BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BELUM TERTARIK UNTUK BISNIS


__ADS_3

“Timah, Mas pamit dulu ya. Besok-besok Mas ke sini lagi. Sudah tahu tempatnya. Nanti kalau hari Sabtu atau Minggu aku kan nggak perlu jemput kamu ke sekolah,” ucap Satrio.


“Mas Iyok enggak suka jemput aku? Harusnya bilang saja nanti aku share lock rumah. Langsung bertemu di sini saja,” kata Timah.


“Bukan begitu maksud Mas. Kamu itu super sibuk. Untuk pertemuan kali ini saja sudah ditunda 4 kali. Kalau langsung ke sini kan bisa langsung ngobrol dengan ibu atau mbak Fitri. Tapi Mas tetap akan janjian dengan kamu di sekolah koq,” jelas Satrio. Dia tak mau Timah salah duga.


“Kalau bisa jemput kamu pulang sekolah lebih enak, jadi kita ke sininya sore,” lanjut Satrio.


“Terserah Mas saja. Nanti hubungi aku kapan mau ke sini dan kalau pun ke sininya hari Sabtu atau Minggu jangan mendadak. Takutnya pas kami pergi ke rumah kota atau kami ada di rumah ayah. Jadi nggak tepat kalau mau ke sini atau ke tambak kalau tak ada orang.”


“Iya nanti Mas kabarin,” kata Satrio. Sebenarnya dia masih betah tinggal di rumah ini. Merasakan kehangatan hubungan keluarga. Tapi tentu tak sopan bila masih main sampai lewat maghrib. Terlebih ini kunjungan pertamanya. Mereka berjalan ke da;am rumah.

__ADS_1


“Mas Yanto saya pamit dulu,” kata Satrio pada Yanto yang sedang main dengan Daanish dan Daffa.


“Enggak nunggu makan malam saja?”


“Enggak lah Mas,” jawab Satrio.


“Oh iya Mas. Kalau saran saya sih sebaiknya untuk tambak itu jangan pakai pagar kejut seperti itu. Lebih riskan walau ada di dalam pagar, bisa saja pegawai saat itu sedang basah kaki atau apa menyentuhnya tak sengaja karena terpeleset atau apa. Meski pun tegangannya rendah.”


“Bagaimana kalau pakai sensor bunyi saja seperti yang biasa dipasang di mobil. Begitu dibuka kalau saat sedang dikunci kan langsung bunyi berisik alarmnya. Itu lebih menguntungkan karena semua warga akan dengar dan pencuri akan lari terbirit-birit ketahuan.”


“Wah idemu bagus juga,” kata Gendis yang mendengarkan sarannya.

__ADS_1


“Mungkin aku bisa bikin,” jawab Yanto antusias. Dia dari sekolah teknik pasti dia bisa mencoba membuat rangkaian itu.


“Iya saran aku sih itu aja Mas. Jadi lebih pada membuat maling lari tidak ingin mencoba lagi karena pasti ketahuan oleh orang sekitarnya.”


“Iya, terima kasih nanti. Mas akan coba bikin rangkaiannya lalu kita pasang dan saat pemasangan pasti Mas akan manggil kamu.”


“Mas salam buat Mbak Fitri,” kata Satrio karena saat itu Fitri sedang ada di kamar mandi.


“Iya nanti Mas sampaikan,” jawab Yanto. Satrio pun pamit pada Gendis juga. Herry tadi sudah pergi entah ke mana. Dia tadi izin sama ibunya ada sesuatu yang harus dia kerjakan di luar.


“Jangan kapok ya Mas,” kata Timah saat mengantar Satrio di halaman depan rumahnya.

__ADS_1


“Enggak lah. Aku masih belum puas karena tujuan aku pengen membahas tentang limbah dapur. Itu kan harus berhubungan dengan Mbak Fitri dan ibu. Tadi mereka lagi sibuk, jadi aku nggak sempat tanya-tanya,” jelas Satrio.


Satrio sama sekali belum dapat ide buat bikin bisnis. Dia malah ingin jadi penyuluh lingkungan untuk pemanfaatan limbah. Baik limbah sampah menjadi pot maupun limbah dapur untuk pupuk dan segala macamnya. Saat ini hanya itu yang dia inginkan. Berguna untuk orang lain, bukan untuk orientasi bisnis.


__ADS_2