
“Aku duduk di sini ya?” tanya Tria sekaligus permintaan.
“Nggak ada larangan,” jawab Herry tanpa menoleh. Dia sedang memakan sandwich yang dibawa dari rumah dan di meja ada jus buah naga. Herry tetap membaca tanpa menoleh pada Tria.
Tria pun hanya duduk di situ dia ikut membaca sambil makan lontong yang diberi bumbu sambal kacang. Tadi dia pesan di kantin lontong dengan sambal kacang tersebut dan sengaja dia minta ditempatkan dengan sterofoam tidak pakai piring sehingga bisa dibawa duduk dekat Herry.
Mereka duduk di situ tanpa bicara apa-apa, juga tanpa saling menawarkan apa yang mereka makan karena Herry memang cuma bawa satu sandwich dan hanya bahwa satu botol jus.
“Kamu tiap hari bawa itu?”
“Aku tiap hari bawa jus buatan kakak iparku dan aku bawa roti atau apa pun itu aku yang siapin sendiri. Karena kalau untuk bekal makanan kakakku melarang kakak ipar untuk menyiapkan. Harus aku siapkan sendiri. Sekarang aku sudah sering bawa nasi goreng atau nasi dengan lauk karena kegiatan istirahat aku sudah bisa makan. Tak seperti awal semester, aku makan sambil lari-lari. Cukup wawancaranya Bu?” kata Herry seakan-akan dia sedang diwawancarai oleh Tria.
“Ya terima kasih Mas telah bersedia menjawab pertanyaan saya. Besok-besok saya juga akan nyontek sama Mas. Saya akan bawa makanan dan minum sendiri dari rumah saja.” Herry sudah tak membalas apa pun yang Tria katakan.
Sejak satu minggu kemarin memang Herry sudah mulai membawa nasi dengan lauk, karena sekarang sudah tidak masa perkenalan jadi Herry sudah istirahat itu sudah tak terlalu sibuk dan bisa makan dengan tenang. Herry tak malu makan sendirian sambil membaca.
__ADS_1
“Iya kenapa Dek?” tanya Herry lembut ketika menjawab telepon dari Timah yang berani telepon karena tahu sama-sama istirahat.
“Mas nanti pulang bisa ke sekolah aku nggak?” pinta Timah.
“Ada apa dan jam berapa?” jawab Herry.
“Aku keluar jam 02.00 siang. Aku butuh dijemput karena rok putih aku kena darah,” ucap Timah.
“Oke tunggu Mas sampai situ jam 02.15 atau 02.20 ya. Karena Mas selesai sekolah kan 2 lewat 10,” jawab Herry. Tak banyak menolak apalagi protes.
“Ya nanti Mas jemput,” jawab Herry menutup pembicaraan dengan Timah.
Tria yang duduk di sebelahnya hanya mendengar bagaimana percakapan dua kakak adik itu. Dia mendengan suara lembut Herry. Tak seperti saat bicara dengannya, dingin dan ketus.
Tria merasakan hubungan Herry dan Timah sangat baik tidak seperti dirinya dan kakak atau adiknya. Mereka benar-benar hampir dibilang tanpa komunikasi akrab seperti itu.
__ADS_1
Padahal mereka dari keluarga yang hangat. Komunikasi dengan ayah dan ibunya juga lancar. Tapi kalau antar kakak beradik mereka lebih sering berantem daripada saling mendukung.
“Senang ya kamu sangat akrab dengan adikmu,” Tria memberi reaksi percakapan tadi.
“Ya haruslah, namanya dengan saudara,” jawab Herry.
“Buat kami saudara adalah segalanya. Bahkan kakakku sampai mengorbankan tidak mau kuliah demi bisa mencari uang, buat makan aku juga sekolah kami adik-adiknya.”
“Aku mana mungkin aku bisa tidak akrab dan sayang pada adikku dan kakakku sedang contoh yang aku terima adalah perjuangan seorang kakak demi hidup dan sekolah aku dan adikku?”
“Kakakmu benar-benar teladan,” jawab Tria sedih.
“Ya kakakku teladan. Karena contoh kedua orang tuaku. Mereka memberi contoh yang baik bagaimana mengasihi orang,” balas Herry bangga terhadap Gendis dan Yanto. Kalau ke ayahnya Herry tak begitu ingat peran sertanya.
“Sebenarnya mama papaku juga seperti itu. Mereka sangat mengasihi aku dan kakak serta adikku tapi hubungan kakak, adik dan aku hubungan kami kakak beradik itu tidak dekat seperti kamu. Kami seperti musuh, kami bersaing dalam hal apa pun bahkan bersaing dalam mencari perhatian mama dan papa,” kata Tria. Dia seperti terasing bila berhubungan dengan kakak dan adiknya.
__ADS_1