BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PERMINTAAN BERTEMU


__ADS_3

“Kalian serius ya nggak salah duga?” kata Gultom meminta kepastian dua detektiv yang datang ke kantornya pagi ini.


“Tidak bos. kami nggak mungkin salah duga. Bahkan kami punya saksi tempat di mana dia ngambil akar tersebut dan siapa yang menggalinya buat dia. Karena dia nggak mungkin mau mencangkul atau menggali sendiri,” jawab sang detektif.


“Kami juga tahu siapa yang melemparnya ke tambak, bukan dia juga. Dia hanya menunjukkan lokasi tambaknya satu hari sebelum kejadian,” jawab seorang detektisf lainnya.


“Fix! Besok panggilkan semua saksi itu dulu. Kita bikin pengakuan dan rekamannya. Foto lokasi penggalian akar pohon dan lokasi tempat pelempar mengeksekusi di dekat tambak,” kata Gultom.


“Harus sampai mereka datang beri kesaksian. Kalau nggak datang kita jerat mereka dengan hukum yang berlapis yaitu melindungi perbuatan kriminal dan beritahu hukumannya sama dengan pelaku utama, sehingga mereka akan lebih gawat kalau nggak beri kesaksian pada kita,” ujar Gultom.


“Baik Abang, nanti kita bikin kesaksiannya. Kayaknya kalau besok nggak bisa mungkin sore ini, karena waktu saya juga mepet.” kata seorang detektif.


“Kalau bisa sekarang, ya memang lebih baik. Daripada nunggu besok. Saya pikir kalian malah nggak bisa hari ini tapi bisanya besok,” jawab Gultom.


Dua hari kemudian Suryo mendapat kabar dari Husein yang minta bertemu.


“Bagaimana kalau saya bawa klien saya Pak Husein? Agar biar lebih jelas,” pinta Suryo

__ADS_1


“Boleh,” jawab Husein. Dia  juga tak ingin anaknya jadi tersangka maka bergerak cepat sebelum penyidik bergerak.


“Mas Yanto, besok bisa bertemu dengan bapaknya Tria tidak?” tanya Suryo saat menghubungi Yanto siang ini.


“Besok jam berapa dan di mana? Saya takutnya ada janjian. Walaupun pengangguran seperti saya tentu punya janjian lah,” kata Yanto merendah.


“Ha ha ha, kalau mas yanto pengangguran, apa lah saya ini?” seru Suryo.


“Dia minta jam 03.00 sore sehabis dia pulang kerja. Mungkin sekalian dia keluar kantor cepat,” jawab Suryo.


“Kenapa nggak sama Herry?” tanya Suryo.


“Tidak. Untuk masalah ini saya nggak melibatkan Herry. Jiwa mudanya bahaya. Saya takutnya dia bikin ribut sama Totok nantinya. Biar ini diurus polisi saja. Herry tinggal terima beres saja,” jawab Yanto.


“Baik kalau begitu, yang penting mas Yanto datang. Kalau bersama Mbak Fitri atau tidak itu terserah. Yang penting mas Yanto hadir sehingga saya ada saksi juga.


“Sampai ketemu besok.” kata Yanto.

__ADS_1


“Yank, besok mas Yanto ngajak kita ketemu sama papanya Tria,” ucap yanto di kamar tidur mereka.


“Ada apa ya Mas? Apa mau negosiasi biar kita cabut laporan atau bagaimana?” tanya Fitri sambil membereskan baju yang baru di setrika.


“Kalau suruh cabut laporan sih belum tentu ya. Kan belum pasti bahwa Tria yang akan di sidik. Kita lihat aja besok. Dia minta ketemu jam 03.00 cuma tempatnya belum dikasih tahu. Suryo masih menunggu kepastian dari Pak Husein,” balas Yanto.


“Oh, oke besok jam 01.00 aku ke bengkel aja,” kata Fitri.


“Nggak usah, besok Mas nggak usah ke bengkel. Jadi kita berangkat dari rumah bareng,” jawab Yanto. Dia tak mau istrinya keluar ke bengkel walau diantar siapa pun. lebih baik dia aja di rumah.


“Ya sudah kalau Mas maunya gitu. Yang penting kita bisa memenuhi undangannya Pak Husein agar semua jelas,” balas Fitri.


“Mas jadi penasaran apa sih maunya dia,” Yanto memang sangat ingin tahu tujuan Husein


“Semoga saja yang terbaik.”


“Aaamiiin.”

__ADS_1


__ADS_2