
Bambang mencoba bersabar, dia menghubungi Timah. “Kamu di mana Dek?”
“Aku di kantin Mas, sama teman-teman,” jawab Timah. Sejak kelas naik 6 dia memang sudah pegang ponsel sendiri.
“Cepat kembali ke TU dan kita mau pulang,” jawab Yanto lembut. Walah sedang bingung, dia tetap bisa menahan amarah. Karena Timah tak sepenuhnya salah.
“Pendaftarannya sudah selesai Mas?” tanya Timah polos.
“Makanya kamu ke sini, kamu yang diurusin malah kamu pergi,” kata Yanto.
Timah pun segera pamit pada teman-temannya dan berlari ke ruang tata usaha.
“Ini sudah selesai semua. Kamu tinggal serahkan pada kepala tata usaha di sana dan minta tanda bukti terima bahwa kita sudah melakukan pendaftaran ulang,” Yanto memberikan berkas yang sudah dia isi lengkap.
“Kenapa aku?” tanya Timah naif.
__ADS_1
“Karena kamu yang bikin masalah. Kamu yang mendaftar malah kamu pergi. Lalu Mbak Fitri melihat Mas sedang berbicara dengan teman saat SMP. Mbak Fitri marah dan pergi. Sekarang Mas harus bilang apa?” Yanto menjawab dengan desah sesal. Timah kaget bahwa kakaknya ribut karena melihat karena dia tidak ada saat Yanto berbincang dengan temannya.
Saat Fatimah menyerahkan berkas, Yanto segera menghubungi ponselnya Fitri tapi ponsel istrinya sedang tidak aktif. Tentu saja Yanto bingung sendiri.
Yanto akhirnya memberanikan diri telepon pada Gendis menanyakan keberadaan istrinya.
“Kamu bagaimana, pergi sama kamu kok tanya Ibu,” Gendis tentu bingung saat Yanto bertanya apakah Fitri telah kembali ke rumah.
“Tadi Fitri ke toilet lalu aku dan Timah mendaftar di tata usaha. saat itu Timah pergi sama temannya Bu, dan seorang teman SD dan SMP aku ternyata adalah tata usaha di sekolah ini. Kami ngobrol karena memang dulu aku dan dia dekat tidak seperti dengan Aisy.”
“Astagfirullah Yanto, kamu punya istri yang super cemburuan kok yo bisa-bisanya enggak ada dia di sebelahmu kamu bercanda dengan perempuan lain?”
“Aku enggak sadar Bu, namanya ketemu teman kecil. Enggak punya niat apa-apa sama sekali,” jelas Yanto.
“Buat kamu enggak ada niat apa-apa. Belum tentu buat perempuan itu. Di mata Fitri juga pasti sangat berbeda. Yang pasti sat ini dia tidak ada di rumah,” jawab Gendis sedih.
__ADS_1
“Baik Bu, aku akan cari. Mungkin dia masih di sekitaran sekolah. Kalau dia sudah tiba di rumah khabari aku agar aku berhenti mencari dia,” pinta Yanto.
Yanto langsung keluar mencari keberadaan istrinya, dia cari di halaman di lapangan olahraga sampai di kantin sekolah itu, tetap saja istrinya tak ada.
“Astagfirullah kenapa jadi kayak begini?” kata Yanto. Dia sama sekali tak percaya tadi tertawa terbahak-bahak bersama Tini saat mereka bercerita terpeleset di sawah dan sampai wajahnya tertutup oleh lumpur.
Lalu mereka juga bercanda bagaimana saat naik ke pohon persen yang tumbuh liar sepanjang jalan menuju sekolah, jadi bukan mencuri. Saat mereka diatas pohon ada orang gila di bawah sehingga Tini tak berani turun.
Semua kenangan itu membuat mereka tertawa senang. Tak ada niat Yanto sama sekali untuk menyakiti Fitri.
“Kamu itu sama perempuan pasti sangat akrab apalagi sampai tertawa terbahak-bahak. Kalau bukan orang terdekatmu kamu enggak akan seperti itu Mas. Buat tersenyum pun kamu sulit,” kata Fitri saat meninggalkan ruang tata usaha tadi.
Fitri ingat bagaimana kakunya sang suami kepada perempuan bahkan perempuan secantik apa pun. Fitri juga ingat bagaimana Yanto yang kaku saat awal-awal dia mendekatinya dulu. Yanto yang tetap menjaga jarak walau telah dia suapi setiap mereka berangkat sekolah dan kuliah pagi hari. Yanto yang tetap kaku saat dia dekati dengan setulus hati juga setelah dia kenal dengan keluarga Yanto di desa.
“Aku yakin mereka pasti ada apa-apanya sampai mas seperti itu. Bahkan dengan Aisy saja mas menjaga jarak. Padahal lebih cantik Aisy dari perempuan tadi itu. Pasti perempuan itu punya tempat istimewa di hati Mas Yanto,” keluar dari depan sekolah Fitri langsung naik becak menjauh dari sekolah. Dia tak ingin kelamaan menunggu taksi. Dia akan mencari taksi setelah jauh dari sekolah agar tak di temukan oleh Yanto.
__ADS_1