
‘Aku akan menceritakan semua keberhasilan Tria pada Mbak Riana dan abang Gultom. Biar mereka cerita pada semua orang tentang keberhasilan anakku ini,’ kata Riani dalam hatinya. Walau dia iri melihat keakraban Tria dengan keluarga Gendis, tapi dia merasa pantas berbangga diri akan kehebatanan putrinya itu.
Pikiran yang sama pun ada dalam otaknya Husein. Dia akan bicara kepada orang tua juga kakak-kakaknya mengenai keberhasilan Fitriani, putri ke duanya. Dia sangat bangga terhadap Tria yang tiba-tiba punya bisnis tanpa minta uang serupiah pun pada dia. Benar-benar anak hebat, sehebat dirinya.
“Maaf Bu, di rumah ada tamu,” kata seorang pembantu yang datang berbisik pada Riani.
“Siapa? Kalau keluarga suruh tunggu. Mungkin satu atau satu setengah jam lagi kami pulang. Nggak enak kalau Ibu langsung tinggalin acara ini,” Riani balas berbisik pada pembatu rumah tangganya.
“Nggak tahu Bu. Mereka nggak bilang siapa dan dari mana. Mereka bilang ingin ketemu Ibu dan Bapak,” jelang sang pembantu.
“Mereka?” tanya Riani.
“Iya Bu, dua orang perempuan dan satu orang lelaki. Cuma bilang minta dipanggilkan Ibu dan Bapak.”
“Kamu siapkan minum saja. Nanti Ibu pulang. Ibu pamit dulu pada semua orang di sini,” kata Riani.
“Maaf Bapak, Ibu. Saya pamit lebih dulu. Di rumah ada tamu yang datang tiba-tiba. Jadi saya menemui mereka dulu,” kata Riani pada pak Husein juga pak RW.
“Siapa Ma?” tanya Husein suaminya.
__ADS_1
“Belum tahu. Barusan bibik bilang ada tamu, jadi Mama pulang duluan,” jawab Riani. Perempuan itu bersalaman pada yang ada di situ.
“Ya baik,” jawab Husein. Lalu Husein pun terus beramah tamah dengan Pak Husein dari developer juga Pak RW. Bu lurah tadi langsung segera pulang karena dia punya kegiatan lain.
“Dengan orang tua Eka Lestari?” tanya tamu tersebut ketika Riani mengulurkan tangan.
“Benar, Dari mana ya?” Tanya Riani. Eka Lestari adalah anak sulungnya.
“Maaf Ibu, bapaknya ada?”
“Ada di depan. Karena kebetulan anak saya yang kedua sedang buka usaha dan banyak tamu penting hadir di sana,” jawab Riani dengan bangga.
“Maaf Ibu, kalau bisa kami juga bicara dengan Bapak. Karena ini juga sangat penting menyangkut anak Ibu yaitu Eka Lestari.”
Riani berjalan ke depan memanggil suaminya.
“Maaf. Bapak, Ibu, saya mau kasih tahu suami saya. Tamunya butuh ketemu dengan suami saya,” kata Riani dengan sopan.
“Oh ya silakan,” kata pak RW yang saat itu sedang bersama dengan istrinya juga seorang perempuan pegawai developer.
__ADS_1
“Ada apa Bapak, Ibu?” kata Husein saat dia telah duduk di ruang tamu.
“Kami dari kepolisian bidang narkoba, anak Bapak kami tahan tersangkut dengan kasus narkoba,” kata seorang perempuan yang datang.
Husein dan Riani terperangah putrinya yang sangat manis penurut dan tak pernah neko-neko, tak pernah berontak seperti Tria malah terkena kasus narkoba. Padahal mereka lebih tak suka pada Tria yang selalu melawan.
“Putri Ibu, itu pengguna lama. Dan sekarang mulai menjadi pengedar. Kami telah lama memantaunya agar bisa menangkap agennya,” kata petugas tersebut. Mendengar penjelasan itu Riani pingsan.
“Lalu bagaimana ini Pak. Saya tidak mengerti mengapa terjadi seperti ini. Mungkin Bapak salah tangkap,” kata Husein.
“Kami tidak salah tangkap, sudah 1 tahun ini kami mengamati putri Bapak. Dia awalnya memang pengguna dan seperti saya bilang tadi dia sekarang pengedar. Pada saat dia masih pengguna kami sudah dua kali menjaring dia dan waktu itu ada orang tua yang bilang dia adalah pamannya. Sehingga kami melepaskan begitu saja. Kami percaya orang itu pamannya yang berjanji akan membantu mengawasi Eka memperbaiki kelakuannya.”
“Paman?’ tanya Husein. Tentu saja dia pun tak pernah tahu anaknya sudah dua kali dijaring oleh petugas narkoba.
“Saya nggak pernah dihubungi keluarga mana pun yang melaporkan tentang kelakuan Eka. Sebaliknya Eka tak pernah bilang apa pun pada kami,” jawab Husein.
“Mungkin Bapak dan Ibu terlalu sibuk, sehingga tak tahu semua kegiatan anak Bapak dan Ibu. Bahkan saya tadi juga dengar dari orang-orang sekitar bahkan kegiatan yang positif dari anak nomor dua Bapak saja, Bapak nggak tahu sama sekali. Pembangunannya ada di depan mata Bapak lho. Apa itu nggak mencolok mata Bapak? Yang di depan mata Bapak saja, Bapak nggak tahu. Lebih-lebih kelakuan Eka di belakang Bapak,” kata petugas perempuan yang sejak tadi bicara.
Riani sudah dipindahkan ke kamarnya dan sedang menunggu dokter yang dipanggil oleh Husein.
__ADS_1
Tentu saja Husein tertohok mendengar kata-kata itu. Benar, bahkan apa yang Tria lakukan di depan mata saja dia tidak tahu. Lebih-lebih yang Eka lakukan.
Tapi siapa orang yang disebut Eka sebagai pamannya itu? Tentu saja membuat Husein bertanya-tanya karena kalau kerabatnya yang dipanggil tentu pasti akan bicara padanya.