BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
REQUEST BU PENGACARA


__ADS_3

“Nama perempuan yang naksir sama Herry itu Fitriani,”  kata Yanto kepada istrinya.


“Dia kelas 2 IPS, anaknya memang supel. Tidak terlalu cantik, dia cukup kaya, bapaknya pejabat di departemen keuangan kota Solo,” lapor Yanto kepada istrinya.


“Nggak sengaja, tapi namanya gabungan aku dan istrimu ya,” kata Fitri.


“Jangan pernah sebut nama dia. Dia bukan istriku, dia perempuan abal-abal,” kata Yanto kesal. Dia ingat bahkan anak dan suaminya saja rela dia korbankan demi lelaki lain dan demi uang.


“Diakui atau tidak, walau tak tercantum di negara. Dia pernah jadi istri sirimu Pa.”


“Please jangan pernah sebut dia lagi. Itu adalah kebodohanku yang bikin keputusan sendiri. Kalau saja waktu itu didiskusikan tentu nggak akan seperti itu,” keluh Yanto.


“Ya sudah, lanjut infonya,” Fitri tak tega melihat suaminya sangat sedih dan marah bila ingat jebakan yang pernah membuat dia terperangkap.


Fitri menyerahkan teh madu hangat pada suaminya. Mereka duduk di teras belakang yang mengarah ke kebun aneka sayuran milik Gendis dan Fitri. Sejak ada Fitri, jenis sayuran yang Gendis tanam jadi beragam karena Fitri banyak membeli bibit secara online.

__ADS_1


“Awalnya dia itu cuma ngobrol sama teman-temannya bilang suka sama anak baru adik kelasnya saat masih orientasi penerimaan siswa baru dulu.”


“Semua juga banyak yang mengidolakan Herry. Berawal dari sanalah dia terus mendekati Herry dan seperti terobsesi agar bisa dekat. Itu aja sih yang aku tahu soal Tria. Anak itu dipanggil Tria.”


“Ternyata sebelum lulus Fabianto atau Totok suka sama Tria. Saat dia ke sekolahan untuk menyambangi pujaan hatinya dan mendengar bahwa Tria pacaran dengan Herry, dia marah lalu dia mencari latar belakang Herry sehingga ketahuan lah Herry itu punya usaha tambak sendiri. Baru dia mulai pasang strategi buat menghabisi usaha Herry.


“Kalau kita sudah dapat seperti itu, kita tinggal cari bukti buat kelakuannya dia Mas,” kata Fitri.


“Bagaimana kalau kita minta tolong Bu Nurbaiti aja suruh satu orang stafnya yang menangani kasus itu, sehingga kita tidak ikut campur tangan. Bukan Mas nggak mau, tapi nanti kita jadi tendensius membela adik kita yang belum tentu benar atau salah. Jadi lebih baik biar ahli hukum aja yang menangani,” usul Yanto.


Fitri langsung menghubungi Bu Nurbaiti, dia memberitahu tentang kasus tambaknya Herry juga laporan polisi sudah ada begitu pun ada laporan ke kantor desa.


“Kalau lusa bisa ketemu nggak Mbak Fitri?” kata Bu Nurbaiti.


“Bisa Ibu, di mana?” kata Fitri. Dia juga ingin kasus ini segera tuntas.

__ADS_1


“Untuk lusa bertemunya di bengkel aja bagaimana? Nanti saya bawa staff yang akan menangani kasus itu, karena memang kalau bukan rumah tangga bukan saya yang langsung pegang. Nanti biar kalau bisa juga ada Pak Yanto jadinya jelas semuanya,” pinta bu pengacara.


“Pak Yanto punya data diri Mbak Tria dan mas Totok tidak ya?” tanya bu Nur.


“Kalau Mbak Tria nya ada, karena kan masih satu sekolah tap kalau antoknya kami belum dapat kata Yanto karena kebetulan teleponnya itu di speaker sehingga Fitri maupun Yanto bisa langsung bicara dengan Bu Nurbaiti.


“Oke kalau begitu, kita ketemu lusa sekitar jam 11.00 ya Mbak Fitri,” ujar bu Nurbaeti.


“Baik nanti kita makan siang bersama. Saya akan bawakan pepes patin dan dari sini,” kata Fitri.


“Wah asyyik tuh. Tapi saya penasaran sama patin bakarnya masakan mas Yanto. Saya dengar dari Bu Erlina masakannya mas Yanto maknyuuuzz,” goda bu Nurbaeti.


Yanto langsung tertawa terbahak rupanya ibu mertuanya suka cerita-cerita kepada bu Nurbaiti juga.


“Oke siap, akan saya bawakan,” kata Yanto.

__ADS_1


“Nah gitu dong, bikin saya jadi semangat,” kata Bu Nurbaiti.


__ADS_2