BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KETERKEJUTAN YANTO


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Aku tadi nemuin tulisanmu Pa. Waktu Papa ngambil baju di rumah kita di Jogja sehabis aku datang ke Bogor itu,” kata Fitri sambil meremas daun kemangi segar untuk membuang bau amis sebelum dia cuci tangan pakai sabun. Cukup banyak dia dan Yanto memakan pepes ikan patin tanpa nasi. Sesuai dengan ngidamnya sejak lama.



“Tulisan yang mana?” tanya Yanto. Dia memang lupa kalau saat itu meninggalkan surat sebab Fitri memblokir nomor ponselnya.



“Papa ninggalin kertas kan di meja rumah kita di Jogja? itu ada di dompet Mama lo. Mama simpan karena ingin tahu apa yang akan Papa jelasin saat kita bertemu,” kata Fitri.



“Isinya apa sih Papa serius lupa,” Yanto ingat dia meninggalkan surat, tapi lupa detail isinya.



“Pada dasarnya Papa bilang Papa cuma ambil baju,” lalu Fitri pun mengambil kertas dari sakunya. Rupanya tadi sebelum Gendis memberitahu kalau pepes telah matang, Fitri memang mau bicara soal itu.



Yanto melihat tulisannya dia tinggalkan buat Fitri dulu.



‘*Yank, Mas barusan pulang cuma ambil baju seragam, nanti kita bicara setelah kamu cooling down ya. Mas akan ceritakan semuanya. Mas enggak pernah menduakan kamu. Di dalam hati hanya ada kamu. Yang terjadi kemarin itu adalah jebakan. Tapi Mas terlalu bodoh sehingga tidak ingat kalau Mas itu sulit punya anak. Mas hanya ketakutan saat dia mengancam*.’



“Nah ini, dulu Papa bilang kan mau cerita sama Mama soal itu.”

__ADS_1



“Mas sedih kalau ingat masalah itu. Mas tersiksa saat harus merelakan uang operasional untuk bayar sewa rumah bulanan juga periksa bidan.”



“Mas sakit ngeluarin uang itu karena seharusnya uang itu masuk ke rekening usaha kita.” Yanto mengungkapkan hal yang selama ini tak Fitri ketahui.



“Waktu Papa belum sadar, Burhan cerita perempuan tersebut sudah melahirkan saat usianya belum 9 bulan karena dia kepleset. Mama enggak tanya dia kepleset di mana.”



“Sudahlah enggak usah diceritain perempuan busuk itu. Mas sungguh ji-jik kalau ingat dia. Mas tidur di rumah dia jarang menginap. Tapi sering merasa rugi kalau tak tidur di rumah itu karena Mas yang bayar uang sewa bulanannya. Biasanya kalau datang pagi habis narik, datang langsung tidur, bangun sore langsung ke mess. Kalau pagi tidur di mess kan lebih rame jadi kurang lelap,” jelas Yanto.



“Enggak apa-apa lah kita ceritain, asal jangan masuk ke hatimu,” Fitri mengusap lengan atas suaminya. Dia telah cuci tangan di keran kebun belakang barusan.




“Burhan cerita kalau dia melahirkan karena kepleset usia 8 bulan, terus ternyata ayah kandung bayi itu ternyata adalah sepupunya yang diajak ke kantor PO saat menekan Papa.”



“Apa?” tanya Yanto tak percaya. Ternyata ada lelaki yang mau anaknya di akui oleh lelaki lain. Pantas beberapa kali saat dia ‘pulang’ ke rumah petakan itu sering dia lihat ada lelaki tersebut atau ada bau lelaki itu di kasur yang dia pakai buat tidur.



‘*Ternyata selama ini aku menanggung hidup dua baji-ngan itu*!’


__ADS_1


“Itu kalau misalnya Papa gaulin dia, lelaki itu rela ya kekasihnya digauli oleh orang lain?” cetus Yanto tak habis pikir.


“Namanya juga sama-sama enggak waras ya kayak gitu,” jawab Fitri.



“Dan yang lebih gila lagi Burhan bilang ternyata ibunya itu tahu kalau Yani hamil sama orang itu. Mereka memang cari mangsa untuk dijadikan suami bagi perempuan hamil tersebut dan Burhan juga cerita kalau Papa bukan orang pertama.” Yanto baru tahu khabar ini karena sejak dia sadar Burhan belum pernah bertemu dirinya lagi untuk bercerita.



“Ada dua orang sebelum Papa yang sama dijebak seperti itu, tapi saat mereka didatangin ke tempat kerjanya saat Yani mengakui kalau dia  hamil, dua lelaki tersebut ngamuk dan bilang akan membawa kasus itu ke polisi.”



“Jadi emang cuma papa yang kena jebakan mereka,” Fitri yakin bila saat habis di jebak Yanto cerita, dia dan Suradi juga akan bersikap sama seperti dua lelaki lain. Akan memperkarakan Yani sehingga Yanto tak harus terjebak tiga bulan jadi suami perahnya.



“Astaghfirullahaladzim aku tuh waktu itu bukan mengiyakan kok aku minta waktu karena lagi berpikir bagaimana caranya tidak menyukai hati kamu.”



“Inget kan Papa selalu cuma mikirin kamu, kamu dan kamu. Saat itu Papa cuma mikir bagaimana sakit hatinya kamu ada perempuan lain yang hamil anak Papa. Sedang kita sudah menikah 3 tahun kamu belum juga hamil. Itu yang Papa pikir, Papa cuma mikir kamu enggak sakit hati dan kecewa karena merasa kamu lah yang enggak bisa punya anak karena ternyata perempuan lain bisa.”



“Papa ngulur-ngulur waktu dan selalu diskusi dengan Burhan bagaimana caranya menjebak perempuan tersebut.



“Sudah ah. Papa eneg bicarain dia,” ucap Yanto serius.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.


__ADS_1


__ADS_2