
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kita cari lokasinya jangan yang terlalu jauh dari rumah Mas. Nanti kamu terlalu capek pulang perginya,” saran Fitri pada suaminya.
“Iya sayank. Dan Nanti kalau kerja Papa naik motor aja ya Yank, enggak usah naik mobilmu,” ucap Yanto.
“Papa mau beli motor?” tanya Fitri.
“Iya, nanti dari dana tabungan itu kita juga ambil buat motor operasional. Karena kayaknya berat bawa mobil tiap hari pulang pergi cuma buat sendirian. Lebih praktis pakai motor aja, belanja peralatan pun lebih mudah pakai motor kalau untuk alat-alat mobil karena banyak toko peralatan yang susah cari parkir mobil, lebih mudah bila naik motor saja.” jelas Yanto.
“Nek ( bila atau kalau ) memang seperti itu kondisinya, ya monggo. Papa aja yang atur pos-posnya,” Fitri tidak mau memberatkan suaminya. Dia memberi izin penuh pada Yanto untuk mengelola usah mereka.
“Kami akan diskusikan dulu ya Bu, karena jujur saja kami sudah melihat lokasi lain. Besok kami kabari kami mau ambil atau tidak lokasi ini. Kalau ada yang sudah lebih dulu mau menggunakan silakan aja,” kata Fitri pada semua pemilik lokasi yang mereka datangi.
“Injih, tidak apa-apa, namanya kerjasama itu kan jodoh,” begitu jawaban yang Fitri dan Yanto terima dari pemilik tempat usaha.
Memang ada empat tempat yang Fitri survei. Nanti dia dan Yanto akan diskusi dulu mana yang akan dipilih sebagai wadah mereka mencari rejeki untuk selanjutnya. Sama seperti ketika mencari rumah di Jogja mereka juga muter-muter dulu untuk mendapat pilihan yang tepat.
“Ayo pulang dulu Pa,” ajak Fitri.
“Makan siang dulu ya Yank,” pinta Yanto.
“Mau makan di mana?” tanya Fitri. Dia tentu tak menolak diajak makan diluar oleh Yanto.
“Di warung makan Padang aja Ya? Mas kepengen gule, entah ikan mas entah kepala kakap,” ucap Yanto.
__ADS_1
“Ayo, siapa takut,” balas Fitri, dia jadi kepengen sambal ijo begitu Yanto menyebut rumah makan Padang sebagai tempat yang akan mereka kunjungi untuk makan siang mereka kali ini.
“Bambang?” sapa seorang perempuan cantik pada Yanto yang sedang menunggu kembalian di kasir.
“Hai, apa kabar mbak Arum?” tanya Yanto ramah seperti biasa.
“Alhamdulillah khabar baik, kamu sekarang tinggal di mana?” tanya Harum yang biasa dipanggil Arum.
“Saya tidak pernah pindah Mbak, masih di tempat kost lama kok. Tidak pernah pindah,” Yanto menjelaskan tak pernah pindah dari rumah kost Fitri.
“Aku pernah tanya ke situ, katanya kamu tinggal di Jogja,” jawab Arum.
“Ada apa tanya saya ke rumah?” Tanya Yanto, dia berpikir tak pernah punya sangkutan hutang pada gadis ini.
“Oh ya, saya memang 3 tahun kemarin tinggal di Jogja bersama istri saya,” jawab Yanto.
“Kamu sudah menikah?” Arum tak percaya kalau Bambang yang ingin dia kejar malah sudah menikah lama. Kalau dia sudah tinggal di Jogja 3 tahun, artinya sudah lama menikah kan? Padahal Arum berpikir untuk seorang pria usia Bambang pasti masih single.
“Sudah, itu istri saya,” kata Bambang sambil menunjuk Fitri yang baru kembali dari toilet.
“Kamu menikah dengan Mbak Fitri?” tanya Arum tak percaya. Dualu dia tahu bambang pernah jadi sopirnya Fitri saat Bambang masih kelas 3 SMK.
“Ya, saya menikah dengan dia. Memang waktu pas kamu nyari saya enggak di kasih tahu?”
__ADS_1
“Enggak tuh,” jawab Arum kecewa.
“Kalau nanya langsung ke orang rumah pasti di kasih tahu lah,” kata Bambang.
“Yank, ini lho Mbak Arum. Dulu pernah kost di rumah.” Yanto tak ingin Fitri cemburu, emosi ibu hamil sedang tak stabil. Tidak hamil saja Fitri cemburuan, apalagi saat ini. Saat dia tak pede dengan bentuk tubuhnya yang dia bilang seperti gentong karena sangat gemuk.
“Halo Mbak,” kata Fitri. Sejak dulu Fitri tidak terlalu kenal dengan anak kost walau semua perempuan dan sering terima pembayaran cash atau bukti transfer. Tapi Fitri memang tidak dekat dengan anak-anak kost. Beda dengan Bambang yang memang sering membantu anak kost jadi tahu.
“Dia katanya pernah cari aku di rumah pas kita sudah tinggal di Jogja.”
“Iya kami tinggal di Jogja 3 tahun. Ada apa cari mas Bambang? Ayo main ke rumah,” ajak Fitri dengan lembut padahal sudah ingin ngamuk mendengar ada yang cari Bambang.
“Oh iya Mbak, terima kasih, nanti kapan-kapan aku main,” balas Arum.
“Kami duluan ya, kami sudah selesai makan,” Fitri pamit sambil menggandeng suaminya.
‘*Wah ternyata dia sudah menikah dan Mbak putrinya sedang hamil, pupus sudah harapanku*,’ kata Arum sedikit sedih.
‘*Padahal sejak dulu aku menyukainya, kenapa aku enggak ngomong aja. Tapi waktu itu memang dia lebih mudah 1 tahun dari aku sih, jadi aku pikir tunggu sampai aku selesai kuliah dulu. Ternyata malah sudah keduluan Mbak Fitri*.’
‘*Eh Mbak Putri bukan lebih tua 3 tahun ya? Koq mau ya Mbak Fitri sama dia? Kalau mereka sudah lama nikah, itu hamil anak ke berapa? Apa jangan-jangan sejak dulu mereka sudah berhubungan sebagai suami istri sebelum menikah*?’ Arum malah menduga semaunya sendiri.
Kira-kira Fitri manyun enggak ya di mobil tahu kalau Yanto punya penggemar yang samapi nyariin dia saat mereka sudah tinggal di Jogja dulu?
Mas Yanto juga sih, kenapa lapor kalau Arum nyariin dia.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REGRETS yok.
__ADS_1