BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
CANDU DEKAP HANGAT KELUARGA GENDIS


__ADS_3

“Pak Husein sama Bu Riani ini memang orang tua yang hebat. Saya tahu putri anda itu maju sendirian Pak. Dia berani menghadapi kami ber-11 mengajukan proposalnya. Dia juga bilang semua modal itu dari tabungannya, tak minta satu rupiah un pun pada Bapak. Bahkan kami diminta tidak bicara apa pun sebelum acara peresmian. Karena Dia ingin bikin surprise. Rupanya dia tidak ingin Bapak dan Ibu menghalang-halangi niatnya buat bikin usaha. Saya salut Bapak dan Ibu punya putri sehebat Tria,” kata Pak Husein dari developer perumahan tersebut. Tentu saja Riani dan Husein juga tidak percaya bahwa Tria bisa mencolok mata mereka seperti itu. Mereka hanya memperlihatkan senyum palsu di wajah. Mereka tertampar dengan manis. Mereka tak tahu apa pun langkah yang Tria buat.


“Mas bisa bicara denganmu sebentar?” tanya Yanto.


“Iya Mas,” jawab Tria. Saat itu mereka sudah selesai acara seremonial resmi. Tadi Bu lurah sudah memberi satu buah wortel pada kelinci yang disiapkan oleh panitia sebagai simbol bahwa peternakan itu sudah dibuka resmi. Warga yang ingin minta urine dan kotoran kelinci 3 bulan ke depan sudah mendaftar di pegawai yang Tria angkat. Kalau tidak mendaftar hari itu tentu saja gugur. Jadi tiap hari nanti akan ada jatah untuk 5 orang warga pupuk gratis dari peternakan.


Tria menerima salam beberapa tamu yang pamit, baru dia kembali pada Yanto


“Alhamdulillah semua berjalan baik. Sekali lagi mas ucapkan selamat untukmu. Mas cuma mau menyampaikan ini, ucapan selamat dari Herry atas keberhasilanmu buka usaha. Herry menyampaikan maaf tak bisa datang dan mengucapkan secara langsung. Dia minta Mas mewakili dirinya mengatakan pada kamu. Takut kamu salah pengertian atas ketidak hadirannya.” Yanto memberikan bungkusan dari Herry.


“Aku tahu kok Mas. Dia kan jadi wakil untuk pertemuan antar sekolah di pekan weekend se-jawa Tengah,” kata Tria.


“Oh baguslah kalau kamu tahu alasan ketidak hadirannya.” balas Yanto.

__ADS_1


“Harusnya aku juga ikut, tapi aku enggak bisa mengundur jadwal pembukaan usaha karena berkaitan dengan jadwal para undangan,” jelas Tria.


“Terima kasih ya Mas. Katakan juga pada Herry sukses juga buat dia dalam usaha mau pun pelajarannya,” jawab Tria.


“Ibu terima kasih sudah datang ke acara aku,” kata Tria pada Gendis.


“Sama-sama ya Nak. Ibu harap kamu bisa sukses,” balas Gendis.


“Insya Allah Bu. Doain ya?” kata Tria dan mohon maaf kalau nanti sesekali aku minta bantuan Timah untuk diskusi di sini.”


“Iya Bu, aku akan berpikir untuk itu,” kata Tria.


Dari jauh Riani melihat putri keduanya akrab berada di tengah-tengah keluarga Timah dan Fitri. Tadi semua sudah diperkenalkan padanya dan Husein. Riani tak percaya Tria akrab dengan keluarga Herry yang pernah dia maki-maki saat di pengadilan negeri dulu.

__ADS_1


Riani tahu soal Timah dan Herry serta Yanto yang mempunya bisnis sendiri-sendiri. Dan Riani tahu kalau keluarga mereka hangat dan saling dukung. Bahkan mereka memanggil DEK hal yang mulai jarang. Kalau panggilan mas dan mbak masih di pakai, tapi panggilan untuk yang lebih muda mulai pudar. Biasa hanya langsung dipanggil namanya saja.


“Mbak, terima kasih banget. Terima kasih, terima kasih, terima kasih,” kata Tria sambil memeluk Fitri.


“Entah berapa ribu terima kasih yang aku ingin katakan dan masih aku simpan untuk Mbak Fitri. Karena dari Mbak Fitri aku banyak belajar,” ucap Tria.


Tria banyak belajar dari Fitri, baik tentang pandangan ke depan, maupun tentang sikap sebagai perempuan. Semua itu dia pelajari dari Fitri secara langsung maupun tidak langsung. Banyak ilmu yang dia serap. Seperti cara Fitri berlaku pada ibu mertuanya, pada adik iparnya. Pada suaminya juga pada anak-anaknya. Semua itu langsung terekam dan akan dia gunakan untuk dirinya sendiri. Tria sadar semua itu tak pernah dia dapatkan di keluarganya.


Dalam keluarganya kalau uang jangan tanya. Minta tiap hari pun dia pasti akan diberikan oleh mama dan papanya. Untuk perhatian mereka hanya bertanya sudah bikin PR? Begitu saat masih SD. Tapi sudah SMP apalagi SMA mereka sudah tak peduli lagi. Yang penting bayaran full, semua keperluan yang mereka butuhkan full diberikan oleh mama dan papanya. Tak ada perhatian sama sekali. Tak ada diskusi seperti di keluarga Gendis.


Bahkan pernah satu kali Satrio satu-satunya adik lelaki Tria. Satu-satunya anak lelaki Husein, demam. Tiga hari terkapar di rumah. Riani tak tahu, hanya Tria dan para pembantu yang sibuk. Baik memanggil dokter ke rumah maupun mengingatkan Satrio untuk selalu minum obat. Riani ada di rumah, Husein apalagi. Mereka datang tiap sore atau kadang malam tapi mereka tak pernah tahu kalau Satrio ada di kamarnya terkapar. Karena Satrio maupun Tria sudah berkomitmen tidak usah lapor pada kedua orang tuanya dan mereka ingin tahu apakah ada attensi buat mereka.


Orang tuanya tak pernah tanya tiga hari tidak melihat Satrio sarapan bareng. Saat mereka pulang kantor atau pulang dari kegiatan karena Riani tidak bekerja kantoran tak ada yang mencari Satrio. Itu yang membuat Tria semakin terjerumus di dalam dekap hangat keluarga Gendis!

__ADS_1


Tria benar-benar kecanduan masuk dalam keluarga itu, karena di sana mereka semua saling mengingatkan, saling menegur, saling memarahi. Marah bukan karena mereka benci, tapi karena mereka sangat sayang.


__ADS_2