
“Harga kontrak toko ini, apa kamu sudah dapat lokasinya sehingga bisa menentukan kalau harga kontraknya sebesar itu?” tanya Riana.
“Sudah Bude. Itu ada di tepi jalan yang lokasinya bagus. Juga ruang parkirnya cukup memadai. Kalau hanya di tepi jalan tanpa ruang parkir itu tentu akan kesulitan buat pelanggan,” jelas Satrio.
“Lalu kamu sudah cek suppliernya?” tanya Gultom.
Mereka bertiga langsung membahas masalah teknis. Semua ditanya rincai Riana dan Gultom. Tentu saja mereka tak ingin Satri gagal. Sekali lagi itu untuk mencolok mata Husein dan Riani kalau mereka punya anak selain Eka.
__ADS_1
“Oke sekarang sudah deal semuanya ya. Untuk tahap awal Bude akan turunkan dana 30% dari jumlah keseluruhan. Sehingga biaya awal buat kontrak serta mendekor ruangan bisa kamu bayarkan. Begitu itu sudah hampir selesai kamu ke sini lagi untuk ambil 30% berikutnya yaitu untuk beli alat-alat dulu sebelum untuk beli bahan jualan.”
“Bude bisa langsung transfer semuanya. Tapi tidak seperti itu cara kita bersilaturahmi. Jadi untuk tahap kedua Budi akan transfer di depan kamu di sini. Kita lihat step by step-nya. Bukan karena Bude tidak percaya pada kamu, tetapi kita mau lihat prosesnya. Kita ingin lihat kinerja kamu,” kata Riana.
“Baik Bude. Nanti akan aku segera kabari,” jawab Satrio. Riana langsung mengambil ponselnya dan minta nomor rekening Satrio.
“Sudah ya. Sudah Bude transfer ke rekeningmu,” kata Riana memperlihatkan ponselnya. Dia tidak mau menscreenshot atau mencari bukti lain. Cukup diperlihatkan pada saat itu saja.
__ADS_1
“Lupa apa kamu?” kata Gultom dengan logat bataknya yang khas.
“Saya mohon sebelum toko dibuka jangan beritahu papa dan mama. Saya tidak mau proyek ini digagalkan mereka dengan doktrin yang salah. Mereka pasti akan apriori sehingga membuat saya down. Saya tidak mau itu terjadi sama seperti Mbak Tria yang tak mau menceritakan proyeknya sebelum berjalan.”
“Bahkan proyek sudah berjalan saja Mbak Tria sering di doktrin bahwa semua pekerjaannya tak akan mungkin berhasil. Itu sangat tidak mendukung kami. Papa dan mama senangnya mendiskredit apa yang kami kerjakan. Aku sangat nyaman berada di keluarga angkatnya Mbak Tria. Keluarga Timah saling mendukung dan saling memeluk dalam hal kehangatan cinta. Tak pernah mereka saling menjatuhkan.” Riana dan Gultom hanya bisa berpandangan. Kasihan terhadap sosok miskin cinta di depannya.
Satrio dan Tria memang sangat miskin cinta kedua orang tuanya. Mereka bisa salah langkah seperti yang Eka lakukan tapi rupanya Husein dan Riani tidak menyadari hal tersebut. Mereka tetap tak berubah.
__ADS_1
“Kalau nanti sudah berjalan, Amang dan Bude boleh cerita bahwa semua ini aku pinjam dan akan aku angsur. Terserah mau diceritakan bagaimana cara angsuranku baik itu prestasi atau berupa uang terserah. Aku tak peduli. Yang penting aku tidak mau pinjam modal mereka. Karena modal tak akan turun. Yang ada hanya caci maki saja. Cukup Mbak Tria yang sekarang hampir setiap hari dicaci maki karena dianggap hanya sampah dengan cara membuka peternakan seperti itu. Padahal belum satu bulan saja sekarang kelinci kelincinya mulai hamil. Kemarin 4 hari lalu aku dan Mbak Tria serta Timah yang anak kelas 1 SMP itu sudah mengecek kehamilan kelinci. Bahkan yang di rumah Timah sudah menghasilkan 5 anakan kelinci. Padahal belum satu bulan. Tapi oleh papa dan pama itu dianggap hal sampah saja.”
Riana kembali menarik napas panjang tak mengerti pola pikir adiknya seperti itu dalam membimbing anak-anak kandungnya mereka sendiri. Bagaimana dia yang punya dua anak angkat walau tidak serumah. Tetapi dia sangat care terhadap anak-anak angkatnya tersebut. Yang ada di rumah hanya anak kandung mereka saja.