BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DISANA DIA TAK BISA MENGHINDARIKU


__ADS_3

Yanto langsung tidur begitu mengetahui istrinya sudah terlelap. Fitri yang tidak bisa tidur dia mendengar keputusan suaminya yang sudah tak mau memperjuangkan dirinya lagi. Dengan jelas Fitri mendengar bahwa Yanto akan mengabulkan apa pun keinginannya asal membuat Fitri bahagia.


 Fitri ingat pesannya Heru dia harus fokus pada rumah tangganya saja tak usah memikirkan masalah Tini.


Fitri mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada ibu pengacara walaupun saat itu tengah malam. Fitri meminta agar ibu pengacara menemuinya di rumah sakit untuk masalah kasus baru.


Tini memang sudah terlalu kelewatan. Sudah diblokir dengan 5 nomor dia masih tetap datang ke bengkel. Niatnya memang sudah tidak benar. Seharusnya begitu diblokir dia tahu Yanto tidak ingin berhubungan sama sekali dengan dirinya. Bahkan sudah dibentak di rumah buleknya dia tetap menghampiri Yanto. Searusnya saat dibentak dia tahu Yanto benar-benar tidak mau berhubungan dengan dia.


Seharusnya harga dirinya terinjak karena sudah dibentak seperti itu. Tapi dasar ndablek dia tetap aja menghampiri Yanto membuat kesalahpahaman makin meruncing.


Fitri tidak tahu nanti dakwaan apa yang akan diberikan untuk Tini. Itu biar urusan pengacara saja. Fitri hanya ingin fokus pada suami dan anak-anaknya.


Seperti kemarin Gendis datang saat waktunya salat subuh. Dia salat subuh di ruang rawatnya Fitri.


Ketika Fitri bangun Yanto sudah tidak ada di ruangan.


‘Kamu benar-benar menjauhiku Pa.’ kata Fitri dalam hatinya. Kembali dia bersedih.


“Ibu sudah lepas infus ya Bu, besok Ibu boleh pulang,” kata dokter yang melakukan pemeriksaan pagi hari ini.

__ADS_1


“Semua kondisi Ibu sudah mulai normal tak ada lagi yang mengharuskan Ibu dirawat. Jangan hari ini pulangnya, tapi besok ya,” kata dokter.


“Baik dokter. Terima kasih,” jawab Fitri dan Gendis senang.


Fitri langsung menghubungi Suradi dan Erlina mengatakan besok boleh pulang.


Sebelumnya Fitri mencoba menghubungi ponselnya Yanto tetapi laki-laki itu tidak menjawab.


‘Mungkin dia sedang sibuk mengurus anak-anak,’ demikian Fitri menghibur dirinya sendiri. Karena ditelepon menggunakan ponselnya Gendis pun tak diangkat.


“Mas Yanto di mana Yah?” Tanya Fitri pada Suradi. Karena Yanto tak bisa dihubungi, dia menghubungi ayahnya.


“Aku yang hubungi dia Yah,” Kata Fitri.


“Aku dan ibu Gendis juga berpikir seperti itu. Karena sejak tadi aku dan ibu menghubungi dia nomornya tidak diangkat.”


“Iya dia tadi habis anak-anak sarapan langsung bawa jalan-jalan,” jawab Suradi.


“Oh ya sudah,” kata Fitri.

__ADS_1


“Ibu dan Ayah sebentar lagi berangkat ke rumah sakit. Ibu sedang menyiapkan makan siang agar tidak beli di sana. Ibu lebih suka masakan dari rumah aja katanya,” jawab Suradi.


“Iya Yah, tidak usah keburu-buru tidak apa-apa kok. Aku ditinggal sama Ibu Gendis juga tidak repot lagi, karena sudah dibuka infusku.”


“Tidak, tidak ada yang repot. Ayah akan datang ke sana sehabis ibu siap bekal untuk makan siang kami,” kata Suradi.


Walau bagaimana pun dia tak ingin anaknya semakin sedih bila orang tuanya tidak datang menemani, padahal saat ini suaminya menjauh.


Suradi menyadari itu. Jadi dia yang harus menemani anak tunggalnya.


“Aku besok sudah boleh pulang Yah,” kata Fitri.


“Kamu besok mau langsung pulang ke rumah desa atau tetap di rumah kota?” tanya Suradi.


“Aku pengennya langsung pulang ke rumah desa aja Yah.” jawab Fitri pasti.


“Oke kalau begitu. Nanti Ayah bilang ke Yanto besok kalian mau langsung pulang ke rumah desa,” jelas Suradi.


“Iya Yah kalau di rumah desa Mas Yanto tidak bisa menghindari aku lebih jauh kalau di rumah kota selain besar juga ada ayah dan ibu jadi dia ada alasan meninggalkan aku.” jelas Fitri jujur.

__ADS_1


“Ayah mengerti,” kata Suradi.


__ADS_2