
“Wah keren nih Mas,” Satrio memuji hasil pekerjaan Yanto yang baru mereka pasang.
“Itu kan saran kamu juga, kalau kamu nggak berpikiran seperti itu tentu kita masih menggunakan pola kejut lama yaitu dengan setrum listrik kekuatan ringan,” jawab Yanto. Dia baru sempat membuat apa yang disarankan Satrio karena berbagai kesibukannya juga karena satu minggu dia liburan dengan istrinya.
“Iya aku rasa lebih baik dibikin efek jera seperti ini. Siapa pun yang masuk pasti akan terkena dampaknya, lalu orang lain akan cepat tahu karena suaranya nanti pasti berisik sekali. Kalau efek listrik kemarin hanya dia sendirian yang tahu, tentu tidak membuat dia jera dan malu,” ucap Satrio. Tadi uji coba yanto pasang dengan volume super kecil saja agar tak membuat gaduh. Tentu nanti malam akan dipasang volume maksimal.
“Iya waktu itu kan kami baru tahap awal. Jadi memang belum terpikir hal-hal seperti itu. Itulah gunanya kita diskusi,” kata Herry. Mereka memang bertiga sejak tadi pergi ke tambak untuk mengurus semua permasalahan perangkap maling yang baru Yanto rakit.
Daffa dan Daanish sejak pagi tadi nyangkut di rumah eyangnya saat Yanto menyampaikan undangan dari Timah agar kedua mertuanya datang saat makan siang untuk mencicipi hasil masakan Timah.
“Kamu nggak mau ambil sedikit ikan buat di rumahmu nanti?” Herry menawarkan Satrio mengambil ikan untuk dibawa pulang. Untuk keluarga Satrio harga 10 kg patin dan belut satu kali belanja tentu bukan hal berat. Bahkan jumlah lebih dari itu pun, hal biasa saja. Tapi bawa dari hasil tambak tentu beda artinya.
“Boleh deh, cukup beberapa ekor saja untuk aku dan kak Tria uji coba di rumah bude. Karena sejak semalam aku tinggal di rumah amangku bukan di rumah papa,” kata Satrio.
“Kamu lagi nginep di sana?” tanya Yanto sambil membereskan kabel. Mereka akan pindah ke lokasi tambak yang lain.
“Nggak Mas. Tadi malam ada sedikit keributan pas saat amang datang sehingga amang memutuskan kami tinggal di rumahnya saja,” ujar Satrio sambil membereskan lakban dan gunting serta barang lainnya.
__ADS_1
“Kalau boleh tahu kenapa?” tanya Herry sambil menyerok belut dari dasar. Panen belut berbeda. Kolam belutnya sekeliling dilapis semen baru diisi lumpur sehingga belut tak bisa bikin lubang di tanah seperti kalau di alam.
Satrio lalu menceritakan awal pangkal dia emosi saat papanya bilang dia adalah anak yang kere karena bawa makanan ke sekolah.
Yanto sedih mendengar cerita itu, bagaimana seorang anak malah mendapat kata-kata tajam tak mendidik dari ayahnya sendiri.
Sungguh ironis, karena dulu semasa ayahnya masih adapun Yanto sangat bahagia sebab Suripto selalu mendukung apa pun langkahnya. Kalau pun ayah menegur pasti seperti yang dia lakukan sekarang pada adik-adiknya. Menegur dengan cara membangun, tidak memarahi seperti yang Husein lakukan.
Lagi pula apa masalahnya urusan bahwa bekal nasi ke sekolah dibilang kere? Itu memang sangat keterlaluan. Jadi wajar kalau Satrio marah, hanya cara marahnya memang belum terarahkan nanti sedikit demi sedikit akan Yanto ajari cara menyampaikan sesuatu pada orang tua.
Satrio bersikap seperti itu karena selama ini memang tidak ada didikan dari Riani apalagi Husein.
“Kalau begitu kamu bisa bawakan ikan segar, kamu mau patin dan belut atau dengan lele juga?” tanya Herry. Mereka sedang di kolam belut, nanti pindah ke lokasi patin untuk pasang alarm.
“Boleh, yang bisa di panen saja,” kata Satrio.
“Nanti juga aku akan minta beberapa sayuran yang belum ada di kebunku yaitu kemangi dan aku juga mau ambil dua pelepah daun pisang untuk bikin pepes,” jawab Satrio.
__ADS_1
“Jangan lupa, kamu bawa belimbing wuluh,” kata Yanto.
“Pasti Tria akan mencoba memasak patin asam pedasnya,” ucap Yanto.
“Iya Mas. nanti aku ambil beberapa. Mbak Tria memang bilang akan bikin pepes ayam untuk kak Andre nanti malam. Tapi kalau aku bawa ikan, pasti dia tak jadi bikin pepes ayam melainkan bikin pepes belut. Kak Andre bilang dia belum pernah makan daging belut. Selama ini hanya tahu keripik belut yang tak ada dagingnya itu.”
‘Andre?’ batin Herry.
“Semalam aku sudah menumis kangkung hasil panenku loh Mas. Enak kangkungnya masih segar. Benar-benar fresh dan kriuk karena terbebas dari zat kimia,” lapor Satrio bangga.
“Besok aku juga mulai menanam aneka sayuran di rumah budeku agar mereka bisa ikut panen walaupun hanya untuk skala sekali masak. Setidaknya daripada semua-semua dibuang,” kata Satrio dengan senang.
“Bahkan bibi di rumah jadi bangga ambil kencur dari kebun. Padahal kencur hanya se-kelingking. Tak sampai dua ribu rupiah. Tapi kepuasan panen tentu tak sebanding dengan nilai rupiah.”
“Kamu mau coba serok lelenya eh apa patinnya?” tanya Herry di lokasi tambak lainnya.
“Ayo,” kata Satrio dengan semangat.
__ADS_1
Herry dan Yanto tertawa karena beberapa kali yang diserok oleh Satrio malah dapat yang kecil. Otomatis harus dilepas lagi. Biasanya memang besarnya seragam. Tapi ada satu atau dua ekor yang kalah dibanding yang lain sehingga akhirnya dia lebih kecil beratnya dari yang lain.
“Ayo kita harus segera mandi untuk berangkat salat Jumat, waktunya sudah mepet,” kata Yanto mengajak kedua lelaki ABG itu pulang. Mereka pun pulang dulu karena mau salat jumat. Tentu mereka memilih mandi besar dulu agar salatnya lebih afdol.