BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERDAMPAR DI DESA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Kalau kamu gimana Her?” tanya Suradi pada anak lelaki kecilnya.



“Besok anak itik gelombang ke-3 datang Yah, gelombang pertama kan yang dipanen kemarin, termasuk yang dimasak tadi. Gelombang kedua baru usia 3 bulan, 2 bulan lagi sudah siap panen dan gelombang ketiga yang besok lusa datang.”



“Kamu tidak jadi tahan buat bikin indukan petelur?” tanya Yanto.



“Aku sudah pisahkan yang aku lihat bagus buat petelur Mas. Aku sisakan 20 betina dan 4 jantan. Aku juga sudah beli mesin tetas sehingga nanti aku beli telur aja enggak perlu beli anakan meri lagi. Langsung hasil produksi sendiri aja anakannya,” kata Herry.



“Masya Allah kamu sudah pesan mesin tetas?” tanya Suradi.



“Sudah Yah, mungkin minggu depan datang, karena aku pesan yang kapasitasnya kecil saja tidak perlu terlalu besar. Aku pesan kapasitas 50 telur Biasanya kalau untuk peternakan ambil yang 100 atau 200 telur kata Heri



“Kalau begitu kamu bisa beli telur kampung itu bisa juga ditetaskan di mesinmu, kalau telur ayam negeri tentu tidak bisa ditetaskan karena telur ayam negeri itu kan tak ada benihnya,” kata Yanto.



“Aku juga berpikir seperti itu Mas mau aku taruh titipin di kandangnya umbarnya Ayah, jadi nanti punya ayam kampung juga walau cuma sedikit karena kalau aku taruh di kandang meri ( itik ), ayam itu beda. Dia bisa terbang, jadi kandang hanya ukuran tinggi 1 meter ayam pasti akan terbang keluar,” kata Herry.



“Benar, karakternya ayam dan itik itu beda. Itik tak akan lompat jauh atau terbang jauh tidak seperti ayam yang bisa naik sampai atas pohon,” kata Yanto.

__ADS_1



Yanto tak menyangka kedua adiknya sudah sangat hebat pemikirannya, sudah sangat maju. Padahal dulu saat dia seusia adik-adiknya, dia belum punya pemikiran seperti itu.



“Kalo ayamnya Ayah bagaimana perkembangannya?” tanya Timah.



“Ayam Ayah bagus prospeknya, karena Ayah kan memang tujuannya buat petelur ayam negeri yang hitam atau merah itu memang kita buat sebagai indukan petelur tidak seperti yang putih. Tapi Ayah juga enggak jual sih, cuma buat konsumsi sendiri aja. Itu telur yang sering Ayah kirim ke rumahmu, tapi beberapa tetangga ada yang suka beli satu atau dua kilo, tapi kalau untuk niat dijual, Ayah enggak ngoyo.”



“Ada ya dijual, enggak ya wis. Tujuan utama cuma agar kita enggak beli telur dan ayam aja. Pakannya kan juga tidak konsentrat seperti yang biasa Makannya hanya sisa dari dapur sisa masakan yang ibu buang. Ibu cincang halus tambah nasi sisa kemarin kasih makan itu dan dibiarkan dia liar karena umbaran mereka tak terlalu butuh pakan, mereka bisa cari sendiri.”



“Dagingnya juga bisa ayah konsumsi sewaktu-waktu. Dan sekarang ada 3 ayam yang sedang mengerami, jadi Ayah juga enggak akan beli lagi untuk anakan. Biarin aja cuma buat konsumsi sendiri aja. Jadi tujuannya benar-benar bukan konsumsif.  Yang penting kebutuhan ayam dan telur buat di rumah sudah ada dan kita tidak mengeluarkan biaya tambahan selain waktu beli bibit dan bikin kandang.”



“Nanti siapa yang di sini Yah?” tanya Fitri saat sore dia maau pulang ke rumahnya.




“Yang bantu Ayah dan ibu di rumah ini siapa?” Tanya Fitri.



“Enggak ada,” jawab ibu Erlina pasti.



“Loh kok enggak ada Bu?” kata Fitri.


__ADS_1


“Kami cuma berdua mau ngapain pembantu?” jawab Erlina lagi.



“Makan kami hanya berdua, ya Ibu paling masak sedikit kan? Lalu cucian seberapa sih? Paling nanti ada sprei atau gorden suatu saat, tapi kan bisa dibawa ke rumah kota untuk di cuci pakaai mesin.”



“Bersih-bersih seberapa sih? Ayah dan Ibu bisa kok bersihin semuanya. Jadi semua pembantu tetap aja di rumah kota dan satu bulan sekali Ayah serta Ibu tetap ke sana ngawasin rumah kost.”



“Sekalian juga refreshing, kami mungkin seminggu sekali atau berapa hari sekali ke kota tapi tak menginap. Tapi untuk kehidupan kami lebih memilih di sini,” kata Suradi.



 ”Wah gara-gara aku, jadi semua terdampar ke desa ya.” kata Yanto.



“Iya pertama aku ke sini aja aku udah jatuh cinta sa,a lingkungan ini. Aku sudah ngebayangin tinggal di desa ini,” kata Fitri.



“Saat itu pertama kali aku jalan dengan Timah, benar-benar aku ngebayangin andai aku hidup di desa.”



“Padahal kamu waktu itu belum jadian sama Yanto?” tanya Erlina.



“Boro-boro jadian Bu, aku kan jadiannya setelah menikah. Ibu kayak enggak tahu aja. Menantu kalian tuh kan enggak pernah mau aku dekati.” ucap Fitri.



“Bukan enggak mau, aku panas dingin didekati anak majikan,” balas Yanto membuat semua tertawa.”


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.



__ADS_2