
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sepanjang perjalanan dari Bogor menuju Solo Fitri hanya diam. Dia tak menyangka nasib pernikahannya seperti ini. Dina maupun Gendis yang duduk di sebelah nya berkali-kali mengusap lengan Fitri seakan mengatakan sabar.
Suradi dan Erlina duduk di jok tengah driver di depan sendirian.
“Sepertinya ini ada salah paham kalau dengar ceritamu tadi,” kata Suradi.
Dina dan Fitri memang sudah menceritakan apa yang mereka dengar saat di dalam bus mau pun saat semua kejadiannya. Tak ada yang kurang atau lebih. Semua mereka ungkap barusan.
“Maksud Ayah bagaimana?” tanya Fitri bingung dengan kata salah paham yang Suradi katakan.
“Kalau dia tak pernah menggauli, buat apa dia menikah lagi?” kata Suradi.
“Ayah yakin itu jebakan dan tekanan. dan Yanto mungkin punya alasan mengapa menerima jebakan. Mungkin dia takut kamu terluka. Ayah bukan membela karena sama-sama laki-laki, tapi mengingat karakter Yanto, Ayah sangat tahu dia tak ingin kamu terluka bila ada perempuan yang langsung mendatangi kamu dan mengatakan dia hamil anaknya Yanto itu yang Ayah tangkap dari cerita kalian tadi.”
“Enggak bisa. Apa pun namanya, itu perselingkuhan,” Erlina tak ingin anaknya terluka.
__ADS_1
“Tapi aku dengar sendiri berkali-kali Yanto itu bilang dia tak pernah suka pada istrinya tersebut. Bahkan dia tak mau ngasih belanja. Yanto hanya bayar uang kontrakan karena harus tanggung jawab dan belanja sekali-kali aja,” kata Dina.
“Aku juga tentu tak akan membela Yanto, terlebih yang terluka adalah adikku,” kata Dina lagi.
“Tapi itu yang aku dengar, mungkin bisa buat pertimbangan. Kita belum dengar apa pun dari Yanto karena kita langsung lihat dia ada disana dengan perempuan yang mengaku sedang hamil anaknya dan juga mengaku sebagai istrinya.”
Gendis lebih diam dari Fitri karena anaknya lah yang berkelakuan buruk. Sejak berangkat ke Bogor saja ke dia sudah diam tak berkata apa pun bila tidak ditanya oleh Erlina.
Erlina menyadari kalau Gendis merasa terpojok.
“Mbak Gendis, kita tetap bersaudara. Apa pun yang terjadi kita tetap menjalin silaturahim. Timah dan Herry biar tetap menjadi anak kami walau Yanto sudah bercerai dengan Fitri. Jangan putus persaudaraan kita hanya karena masalah ini.”
“Matur nuwun, tapi tak perlu merepotkan,” kata Gendis.
“Tak ada yang repot, kita memang bersaudara itu sudah jalan Tuhan bahwa Herry dan Timah bertemu kami yang hanya punya satu anak. Biarkan Herry dan Timah tetap menjadi adik-adiknya Fitri sampai kapan pun,” Suradi menegaskan keputusan istrinya dia dukung.
“Matur nuwun,” hanya itu yang bisa Gendis ucapkan. Tak ada kata lain, dia sungguh sangat terpukul dengan kenyataan Yanto punya istri di luar Fitri.
Gendis yakin bahwa bayi tersebut bukan bayinya Yanto mengingat Fitri dan Yanto sampai 3 tahun belum ada anak sama sekali. Fitri dan Yanto sudah periksa dan hasilnya Yanto lah yang lemah jadi Gendis yakin itu bukan cucunya.
__ADS_1
“Lalu bagaimana niatmu selanjutnya?” tanya Suradi pada Fitri.
“Aku akan kembali ke Solo Yah. Aku akan resign. Mungkin lusa baru aku angkat barang dari rumah Jogja,” kata Fitri membulatkan hati. Tak mungkin dia tinggal di rumah Jogja setelah jadi janda.
“Ya sudah kamu sekarang kembali ke Solo aja dulu. 3 hari lagi baru kita angkat barang semua dari rumahmu, sekalian kamu pamit pada ibu pemilik kontrakan,” kata Suradi.
“Nanti semua dibawa langsung pakai truk aja sehingga tidak membebani angkat-angkat dua kali, Ayah akan bawa 3 orang pegawai,” tegas Suradi.
“Nanti barang-barang aku taruh di rumah Ibu ya Bu,” kata Fitri pada Gendis.
“Barang yang aku bawa ke rumahku hanya yang milikku. Barang Mas Yanto dan barang-barang rumah tangga kami semuanya biar dipakai di rumah Ibu aja. di sana toh lebih berguna daripada aku bawa ke rumahku,” kata Fitri pada Gendis.
“Terserah Nduk. Ibu pasrah,” jawab Gendis lemah. Mendengar itu Fitri langsung memeluk ibu mertuanya. Fitri tahu ibu mertuanya sangat terluka dengan kelakuan Yanto.
Gendis juga tak bisa menolak bahwa rumahnya tak cukup karena sejak Yanto menikah dengan Fitri rumahnya sudah direnovasi. Rumahnya sudah bertambah satu kamar yaitu kamarnya Yanto dan Fitri. Juga sudah di perbesar dan dibangun dengan kokoh tapi tetap belum ada barang elektronik. Memang waktu itu Yanto dan Fitri menomor satu kan membangun dulu bukan mengisi barang. Kalau rumahnya sudah kokoh baru mereka kasih barang elektronik dan sekarang barang-barang itu akan datang dari rumah Jogja.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok
__ADS_1