BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SEPERTI RAPAT PERUSAHAAN


__ADS_3

Setelah makan siang Fitri langsung kembali masuk kamar, dia harus banyak istirahat dan memang obatnya membuat dia ngantuk. Fitri tidur sambil memeluk Daffa karena Daanish ada di ujung ranjang dekat tembok.


Sementara Yanto langsung sibuk dengan daging cincang dia beri tambahan bumbu garam, merica, bawang putih bubuk, serta cincangan bawang bombay, lalu dia bentuk sesuai dengan ukuran lebar roti dengan ketebalan 1 cm.


“Wah cukup banyak juga jadinya,” kata Yanto. Ternyata olahannya menjadi 23 potong isi untuk burger.


Yanto merasa senang karena besok adik-adiknya bisa bawa burger ke sekolah sesuai dengan selera mereka sendiri karena mereka akan meracik sendiri tak perlu diraciki.


Suradi dan Erlina belum pulang ke rumah mereka. Mereka berniat habis magrib baru pulang ke rumah mereka.


“Mas ini betul enggak?” kata Herry


“Kamu bilang betul atau enggak sudah di rumah. Seharusnya saat di supermarket kamu bilang,” kata Yanto. Herry membawa dua bungkus roti bulat untuk burger dan dua bungkus roti panjang untuk hotdog.


“Tadi ada yang kecil Mas, tapi aku takutnya salah. Jadi aku ngambil yang ini aja buat roti burgernya,” jelas Herry.

__ADS_1


“Kalau kamu beli yang kecil, Mas sudah bikin isinya untuk yang besar. Enggak pas kan isi lebih besar dari rotinya,” jawab Yanto dengan tersenyum.


“Iya aku lupa enggak nanya dulu. Pokoknya aku langsung beli aja.”


“Margarinnya bener kan?”


“Kalau margarin ya bener lah,” jawab Yanto.


“Besok kamu dan Timah bisa bikin sendiri untuk bekal sarapan ya. Eh bukan bekal sarapan maksudnya bekal sekolah,” kata Yanto.


“Enggak tahu Mas lagi kepengen aja makan burger. Iya besok-besok Mas bikin isi yang kotak aja, jadi kita enggak repot ya cari roti bulatnya,” kata Yanto. Dia setuju dengan pendapatnya Herry.


“Isinya bisa enggak pakai daging kok Mas. Pakai isi ayam juga bisa Mas,” usul Herry.


“Nah iya tuh Mas. Daripada daging ayamnya dimasaknya gitu-gitu aja kata Timah.

__ADS_1


“Oke Mas setuju dengan sarannya,” jawab Yanto.


“Lagi rapat apa sih kayak rapat perusahaan aja ?” kata ayah Suradi.


“Ini lho Yah adik-adik request besok-besok isinya dibikin kotak. Jadi mereka enggak perlu cari roti burgernya,” kata Yanto.


“Ayah setuju banget tuh kalau pakai roti tawar kan tipis. Jadi mulut Ayah enggak terlalu lebar mangapnya,” tentu saja perkataan Suradi membuat Timah dan Herry tertawa terbahak mendengar ayah mereka seperti itu.


“Enggak tahu lagi kepengin aja ya sama burger. Biasanya juga enggak seperti ini. Tapi langsung adik-adik punya respon tersendiri. Ya sudah besok aku pulang dari bengkel akan langsung beli daging cincang lagi untuk bikin isian roti biar mereka bawa sekolahnya enak.”


“Iya Yah aku senang kalau isian rotinya daging tebal bikin kenyang. Kalau keinginanku sih maunya bawa nasi biar kenyang,” kata Herry.


“Tapi saat istirahat banyak tugas OSIS ke sana ke sini, sehingga tidak bisa makan dengan tenang. Paling aku hanya makan roti aja di sela kegiatan aku,” kata Herry.


“Yang penting perutmu jangan kosong dan tak perlu jajan. Karena Mbak Fitri dari zaman baheula walaupun tak kekurangan uang juga tidak pernah jajan. Dia lebih suka bawa bekal dari rumah. Dan ibu juga lebih suka membawakan karena terjamin kebersihan dan keamanannya,” kata Suradi.

__ADS_1


__ADS_2