BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
AYAH DAN IBU TAK IZINKAN


__ADS_3

“Kami enggak kasih izin dia untuk tinggal di rumah kota sendirian, jadi kalau dia tetap mau sekolah di sana, dia akan pulang pergi saja,” jawab Gendis.


“Ibu juga enggak setuju kalau kamu di kota sendirian. Ibu sudah pindah sini kamu di sana ya enggak bakal Ibu kasih,” jawab Erlina tegas. Dia merasa memiliki timah juga.


“Iya Ibu, aku juga enggak akan tinggal di rumah kota kok, Mas Yanto dan ibu Gendis enggak ngasih izin,” kata Timah.


“Jadi aku akan pulang pergi saja. Sekarang kan enggak kayak waktu zaman Mas Yanto sekolah, masih susah kendaraan maka harus kost,” jawab Timah.


“Ya wis kalau begitu Ayah setuju. Karena Ayah juga enggak akan kasih izin kamu tinggal di rumah kota sendirian tanpa Ayah dan Ibu walau di sana banyak mbok dan yang lainnya. Tetap saja Ayah enggak kasih,” kata Suradi.


“Ya Ayah.”


“Rencananya hari Jumat besok kita mau nginap di rumah kota karena kan Senin Timah mau daftar di sekolah Yah,” Fitri memberitahu keinginannya.


“Ya silakan menginap,” kata Suradi.


“Eh, kita juga ikut menginap,” potong Erlina cepat.


“Ya,” jawab Suradi. Dia mengerti pasti istrinya juga tak mau ketinggalan.

__ADS_1


Yanto dan Herry diminta untuk memotong ayam negeri yang sudah afkir artinya ayam sudah mulai berkurang produksi telurnya, nanti akan diganti dengan bibit yang baru.


“Kok banyak banget Bu sampai 4?” tanya Yanto pada Erlina.


“Sisan dipotong sekalian, lalu diungkep atau dimasak sekalian juga. Jadi nanti ibu tinggal keluarkan saat butuh makan. Bisa tinggal digoreng atau dibakar atau sudah dihangatkan saja bila sudah diberi bumbu,” jelas Erlina.


“Kalau setiap kali butuh baru potong kan repot. Masak airnya kan juga sekalian. Sekalian meracik bumbunya juga,” jelas Erlina.


“Kirain Ibu mau bikin apa.”


“Enggak, cuma mau seperti itu aja biar lebih praktis.”


‘Pantas sejak dulu Fitri selalu masak sekalian. Rupanya ilmu dari bu Erlina.


Akhirnya keluarga Gendis pulang sesudah makan malam karena kalau ke situ memang tidak bisa sebentar.


“Mas tadi enak juga loh singkong bakar yang kamu buat,” kata Fitri.


“Iya, aku sudah lama banget enggak bikin singkong bakar, dulu bikin waktu masih STM saat camping.”

__ADS_1


“Kok jadi kepengen lagi ya Mas.”


“Ya besok kita beli dulu singkongnya,” jawab Yanto.


“Kan yang di kebun sudah bisa dipanen. Kalau untuk satu buah pohon aja cukuplah jangan kebanyakan,” kata Gendis.


“Ya besok aku lihat dulu yang mana yang bisa dicabut, yang sudah ada umbinya besar,” Jelas Yanto.


“Daunnya kita bikin buntil Bu. Besok aku akan beli kelapa parut muda sehingga kita bisa bikin buntil,” Fitri malah terbersit ingin masak buntil juga.


“Mau bikin buntil campur apa?” tanya ibu Gendis.


“Pakai udang aja ya Bu kalau ada yang jual. Kalau enggak ya pakai teri lah.”


“Kayaknya udang ada deh yang jual. Stok di kulkas tinggal sedikit,” balas Gendis.


“Ya sudah besok bikin buntil daun singkong yang isinya udang ya Bu. Sama buntil daun pepaya,” kata Fitri.


“Pelan ya De,” pesan Fitri pada Herry yang menggendong Daanish, sementara Daffa digendong papanya. Mereka baru tiba di rumah.

__ADS_1


Timah telah berlari duluan membuka pintu dan menyalakan lampu, karena tadi berangkat masih pagi dan tudak berniat pulang malam jadi tak ada yang menyalakan lampu luar.



__ADS_2