
Kata-kata Tria itu membuat Herry menoleh. Dia kasihan kepada gadis itu. Ternyata Tria adalah sosok yang terkucil dari dunia keluarganya sendiri.
‘Untung kamu nggak cari pelampiasan dengan hal buruk di luaran,’ kata Herry dalam hatinya. Dia menjadi iba dan punya rasa sedikit simpati pada perempuan yang ternyata tak punya rasa kehangatan dalam hubungan kakak beradik.
Herry jadi ingin menarik Tria untuk berkenalan dengan Timah agar perempuan itu bisa punya adik seperti Timah. Karena Timah dengan siapa pun pasti akan suka menganggap kakak seperti ketika gadis kecil itu pertama kali berkenalan dengan Fitri dulu.
“Kalau kamu mau, nanti pulang sekolah kamu ikut aja sama aku jemput adikku. Nanti kamu kenalan dengan dia. Kamu bawa motor kan?” kata Herry.
“Iya aku bawa motor kok. Aku beneran boleh kenalan dengan adikmu?” tanya Tria tak percaya.
“Bolehlah. Nanti aku memang jemput dia. Kalau sudah berkenalan kamu bisa ngobrol sama dia sehingga kamu punya adik perempuan,” jelas Herry.
‘Kakaknya Tria juga seorang perempuan dan adiknya laki-laki jadi kemungkinan Tria akan senang berkenalan dengan Timah,’ itu pikiran Herry. Bukan ingin mengenalkanTria kepada adik calon adik iparnya.
__ADS_1
“Baiklah, nanti aku akan menunggu di parkiran,” jawab Tria. Dia tak mau ada kehebohan bila dia menjemput Herry di kelasnya lalu mereka keluar sekolah barengan. Tria belajar dari kesalahan kemarin.
Sekarang mereka langsung masuk ke kelas masing-masing karena bell tanda masuk pelajaran berikutnya telah berkumandang.
Tria sangat senang akan berkenalan dengan adiknya Herry. Dia bertekad ingin membangun persahabatan sehingga punya banyak teman.
“Memang kamu nggak ingat tanggal menstruasimu?” tanya Tria ketika mereka sudah berkenalan. Herry memberikan jaketnya pada Timah untuk menutupi bagian belakang rok adiknya.
“Aku ingat dan aku sudah pakai kok Mbak,” kata Timah.
Setelah berbincang beberapa saat Herry pun mengajak Timah pamit pulang.
“Nanti lain kali kita ngobrol ya,” kata Tria.
__ADS_1
“Iya Mbak, mungkin kita janjian di luar mas Herry,” kata Timah. Mereka sudah bertukar nomor ponsel.
Sejak tadi Herry tak peduli dia berdiri jauh dari Timah dan Tria agar keduanya bisa bicara. Memang Herry sengaja membentang jarak dengan Tria.
“Kalau begitu mari Mbak, sudah sore. Nanti tentu ibu akan bertanya-tanya kenapa kami pulang terlambat,” kata Timah.
“Apakah ibunya seperti itu terus?” tanya Tria. Dia kagum pada ibunya Timah.
“Ya Mbak, ibu dan Mbak Fitri pasti kalang kabut kalau kami terlambat pulang tanpa memberitahu. Tadi aku tidak memberitahu ibu karena pasti dia akan ngejar-ngejar mas Yanto untuk segera pulang menjemput. Jadi aku memang sengaja nunggu mas Herry saja,” jawab Timah dengan polosnya.
‘Pantas mereka seperti itu, rupanya semua dalam satu link yang sangat rapat. Baik ibu maupun kakak iparnya,’ batin Tria iri.
Mama memang perhatian tapi tak pernah berlebih seperti itu apalagi mencemaskan aku yang pulang
__ADS_1
‘Mbak Eka aja yang sudah dewasa sering pulang malam mama dan papa tak peduli asal diberi tahu kalau dia pulang malam. Padahal belum tentu kegiatan kak Eka seperti yang dia laporkan ke mama dan papa. Aku tidak yakin kegiatan kak Eka kuliah seperti itu. Tapi bila mama tak bereaksi mau bilang apa?’ kata Tria lagi dalam hatinya sambil menyalakan mesin motornya.
Adiknya yang laki-laki lebih bebas lagi tanpa pernah dimarahi mama dan papanya hanya sesekali menasehati tapi Tria merasa itu hanya keluar dari mulut bukan dari hati.