BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
HEBATNYA SUAMI DADAKANKU


__ADS_3

“Wah aku baru denger nih cerita Romi dan Yuli saat pertama jadian,” kata Tria.


“Boro-boro jadian. Sampai nikah kami nggak pernah jadian,” kata Yanto.


“Kok bisa?” tanya Satrio penasaran.


“Kami nggak pernah pacaran sama sekali. Mas tahu dia suka Mas, dia tahu Mas suka dia. Tapi kami sama sekali nggak berani mewujudkan atau menyatukan rasa suka kami. Karena status Mas saat itu sopir dan masih STM dan kost di sini, dia mahasiswi, juragannya Mas. Bagaimana Mas berani menyatakan suka? Mas tahu diri lah. Nggak bakal mungkin dapetin mbakmu ini.” ujar Yanto tanpa malu.


“Tapinya ada orang yang ngamuk-ngamuk, kalau Mas jalan sama orang lain karena beberapa kali banyak teman yang ngajak barengan naik motor atau ada anak mahasiswi di sini, anak kost di sini yang ngajak makan bakso karena Mas sudah bantu dia walaupun dia sudah bayar jasa Mas. Dulu waktu STM itu Mas mengerjakan apa pun baik perbaikan motor atau ngecat semua rumah kost pokoknya yang penting dapat uang untuk makan ibu juga sekolah adik-adik,” lanjut Yanto lagi tanpa ragu.

__ADS_1


“Wah hebat banget,” kata Satrio.


“Ya memang saat itu Mas hanya berpikir cari uang buat adik dan ibu. Saat bisa masuk kuliah dengan beasiswa pun Mas tidak ambil,” ucap Yanto.


“Kenapa Mas?” tanya Satrio penasaran.


“Kalau Mas kuliah satu pasti buang waktu, itu yang pasti. Kalau buang waktu berarti kesempatan dapat duitnya berkurang, itu yang kedua. Yang ketiga pasti keluar uang kan buat biaya kuliah? Itu akan sangat berat buat Mas. Mas berpikir dua adik ini butuh makan dan butuh uang buat sekolah. Ibu waktu itu sangat butuh buat obat rutin. Jadi Mas memilih Mas jibaku saja, fight cari uang mengenyampingkan kuliah.”


“Nanti pulang sekolah Mas akan jemput dia karena kebetulan Mas pulang lebih dulu. Dia kuliahnya cuma hari Senin sampai Kamis apa sampai Jumat entah lah pokoknya begitu. Mas lupa. Jadi seperti itulah,” ucap Yanto.

__ADS_1


“Terus bisa jadiannya bagaimana?” tanya Tria penasaran.


“Itu Mbak sudah selesai kuliah. Mas sudah selesai STM. Mas sudah mulai jadi sopir bus luar kota. Waktu itu masih Wonosobo kalau nggak salah. Wonosobo ~ Solo. Bapak gerah ( sakit ).  Bapak sakit, saat itulah bapak bilang kalian harus menikah sebelum bapak meninggal dan kami memang menikah esoknya di situ tanpa persiapan apa pun!”


“Bohong kalau tanpa persiapan apa pun,” kata Fitri.


“Menikahnya mendadak. Sore ini dikasih tahu besok pagi nikah,” kata Fitri.


“Mas Yanto langsung lari pulang jemput ibu kan Ibu harus diberitahu secara langsung tak bisa by phone karena tak sopan. Tapi sebelum jemput ibu dia sempat-sempetnya beli cincin nikah dulu. Dia nggak mau maharnya itu dikasih dari bapak walaupun nikahnya dadakan, karena terpaksa permintaan bapak. Tetap saja mahar tidak mau di kasih dari bapak. Jadi ada mahar yang memang disiapkan ibu tapi ada mahar yang dari Mas sendiri. Mas nggak mau dibayarin. Itu hebatnya suami dadakanku,” kata Fitri . Yanto tersenyum mendengar istrinya memujinya.

__ADS_1


“Jadi itu. Kami sama sekali nggak pernah pacaran. Hanya sama-sama tahu kalau pasangan kita suka. Itu saja tapi kalau untuk pacaran sama sekali nggak.”


__ADS_2