
“Iya Bu, ada apa ya?” tanya Fitri. Dia dan Yanto baru saja selesai kontrol dan saat ini sedang berada di apotek untuk menunggu obat yang dokter berikan tadi.
“Ini Mbak Tininya minta ketemu,” kata bu pengacara yang menghubungi Fitri pagi menjelang siang.
“Mau apa ya, Bu? ‘Kan sudah saya bilang nggak usah ketemu saya sampai kapan pun. Saya aja males ngelihat muka dia. Dia mau ketemunya sama saya atau sama suami saya?” cecar Fitri. Saat itu Yanto baru kembali duduk disisi istrinya, dia baru saja meletakkan resep di petugas penerima resep.
“Katanya sih dia ingin bertemu dengan mbak Fitrinya,” jelas bu pengacara.
__ADS_1
“Kalau dengan saya keputusannya sudah bulat Bu. Tak akan pernah saya mencabut ucapan saya yaitu tak ingin bertemu dengannya sama sekali. Tapi kalau urusan dengan suami saya silakan aja. Kali aja dia masih pengen saling peluk atau saling usap. Kalau buat saya tidak mau Bu. Sama sekali tidak mau,” kata Fitri dengan tegas. Yanto yang berada di sebelah Fitri tahu bahwa pengacaranya menghubungi karena Tini ingin bertemu.
“Ibu silakan saja bicara sama suami saya. Mungkin dia mau bertemu. Saya sama sekali tidak melarang dia bertemu. Biarkan aja kalau memang mau melepas rindu atau apa pun silakan saja. Saya tak bisa menutup hati seseorang.” Fitri langsung memberikan ponselnya pada Yanto.
“Iya bagaimana Bu?” kata Yanto dengan sopan.
“Ini Bu Tininya kepengen ketemu. Sebenarnya kepengen ketemunya dengan Mbak Fitri tapi dia sudah sejak awal bilang tak ingin bertemu dengan Tini sama sekali,” jelas bu Nurbaeti.
__ADS_1
“Tapi dia tetap aja ngotot sampai datang ke bengkel saya membuat istri saya salah paham. Sampai istri saya kecelakaan. Mohon maaf ya Bu maaf, bukan saya mendoakan. Kalau saat itu istri saya nggak selamat dia akan saya tuntut hukum mati juga Bu. Karena kelakuan dia bikin istri saya celaka. Jadi kalau saya suruh bertemu dengan dia, tidak bisa sama sekali Bu. Tidak akan pernah saya tidak bisa ngebayangin kalau istri saya sakit lebih parah bagaimana dengan anak-anak kami dan saya?”
“Apa pun alasannya dan berapa pun dia mau bayar saya untuk bertemu, itu tidak akan pernah saya kabulkan. Silakan aja dia minta bantu dengan pengadilan untuk bertemu dengan saya. Kalau pengadilan yang minta dia bertemu dengan saya, saya akan kabulkan dengan catatan bertemu di ruang meeting dengan minimal 20 orang saksi. Saya ingin tahu apa yang ingin dia bicarakan dengan saya dan istri saya tapi minimal dengan 20 orang saksi,” kata Yanto lebih keras dari Fitri.
“Baik Pak Yanto, akan saya beritahu permintaan Pak Yanto dan Bu Fitri,” kata pengacara.
Tini yang saat itu berada di depannya pengacara kaget mendengar keputusan Yanto dan Fitri seperti itu. Dia sadar memang kesalahannya adalah penasaran mengapa ingin bertemu Yanto dan bicara walau sudah dilarang oleh Yanto untuk bertemu ketika di tempat adiknya. Juga sejak Bambang memblokir nomor ponselnya. Terlebih sekarang Yanto minta dia bicara di depan 20 orang saksi. Padahal yang ingin dia bicarakan adalah permintaan maaf secara personal di depan Fitri.
__ADS_1
Rencananya dia akan mengakui bahwa dia tidak punya hubungan apa pun dengan Yanto. Tapi kalau harus bicara dengan 20 orang saksi tentu dia tidak mau karena dia yakin Yanto pasti akan mengungkapkan pada semua orang bagaimana dia sudah diblokir dengan 5 kartu tetap aja ingin bertemu malah dia sampai mendatangi bengkel Yanto juga sampai menerobos masuk ke ruang kerja Yanto.
Tentu Tini tak punya nyali untuk bicara dengan 20 saksi. Tini juga ingat bagaimana Heru sudah mewanti-wanti kalau terjadi apa-apa dengan Fitri dia akan ikut membalas untuk mengirim tuntutan.