
“Bu aku ada perlu ke kota sebentar. Ibu mau titip sesuatu?” tanya Fitri pada Gendis siang itu. Dia baru pulang menemani Daffa sekolah. Hari ini dia berhasil mengantarkan Daffa sekolah tanpa Yanto. Memang Daffa yang minta diantar dengan motor oleh Fitri saja.
Gendis tak berani bertanya Fitri ada perlu apa ke kota. Dia masih takut menyinggung perasaan menantunya itu.
“Kayaknya Ibu enggak ada butuh apa-apa deh nanti kalau memang tiba-tiba terbersit pikiran mau titip apa-apa Ibu kirim pesan aja ya,” kata Gendis.
“Iya Bu, aku mau ganti kartu ATM-ku yang sudah expired. Titip Daffa dan Daanish ya Bu,” Fitri memberikan salim pada Gendis.
“Ya,” jawab Bu Gendis.
Daffa sudah pulang sekolah sejak di sekolah tadi Fitri sudah mengatakan pada Daffa bahwa dia akan pergi sebentar jadi enggak boleh rewel dan enggak boleh ikut.
“Kamu mau naik mobil atau naik motor?” tanya Gendis.
“Lagi bingung nih Bu enaknya naik apa. Tapi kayanya enak bawa motor aja lah santai.” jawab Fitri.
Motor yang dulu digunakan oleh Herry nomornya sudah dibayar pajaknya sehingga tidak takut bila dibawa ke tengah kota. Siang itu Fitri memilih pergi ke kota naik motor.
Sebenarnya Fitri hanya ingin jalan-jalan saja sekalian dia memang harus ke bank untuk ganti kartu ATM-nya yang sudah expired.
Di depan bank saat akan pulang, Fitri melihat tukang rujak. Dia pun membeli 3 bungkus. Siang-siang begini pasti enak makan rujak. Fitri ingat tadi dia membawakan nasi dan lauk untuk Yanto tapi belum ada jus karena ternyata botol jusnya habis itu sebabnya sebelum ke bank dia membeli banyak botol untuk menyimpan jus karena biasanya pada bawa lalu lupa bawa pulang tuh botol-botol jusnya.
Fitri melarikan motornya ke arah bengkel hendak memberikan rujak pada Yanto suaminya.
“Kamu kenapa sih ngehindarin aku? Kamu enggak inget bagaimana hubungan kita yang sangat dekat selama ini. Pasti kamu takut sama istrimu kan?”
Yanto langsung lompat mendengar ada benda yang terjatuh. Yanto melihat Fitri yang terbengong di depan ruang kantor bengkel. Dan ada kresek di depan kakinya.
Fitri langsung berbalik badan dan berlari ke arah motornya.
“Yank, dengerin aku dulu Yank. Dengerin aku,” teriak Yanto yang telat bereaksi.
Fitri sudah tak mau mendengar apa pun. Dia langsung menggunakan helmnya dan melarikan motornya sangat kencang.
“Pergi kamu, pergiiiii!” teriak Yanto mengusir Tini. Tentu saja Tini kaget. Memang Tini yang datang ke bengkel dan dia ingin bicara dengan Yanto. Sejak tadi Yanto tak mau bertemu dan sudah berpesan pada pegawainya agar mengusir Tini.
Tapi Tini langsung masuk kantor bengkel. Tini tak terima penolakan Yanto dan mengingatkan bagaimana akrabnya mereka selama ini.
Yanto masuk kembali ke kantor untuk mengambil ponselnya yang sedang dicarge. Dia langsung menggunakan helm dan mengejar Fitri.
__ADS_1
“Kok kamu pulang sekarang?” tanya Gendis melihat putranya sudah tiba di rumah.
“Fitri belum pulang Bu?” tanya Yanto.
“Belum lah. Makanya kok kamu pulang duluan?”
Yanto segera mengambil ponselnya dan menghubungi Fitri. Tapi tak ada jawaban.
“Memang ada apa lagi?” tanya Gendis dengan sabar.
“Aku susah ceritanya Bu. Aku harus menjerit atau apa. Aku juga bingung,” ujar Yanto.
“Cerita sama Ibu Nang, jangan bikin Ibu bingung,” pinta Gendis
Yanto menunduk sedih. Dia menarik napas dalam dan memandang wajah teduh ibunya. Dia ingin menangis di pelukan hangat sang ibu tapi malu. Dia tahan air matanya agar tak runtuh.
“Tadi Tini datang ke bengkel Bu. Dia ingin bicara tapi aku sudah bilang sama anak-anak aku enggak pengin ketemu dia. Dia maksa terus. Akhirnya dia menerobos masuk ke ruangan kantor saat aku baru nusukin charger ponselku.”
“Saat itu Tini bilang kamu enggak ingat kedekatan hubungan kita pas aku dengar ada suara benda jatuh Bu. Ternyata Fitri mendengar itu semua dan dia menjatuhkan entah apa yang dia bawa buat aku. Aku juga belum lihat Fitri bawain apa buat aku.” Yanto menceritakan semua secara rinci pada Gendis.
“Terus sekarang Fitrinya ke mana?” kata Gendis khawatir.
“Fitri langsung lari bawa motornya, aku kejar enggak bisa Bu. Tadi aku lari ke dalam dulu ambil HP yang baru aja aku charge.”
“Ada apa lagi ini Nang. Kok bisa kayak gini?” kata Gendis lagi.
Yanto terus berupaya menghubungi Fitri setelah 90 menit dari dia sampai di rumah ada jawaban dari ponsel istrinya.
“Bapak suami dari pemilik ponsel ini?” tanya seorang laki-laki yang menerima telepon dari Yanto. Di ponsel Fitri memang nama Yanto tertulis dengan ID PAPANYA ANAKKU.
“Benar, kenapa telepon istri saya Anda pegang?” jawab Yanto bingung.
“Istri Bapak ada di rumah sakit. dia tabrakan dan sekarang sedang di IGD belum sadarkan diri,” jawab lelaki tersebut.
“Rumah Sakit mana?” teriak Yanto membuat Gendis tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Rumah Sakit Prima Medika Pak.”
“Baik, saya akan langsung ke sana,” jawab Yanto cepat.
__ADS_1
“Saya tunggu Pak,” balas orang tersebut.
“Ada apa Nang?” bu Gendis minta penjelasan putranya mengapa dia bicara keras.
“Fitri kecelakaan Bu. Sekarang tak sadarkan diri di Rumah Sakit Prima Medika. Ibu di sini aja. Aku berangkat duluan sendiri.”
“Titip anak-anak ya Bu dan jangan bilang apa pun dulu pada ayah dan Bu Erlina sampai aku tahu kepastiannya. Nanti Ibu berangkat sama ayah dan Bu Erlina aja,” Yanto meminta ibunya tutup mulut dulu agar semua tak panik.
“Iya Ibu tunggu kabarnya,” kata Gendis sambil menangis.
“Kamu hati-hati. Jangan ngebut nanti malah kamu ikut celaka.”
“Iya Bu,” kata Yanto. Dia pun mengambil jaketnya dan berangkat ke rumah sakit.
“Saya mau menemui pasien yang tabrakan tadi,” Yanto memberitahu petugas IGD.
“Atas nama siapa ya Pak?”
“Diah Ayu Fitri.”
“Oh masih di IGD Pak. Karena belum ada keluarga yang mendaftarkan dia.”
“Bagaimana kondisinya?” tanya Yanto khawatir.
“Bapak langsung temui dokter yang menangani saja,” saran petugas.
Yanto langsung ke dalam untuk menemui dokter yang menangani Fitri.
“Bagaimana keadaan istri saya Dok?”
“Tidak terlalu parah sih hanya tangan kiri retak tulang yang lainnya aman. Kepala juga sudah di CT Scan tak apa apa cuma saat ini masih belum sadar. tadi sudah dapat infus tidak ada luka serius selain tulang lengan kiri. Luka luar juga tidak membahayakan. Banyak goresan kecil. Yang cukup besar di lutut kiri.
“Sudah bisa saya tengok?” tanya Yanto.
“Bisa Bapak lihat sebentar, tapi Bapak langsung urus surat administrasinya agar bisa dipindahkan ke ruang rawat,” jawab dokter.
“Baik Dokter. Saya akan lihat istri saya dulu baru saya urus administrasinya.” Yanto menyalami dokter dan langsung lari ke bed tempat Fitri.
Yanto melihat istrinya terbaring pucat. Lengan bawah kirinya sudah di gips. Dan ada infusan di tangan kanannya. Yanto mengecup kening istrinya yang dia lihat sangat pucat. Di kaki dan tangannya ada luka memar dan luka gores sedikit kecil-kecil. Lutut kiri di perban. Ada goresan juga di pelipis kiri. Rupanya lebih banyak luka bagian kiri tubuh istrinya.
__ADS_1
“Papa urus administrasi dulu ya Ma. Papa pasti langsung balik ke sini. Mama cepat sembuh ya,” bisik Yanto. Dia kecup kening dan pipi istrinya.
Yanto langsung berjalan ke bagian administrasi untuk mendaftarkan Fitri sambil dia menghubungi Suradi dan Gendis.