
“Yank, please kita bicara ya sehabis salat,” pinta Yanto memelas pada Fitri yang masih saja diam tak mau bicara padanya. Tak ada kecup mesra selamat pagi seperti yang biasanya istrinya lakukan.
“Sudah aku bilang sejak semalam, tak ada yang perlu dibicarakan,” kata Fitri sambil keluar membawa Daanish yang sudah tumben sudah bangun saat dirinya akan salat subuh.
Karena sudah terbiasa melihat orang tuanya salat maka Daanish tak rewel ketika didudukkan di sebelah Fitri ketika semua salat berjamaah.
Daanish tak menangis atau lari-lari, dia terbiasa duduk menunggu kedua orang tuanya selesai salat.
Sehabis salat Fitri mengajak Timah dan Daanish jalan-jalan di sekitar rumahnya. Daffa masih tidur.
“Ini masukin kantongmu,” kata Fitri. dia menitipkan beberapa lembar uang di kantong Timah.
Fitri tidak membawa apa pun termasuk ponselnya
“Wah itu ada serabi Mbak, aku pengen lo,” ucap Timah.
“Mbak juga pengen, baru mau bilang ke kamu. Ayo kita beli ke situ,” balas Fitri
Mereka pun duduk di lesehan tempat serabi berjualan. ‘Bu pesan 5 yang makan di sini, lalu yang dibungkus 25,” kata Timah. Dia tak takut pesan karena dia sendiri bawa uang.
“Enak yo Mbak,” kata Timah merasakan kelezatan serabi yang gurih berpadu dengan kuah gula merah. Mereka pun menikmati serabi panas di lesehan.
Fitri sependapat dengan Timah. Sangat nikmat serabi asli tanpa modifikasi rasa. Benar-benar resep original serabi ndeso. Tak seperti yang kekinian serabi aneka rasa.
“Mbak, aku minta maaf loh soal kemarin,” ucap Timah tulus.
“Sudah Mbak bilang kan enggak perlu dibahas lagi Dek. Sudah cukup. Mbak enggak marah, enggak ada urusan apa pun. Sudah kamu tenang aja,” jawab Fitri sambil menyuapi Daanish.
__ADS_1
“Terus kita kapan pulang ke rumah desa?” tanya Timah.
“Kalau kamu dan ibu mau cepat-cepat pulang karena ada urusan, pulang aja enggak apa-apa. Mbak akan bertahan dulu di sini satu atau dua hari lagi. Kalian pulang aja nanti diantar Mas Yanto ya,” kata Fitri menegaskan dia tak mau pulang bersama suaminya.
“Berarti Mbak marah kan?” desak Timah.
“Enggak, enggak ada yang marah koq,” jawab Fitri.
“Kalau tidak marah kenapa tidak pulang bareng?”
“Mbak masih ada keperluan di sini,” jelas Fitri.
“Baiklah,” jawab Timah pasrah.
Fitri menyuapi Daanish serabi yang sudah dia potong kecil.
“Kamu sudah mengerti enak,” goda Timah. Rupanya NAT yang Daanish maksud adalah enak.
Cukup lama mereka makan serabi sekalian menunggu pesanan yang 25 buah serabi untuk dibawa pulang selesai di kerjakan.
“Ayo kita muter lagi,” Fitri dan Timah banyak membeli jajanan kue pagi yang biasa dijual orang di sepanjang jalan yang mereka lewati.
“Kalian dari mana?” tanya Suradi sambil menggendong Daanish yang sejak tadi memang dibiarkan berjalan oleh Fitri.
“Habis beli serabi Yah,” jawab Timah.
“Wah enaknya. Cepat ditempati. Ayah jadi kepengen serabi panas,” ucap Suradi.
__ADS_1
“Iya Yah, tadi kami juga sudah makan beberapa di sana sambil nunggu yang dibawa pulang matang,” kata Timah dengan jujur.
Sarapan pagi itu aneka jajan pasar yang Timah dan Fitri beli tadi. Tapi kalau yang mau makan nasi pun sudah ada di meja makan nasi dan beberapa macam lauk.
“Adik Daanish mandi yuk,” ajak Yanto.
Fitri membiarkan Yanto mengurusi Daanish, sekarang dia akan mengurusi Daffa yang sudah selesai mandi bersama dengan Yanto tadi.
“Mas mau ini?” tanya Fitri menunjukkan serabi dengan kuah gula merah di mangkuk kecil.
Tentu saja Daffa suka karena ada kuah gulanya. Selain itu Daffa juga suka getuk lindri yang tadi Fitri beli.
“Bu, aku tadi sudah bilang sama Mbak Fitri. Aku tanya kapan kita pulang. Kata Mbak Fitri kalau kita mau pulang duluan pulang aja, nanti diantar sama Mas Yanto.”
“Aku enggak enak Bu kalau kita pulang Mbak Fitri enggak mau balik bareng kita. Tapi kalau kita enggak pulang aku masih banyak yang harus diurus di sekolah. Karena kan harus tanda tangan ijazah juga cap tiga jari,” bisik Timah di kamar tempat mereka tidur di rumah kota. Walau di kamar dia tetap berbisik.
“Kalau begitu kita pulang berdua aja enggak usah sama Mas Yanto,” balas Gendis. Dia tahu putrinya masih harus sering datang ke sekolah untuk mengetahui pengumuman.
“Enggak apa-apa Bu diantar mas Yanto. Nanti Mas Yanto kan bisa kembali ke sini. Cuma jadi enggak enak karena Mbak Fitri tidak ikut pulang sama kita,” ujar Timah.
“Sudah nanti Ibu ngomong sama masmu bagaimana enaknya,” hibur Gendis.
“Iya Bu. Maaf ya Bu, bukan apa-apa. Aku harus ngurus sesuatu di sekolah,” lanjut Timah.
“Iya Ibu mengerti.”
__ADS_1