
“Kok kamu nggak nonton Andre tanding futsal?” pancing Herry.
“Kak Andre nggak ngebolehin aku ikut di kegiatannya dia,” jawab Tria santai.
“Lho memang kenapa, kok nggak boleh ikut?” Herry jadi penasaran.
“Kak Andre bilang nanti banyak temennya yang naksir atau godain aku. Dia nggak senang kalau itu terjadi,” jawab Tria jujur.
‘Wah rupanya Andre itu cemburuan ya? Wajar sih namanya sama pacar,’ batin Herry.
‘Kalau Tria jadi pacarku, ya aku pasti juga cemburu lah. Walau tak sampai melarang seperti itu. Cemburu itu pasti wajar kata orang yang pacaran,’ pikir Herry lagi.
‘Berarti aku tidak boleh memperlihatkan rasa suka aku di depan Andre. Nanti bahaya. Tria malah nggak boleh ikut kegiatan di tim lagi, atau aku yang harus ditendang dari tim. Wah aku akan rugi kalau seperti itu. Rugi karena tidak bisa diskusi dengan tim, juga rugi karena tak akan bisa dekat lagi dengan Tria.’
__ADS_1
‘Pokoknya aku harus jauh-jauh dari Andre.’ batin Herry lagi.
“Kamu nggak suka ya asinannya?” tanya Tria melihat Herry cuma minta sedikit sayuran untuk dia makan.
“Aku suka sayur kok. Nggak seperti mas Yanto yang susah makan sayur sebelum menikah dengan Mbak Fitri. Hanya karena ini bumbu asinannya itu kesukaanku bila dimakan dengan kerupuk mie, maka aku lebih mementingkan kerupuk mienya. Jangan salah, bukan aku tidak suka sayuran asinannya tapi ada yang lebih aku suka,” jelas Herry. Dia tak ingin Tria salah duga akan hasil masakannya siang ini.
“Aku malah tadi nggak berpikir tentang kerupuk mie ini. Begitu Timah telepon mau ke sini baru aku bilang titip itu. Karena sudah aku tulis di list belanjaan mas Pujo nggak ada. Ya udah aku pikir pakai kerupuk biasa juga nggak apa-apa. Begitu Tria bilang ya kebenaran kan, pucuk dicinta ulam tiba,” kata Tria yang tadi tak terlalu berharap tentang kerupuk mie pelengkap asinan sayur yang dia buat.
“Iya Timah juga tadi bilang kebetulan dia dapat yang sudah digoreng biasanya kan ada banyak yang belum digoreng,” jelas Herry.
“Aku bahkan tadi beli dua bungkus lagi untuk di rumah. Nanti aku bikinkan bumbu kacang dan rucuh gulanya seperti ini, untuk aku makan di rumah,” kata Herry.
“Bawa saja bumbu asinan dan rucuh gula dari sini,” saran Tria.
__ADS_1
“Nggak apa-apa kalau yang di sini nanti kita bagi saja. Cuma memang aku sudah beli dua bungkus juga tadi untuk yang di rumah. Ditambah seperempat yang mentahnya,” jawab Herry yang memang penghobi makan aneka jenis kerupuk.
“Kamu suka banget ya sama kerupuk?”
“Iya aku hobi banget kerupuk. Bahkan cemilanku juga rata-rata ya seperti kerupuk-kerupuk ini. Keripik kentang, keripik singkong, keripik tempe, pokoknya seperti itulah. Dan aku kalau belajar atau baca sesuatu atau apa sejak dulu memang ngemil keripik-kripik seperti ini,” kata Herry menceritakan kebiasaannya.
“Serius?” tanya Tria dengan mata terbelalak tak percaya.
“Bener lah serius. Memangnya kenapa? Kamu nggak percaya?” tanya Herry lagi.
“Itu sama persis dengan aku. Aku kalau baca novel atau belajar atau apa pun ya sambil ngemil keripik-kripik gini. Apa saja pokoknya jenis begini,” ulas Tria jujur.
“Wah kok kita bisa samaan gitu ya? kata Herry lagi.
__ADS_1
“Itu tandanya KALIAN JODOH,” jawab seseorang yang baru tiba di kandang membuat Herry dan Tria menoleh pada sosok itu.