
Gendis memandangi Tria tajam. Dia lihat ada gurat sedih dan lelah di wajah belia itu.
“Ibu inget nggak waktu minggu lalu acara di peternakan aku? Mama aku kan pulang duluan karena ada tamu.” Tria mencoba mengingatkan Gendis pada kejadian minggu lalu.
“Iya, kenapa?” kata Gendis.
“Tamunya itu polisi Bu,” kata Tria.
“Ada apa Mbak?” tanyaTimah lebih dulu dia tak sabaran.
“Kakak aku ditangkap, dia ternyata pengedar narkoba,” ucap Tria lirih. Timah menutup mulutnya dengan tangan. Dia tak percaya mendengar berita itu.
“Sebelumnya sudah dua kali dia ditangkap karena kasus penggunaan narkoba. Tapi waktu itu setiap ditangkap ada seorang laki-laki yang mengaku pamannya yang membebaskannya.”
__ADS_1
“Minggu lalu itu papa dan mama langsung ke kantor polisi untuk mengurus semuanya. Tapi walau dengan bantuan pengacara beken seperti paman Gultom, kakak enggak bisa dibebaskan. Karena dia bukan hanya pemakai.”
“Dari situ papa dan mama baru tahu ternyata kakak aku itu sugar baby buat seorang pengusaha. Awalnya kakak adalah pengguna, terus saat dia butuh barang, dia nggak punya uang. Temannya menganjurkan dia menjadi sugar baby agar tak pernah kekurangan uang. Jadi sejak 3 tahun lalu itulah kakak jadi piaraan seorang pengusaha.”
“Kalau soal piaraan pengusaha atau sugar baby itu, aku sudah tahu. Karena aku pernah mergokin kakak melakukan aborsi di sebuah rumah sakit. Waktu itu aku lagi nengok ibunya teman yang sakit. Aku masih SMP saat itu. Aku lihat banget kakak habis aborsi tapi aku nggak tahu kalau dia terlibat narkoba.”
“Yang tahu bahwa kakak terlibat narkoba sampai ditangkap itu adalah adikku Satrio.”
“Selama ini aku dan Satrio memang sering membantah dalam artian hanya membantahkan kata-kata Bu. Aku sering melawan perintah mama kalau dia memberi perintah yang nggak tepat. Atau kalau mama memuja mbak Eka. Mama memang selalu membela Mbak Eka walau tahu mbak Eka salah.”
“Aku nggak tahu kenapa sejak kecil aku dan Satrio itu dibedakan oleh mama dan papa. Mereka lebih menyukai Mbak Eka. Kami adalah nomor 2 buat mereka.”
“Mereka selalu memuja-muja mbak Eka yang terlalu manis, nggak pernah melawan, nggak pernah minta uang lebih. Kemarin Satrio sampai bilang ya mbak Eka nggak butuh uang lebih dari mama dan papa, karena dia sudah dapat dari sugar daddy-nya. Itu yang Satrio bilang.”
__ADS_1
“Sekarang aku sama Satrio harus bagaimana Bu? Kami tambah dikekang. Bahkan kalau di luar jam sekolah kami benar-benar nggak boleh keluar rumah.” keluh Tria dengan berat.
“Kok sekarang bisa ke sini Mbak?” tanya Timah polos.
“Aku sudah ngancem, aku bilang aku akan melapor kepada Pak RW kalau aku dilarang bergerak ke sini atau ngurusin ternak aku. Karena ini berkaitan dengan nama baik dan reputasi mereka juga. Bila peternakan aku gagal. Karena kan yang waktu itu datang Bu lurah dan Pak RW. Jadi mama dan papa takut bila nama mereka juga ikut jelek.”
Gendis menarik napas panjang. Dia tahu banyak orang tua yang menilai sebelah mata terhadap sosok seperti Tria dan Satrio tapi memuja sosok munafik seperti Eka.
“Ibu belum bisa ngomong sekarang. Yang Ibu bisa katakan pada kamu saat ini kamu dan Satrio cooling down. Kamu nurut dulu karena mereka juga dua-duanya lagi panas. Kalau kalian ikut panas nanti tambah rame. tambah bubrah. Jadi Ibu harap kamu dan Satrio bersabar.” ucap Gendis sambil memandang wajah kuyu Tria.
“Itu dulu. Kamu dan Satrio harus tahu mengapa kalian dibedakan. Kalian cobalah tanya-tanya sama pembantu lawas atau paman dan bibi kamu atau sama eyang kamu. Tapi nanyanya juga jangan langsung to the point mengapa kalian dibedakan. Kalian harus bisa lah mancing-mancing gimana caranya,” kata Gendis. Dia kasihan pada dua anak yang jadi korban ambisi kedua orang tuanya itu.
Tria senang mendengar jawaban Gendis, memang benar yang Timah bilang tadi. Sebaiknya dia bicara dengan Gendis.
__ADS_1