pujo.


“Iya mulai nanti malam aku akan googling jenis apa yang bagus dan bisa kita jangkau pengambilannya saat belanja,” ucap Timah.


“Lho saat belanja ‘kan anakan dikirim ke sini?”


“Iya, aku lupa. Aku jadi ingat pembelanjaan dari sini. Dari sini kita nggak kirim. Kalau peternak kirim karena kita agen peternak. Maaf aku lupa,” kata Timah tanpa rasa malu. Banyak orang malu meminta maaf. Seakan kata maaf itu sulit keluar dari bibir seseorang. Tapi buat Timah serta Herry dan Yanto itu adalah hal biasa. Mengakui kesalahan itu adalah manusiawi bukan hal yang memalukan.


“Iya Mbak nggak apa-apa kok. Jadi besok yang penting cari saja yang bibitannya banyak dan bagus Mbak. Kalau harga aku nggak usah ajarin lah Mbak yang ter the best pokoknya,” kata Pujo.

__ADS_1


“Kamu tuh nggak usah nutup-nutupin deh. Aku tahu kamu paling jago bahasa Inggris,” kata Timah.


“Aku cuma bisa yes or no saja kok Mbak,” jawab Pujo merendah.


“Ngakunya cuma bisa Yes or no, tapi bacaannya semua buku bahasa Inggris ya? Entah buku tentang bisnis atau pun buku tentang tokoh dunia. Semua kamu bacanya yang dalam bahasa Inggris bukan dalam buku terjemahan Indonesianya,” ulas Timah.


“Aku cuma lihat tulisane thok Mbak, enggak bisa bacanya,” elak Pujo.


“Jangan bohongkah. Aku lihat kok buku itu ada di kandang. Kan aneh di kandang sini nggak ada buku tentang hal seperti itu kecuali buku tentang kelinci, majalah tentang kelinci karena memang itu juga kita jual. Jadi buku-buku itu pasti punyamu. Nggak usah pura-pura aku tahu kok siapa kamu,” kata Timah lagi.


‘Anak kecil ini emang jeli banget. Enggak bisa sembarangan ngadepin majikan yang satu ini. Mbak Tria yo pinter, tapi kalah jauh kalau sama anak kecil ini,’ batin Pujo.


“Ini lho Mas Ari ( bukan typo lho, Timah memang membuar panggilan beda buat Harry ), aku lagi tanya tentang data yang Mas Pujo tuliskan,” jelas Timah pada Harry.


“Boleh aku lihat?” tanya Harry. Tanpa ragu Timah memberikan buku besar itu. Harry melihat lajur-lajur yang dibuat Mas Pujo dan Timah.


“Wah keren. Benar-benar hebat deh kalian itu. Aku benar-benar merasa paling bodoh diantara kalian.” ucap Harry.


“Bagus itu merasa paling bodoh. Yang tidak bagus itu adalah merasa paling pintar,” ucap Pujo.


“Profesor kalau ngomong beda ya?” goda Timah.

__ADS_1


“Alah Mbak ini paling bisa deh ngenyek. Kayaknya aku doang yang enggak sekolah. Koq malah dibilang profesor?” kata Pujo.


“Sopo sing ngenyek tho Mas? Kenyataannya gitu kok dari tadi tuh Mas yang berkelit terus. Aku akui memang cuma Mas yang enggak skoleh, tapi mas kan …,” kalimat Timah langsung dipotong Pujo.


“Aku mau lihat eh ngasih konsentrat sama obat,” kata Pujo memutus kalimat Timah.


Hari ini memang jadwal Pujo harus bikin konsentrat yang dicampur dengan obat untuk para kelinci sehingga kelinci lebih nafsu makan juga daya tahan tubuhnya kuat terhadap dingin maupun angin dan penyakit-penyakit lainnya misalnya cacingan, batuk pilek dan sebagainya. Yang terutama penyakit kelinci yang paling fatal adalah kembung! Seminggu sekali mereka memang diberi obat anti kembung untuk pencegahan.


“Boleh ajarin aku campuran bikin campuran konsentratnya Mas?” pinta Harry. Dia hanya belajar untuk diserap ilmunya sebagai bahan tulisan bukan ingin mempraktekkannya.


“Ayo Mas,” ajak Pujo. Lalu dia menerangkan tentang perbandingan konsentrat.


“Jadi kelincinya dibikin lapar dulu Mas?” tanya Harry.


“Ya diupayakan mereka agak lapar agar makanan ini masuk dalam jumlah banyak. Sehingga obat yang kita berikan itu langsung masuk misal obat cacing, obat kembung atau obat flu dan sebagainya.”


“Oh gitu.”


“Iya Mas Harry, kalau mereka masih kenyang mereka akan sedikit makannya. Lalu nanti konsentrat ini terbuang percuma. Memang sejak pagi kita belum kasih makan mereka sayuran atau apa pun, karena sore ini mau dikasih makanan bercampur obat,” jelas Pujo.


“Aku ngerti triknya, aku jadi ngerti,” kata Harry sambil mengangguk-angguk. Semua direkam dalam otaknya kalau ada kata yang dia tidak mengerti entah itu nama campuran konsentrat atau perbandingannya itu dia catat di ponselnya agar tidak salah memberikan info.

__ADS_1


__ADS_2