
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Fitri menyuruh Yanto keliling dengan odong-odong berlampu bersama kedua adiknya.
“Kamu enggak ikut Yank?” tanya Yanto pada istrinya.
“Enggak Mas, aku nemani ibu aja di sini sambil makan sate ayam,” jawab Fitri yang sudah membeli 5 wedang ronde, juga 2 porsi sate ayam.
“Nanti kalian mau jagung bakar?” tanya Fitri pada Timah dan Herry.
“*Opo wae* Mbak,” Jawab Timah.
Fitri lalu membelikan mereka jagung bakar dan sosis bakar sehingga sehabis berputar dengan odong-odong mereka tinggal makan karena makanan yang dipesan Fitri nanti sudah datang.
__ADS_1
“Bagaimana pekerjaanmu Nduk?” tanya Gendis pada menantunya. Sekarang Gendis sudah bisa menggunakan bahasa yang biasa sejak Fitri resmi jadi menantunya. Tak seperti sebelumnya, Gendis selalu menggunakan bahasa jawa untuk orang yang lebih di hormati.
“Lancar Bu. Alhamdulillah,” jawab Fitri.
“Kalau mas-mu narik kamu sendirian di rumah, apa kamu pulang ke Solo?” tanya Gendis.
“Enggak Bu. Aku sendirian di rumah. Enggak apa-apa kok,” jawab Fitri lagi. Untung dia bukan gadis kaya yang mbozzi sehingga hidup mandiri tak jadi hambatan untuk dirinya.
“Kan kami sudah sepakat nabung untuk mewujudkan cita-citanya Mas Yanto yaitu membuka showroom. Jadi aku harus bersabar sampai uangnya terkumpul semua baru kami buka showroom. Sabar aja Bu. Enggak apa-apa kok, enggak akan selamanya dia jadi sopir bus antar kota. Usaha itu harus terwujud, karena Mas Yanto sudah angan-angan kan sejak masih SMK dulu,” kata Fitri tanpa ragu.
“Ibu bersyukur Yanto mempunyai istri seperti kamu yang tidak banyak menuntut dan mengerti semua apa yang diinginkan oleh Yanto,” ucap Gendis dengan jujur.
__ADS_1
“Kami memang menikah karena dipaksa ayah saat ayah sedang kritis Bu. Tapi kami saling mencintai sejak lama jadi pernikahan kami bukan terpaksa Bu. Tidak sama sekali. Aku mencintainya Mas Yanto sejak dia masih sekolah, begitu pun mas Yanto mencintai aku, tapi tidak berani mengatakannya karena aku anak pemilik kost yang kaya raya dan anak tunggal,” jelas Fitri.
“Kalau laki-laki lain dicintai oleh perempuan kaya anak tunggal pasti akan langsung menerima Bu, tapi tidak dengan Mas Yanto itu yang membuat aku makin sayang sama dia,” kata Fitri jujur pada ibu mertuanya.
“Buat kami memang materi itu penting nak, tetapi kebahagiaan lebih penting. Buat apa dia mencintai perempuan kaya bila perempuan itu akan menderita bila tak sanggup jadi istrinya?” jawab Gendis.
Timah, Herry dan ibu malam itu mendapat banyak pengalaman dari kunjungan ke alun-alun Kidul terutama untuk Herry dan Timah tentunya. Mereka bisa bercerita di desa nanti. Walau tinggal di Solo tapi tetap aja mereka tinggal di daerah desanya bukan di kota, sehingga perjalanan mereka malam ini menjadi momen yang sangat berarti bagi mereka berdua.
Selain naik odong-odong, tadi Herry dan Timah juga naik sepeda tandem yang berdua. Yanto membiarkan kedua adiknya puas.
Lalu makanannya juga mereka pesan semaunya dibiarkan oleh Yanto karena Fitri pasti akan ngomel bila adik-adiknya dilarang pesan. Selama itu semua dimakan Yanto tak keberatan.
Sampai larut malam mereka di alun-alun. Lokasi merakyat yang murah meriah. Fitri dan Yanto membiarkan adik-adiknya puas menikmati semuanya tanpa keharusan untuk segera pulang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok
__ADS_1