
Satrio langsung memetik daun sawi hijau yang dibutuhkan tentu yang dia petik adalah bagian daun yang tumbuh lebih dulu sehingga nanti daun mudanya masih terpakai untuk panen yang berikutnya. Dia tak asal petik. Dia pun memetik cabe rawit yang sudah merah.
“Ini Dek, siap tempur,” Satrio memberikan hasil panen yang dia letakkan di baskom berlubang tempat mencuci sayuran.
“Mas Iyok mienya mau yang mana?” kata Timah. Dia sudah memegang mie yang ingin dia bikin untuk dirinya.
“Aku ini saja,” jawab Satrio sambil menunjukkan mie yang dia inginkan.
“Mas Herry mau yang mana?” kata Timah lagi. Timah sudah meletakkan 5 jenis mie yang Tria miliki.
“Aku sama dengan Satrio saja lah,” jawab Herry.
“Oke, Mas Ujo mau yang mana?” tanya Timah lagi.
“Saya apa saja Mbak Timah.” jawab Pujo.
“Ini aku baca kok nggak ada yang rasa apa saja ya Mas Ujo. jadi Mas Ujo nggak usah makan kan? Cabe rawitnya saja bagaimana?” goda Timah.
“Nasiiiib,” jawab Pujo.
Enam bulan bersama mereka bertiga, tentu saja Pujo sudah akrab dengan ketiga majikannya itu. Tak ada batas antar mereka.
“Seleranya sama dengan Mbak Tria, jadi nggak perlu ditanyakan,” jawab Satrio.
“Oke. akan aku siapkan. Yang punya Mbak Tria sama Mas Ujo biar Mbak Tria yang masak. Aku masak punya Mas Herry sama Mas Iyok saja,” kata Timah.
__ADS_1
Dua gadis itu masak berdua di bagian agak belakang.
“Aku ke sini sebenarnya tujuannya mau ketemu kamu,” kata Herry saat dia tinggal berdua dengan Satrio.
“Ada apa?” tanya Satrio. Dia sepertinya tak punya hubungan atau persoalan dengan Herry.
“Kebetulan aku pengurus OSIS,” jawab Herry. Dia tak mengatakan bahwa dia adalah KETOS-nya.
“Kami punya program kerja yang akan kami sampaikan di meeting minggu depan saat kenaikan kelas. Saat itu kami harus sudah fix programnya apa. Aku ingin kamu mengisi program tentang pemanfaatan limbah di sekolahku. Jadi kamu yang kasih materi mungkin dua season. Kelas 10 + kelas 12 dan kelas 11 + kelas 12. kelas 12 memang dibagi dua saja.” kata Herry lagi.
“Boleh. Sebenarnya bisa satu season asal ruangannya memadai. Jadi ada dua aula kelas 10 sendiri, kelas 11 sendiri. Kita tak usah bahas yang kelas 12 lah karena mereka tergabung dalam kelas di bawahnya. Kita bagi menjadi dua grup, timku banyak kok. Jadi cuma satu hari semuanya sekaligus hanya beda pembimbingnya,” kata Satrio.
“Oh bagus kalau bisa dalam waktu yang bersamaan, biar kami tidak bingung menyiapkan segalanya,” kata Herry.
“Karena kami juga kalau atur 2 hari begitu nanti repot.” Herry dan Satrio pun langsung terlibat diskusi hangat tentang program yang Herry inginkan dari Satrio.
“Nah ini sudah selesai semua, tinggal kita makan yuk,” kata Timah. Tria sudah menaruh 5 mangkok mie di meja. Nanti masing-masing mengambil ayam serta bakso sesuai kemauannya sendiri-sendiri. Tidak disiapkan oleh Timah dan Tria.
“Mbak ponselmu bunyi,” kata Timah saat melihat ada panggilan di ponsel Tria.
“Siapa Dek?” tanya Tria. Dia sedang mencuci buah jambu air yang tadi Pujo petik entah dapat dari mana.
“Kak Andre,” jawab Timah.
“Angkat saja Dek. Nggak apa-apa kok,” balas Tria.
__ADS_1
“Kak Andre ini aku,” kata Timah saat menjawab sambungan panggilan dari telepon di nomornya Tria.
“ ….”
“Iya, aku sama Mas Iyok ada di kandang. Kami seperti biasa lagi masak mie,” jawab Timah.
“ ….”
“Ya sedih dong nggak ketemu aku. Memang nggak bisa kalau ke sininya sekarang?” jawab Timah dengan kecewa. Entah apa yang dibicarakan lawan bicaranya di sana.
“ ….”
“Kalau besok aku nggak bisa. Aku besok ketemu penyuluh pertanian di rumahku,” jawab Timah lagi.
“ ….”
“Kak Andre nggak kangen aku ya?” rajuk Timah.
“ ….”
“Ya sudah, nanti lain kali kita janjian ya?”
“ ….”
“Iya nanti aku sampaikan ke Mbak Tria, kalau kak Andre mau ngobrol nanti malam.”
__ADS_1