BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PERMINTAAN PAK SURADI


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



"MBang, Bapak mau bicara denganmu," pinta Suradi masih dengan suara lemah.



"Injih Pak. Monggo,"  Bambang mempersilakan pak Suradi bicara.  Saat itu ada Bu Erlina, juga ada Fitri.



"Bapak enggak tahu bisa bertahan atau enggak. Bapak ingin titip Fitri untuk kamu." Ucap Suradi terputus-putus.



"Jangan gitu lah Pak,"  Bambang tak percaya pak Suradi sudah putus asa seperti itu.



"Enggak mBang, kita nggak tahu sampai di mana kesempatan yang Bapak miliki. Bapak harus berjaga-jaga. Tapi Bapak juga tidak mau menyerah. Bapak akan terus berupaya untuk berobat."



"Selain berobat ke dokter Bapak juga sudah dapat rekomendasi sinshe bagus dari Semarang. Bapak akan berobat ke Semarang di sinshe bila telah keluar dari rumah sakit."



"Di sana menggunakan obat herbal tapi pengobatannya secara medis itu yang Bapak suka. Dia bukan sinshe sembarangan dan dia biasa praktek di Singapura."



"Memang agak mahal karena harus ke Semarang dan nginep di sana satu atau dua hari setiap kontrol."  Cetus Suradi.



"Kalau begitu Bapak kontrol nanti pas saya libur aja Pak." Usul Bambang.



"Enggak usah, kita ikuti jadwal Sinshe karena kan kita enggak bisa ngatur. Kita daftar sekarang dapatnya minggu depan."



"Semoga saat itu saya pas libur jadi bisa antar Bapak ya." Ucap Bambang. Dia memang menghormati pak Suradi seperti pada ayahnya sendiri.



"Oke tapi jangan kamu ambil libur, disesuaikan aja. Kalau memang enggak ada kamu ya Bapak enggak apa-apa pakai sopir pribadi di rumah aja,"  kata Suradi.

__ADS_1



"Yang pasti sekarang Bapak ingin kamu menjalin ikatan resmi dengan Fitri anak Bapak." pinta Suradi.



"Saya tak tahu apa saya pantas," kata Bambang. Biar bagaimana pun dia tak ingin dibilang aji mumpung atau mengharap kekayaan dari Pak Suradi.



"Maksudmu pantas bagaimana?" tanya Pak Suradi.



"Pendidikan saya lebih rendah dari Mbak Fitri itu pasti. Kalau usia itu bukan halangan buat saya. Saya sanggup bersikap dewasa."



"Kemampuan finansial saya jauh dari Mbak Fitri yang memiliki segalanya jadi mohon dipertimbangkan lagi Pak," Bambang tak berani berharap lebih.



"Enggak mBang dihadapan Allah, semua itu sama. Saya  mengenal kamu sejak kamu kelas 1 STM, bukan baru kenal kemarin. Kalau kamu memang tak mau ya enggak apa-apa."



"Kalau memang bisa Bapak memang ingin menitipkan Fitri di pundakmu."




Suradi dan Fitri juga tahu banyak pria mendekati Fitri karena memandang kalau Fitri anak tunggal juragan kost. Banyak yang cari kenyamanan walau tak cinta pada Fitri.



Kalau sejak dulu Bambang mau hartanya Fitri, sejak dulu Bambang akan memanfaatkan kesempatan mendekati Fitri, tapi Suradi tak melihat hal itu. Walau dia tahu putrinya ada hati pada Bambang, tapi Bambang tak berani membalas cinta putrinya karena merasa tak pantas.



Erlina tentu kaget mendengar niat Suradi tapi dia juga tidak menolak karena dia juga setuju Bambang adalah laki-laki yang bisa bertanggung jawab.



"Kalau begitu kamu pulang sekarang mBang. Jemput ibumu, dan besok pagi kalian menikah di sini." Suradi langsung memberi perintah pada Bambang.



"Besok pagi Pak?"  tanya Fitri kaget. Begitu pun Bu Erlina dan Bambang.


__ADS_1


Sebagai perempuan, Fitri tentu ingin pernikahannya tidak hanya sekedarnya. Terlebih tanpa persiapan apa pun.



"Besok pagi jam 09.00 penghulu sudah ada di sini. Bapak sudah menyiapkan semuanya," kata Suradi.



Bambang takut kalau Suradi memang tak bisa bertahan lama, karena semuanya sudah disiapkan oleh Suradi.



"Baik Pak saya permisi dulu,"  kata Bambang. Dia juga bingung belum ada pakaian dan segala macamnya termasuk mahar. Bambang tak ingin mahar juga disiapkan oleh calon mertuanya.



"Soal keperluanmu semua nggak usah kamu pikir mBang yang perlu kamu bawa adalah fotocopy surat resmimu dan pas fotomu untuk di buku nikah dan di administrasi KUA ukuran 3 x 4 dan 4 x 6." jelas Suradi. Rupanya dia memang telah mempersiapkan semuanya.



"Baik Pak akan saya siapkan."



"Bawa mobil mBang, kasihan ibumu malam-malam naik bus," perintah bu Erlina.



Erlina juga langsung menghubungi seseorang buat belanja semua keperluannya.



Bambang pamit pada Pak Suradi dan Bu Erlina. Fitri mengikuti Bambang keluar.



"Maaf ya, aku nggak tahu kalau Bapak seperti itu." kata Fitri lirih. Dia tak berdaya atas permintaan ayahnya yang seakan menekan Bambang tanpa pilihan.



"Enggak apa apa, tapi kalau kamu memang enggak yakin ya bilang aja sama Bapakmu. Jangan menjadi terpaksa karena pernikahan ini bukan pernikahan sehari dua hari jadi tak boleh ada keterpaksaan," kata Bambang yakin. Bambang malah meragukan Fitri. Dia takut Fitri terpaksa menjadi istrinya.



"Aku enggak terpaksa," jawab Fitri pelan.



"Baik aku pamit dulu," sebelum pergi Bambang menyempatkan memegang jari manis Fitri.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok 

__ADS_1



__ADS_2