BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
WACANA KE KLATEN


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Sudah kalian tenang aja masa tidak percaya sama Ayah, Ibu, dan Bu Gendis kan juga ada  bu Yati,” ucap Suradi saat Fitri ragu menemani Yanto ke acara pernikahan Burhan di Klaten. Sebagai sahabat saat di PO, Yanto tak mungkin tak hadir.



Yanto sudah mengatakan, kalau Fitri tak hadir biar dia berangkat bersama Herry saja.



“Bener Yah enggak apa apa?” tanya Fitri masih saja ragu.



“Enggak apa-apa. Tenang saja. Solo Klaten itu eggak jauh kok,” jawab Suradi. Besok baru akan pertama kali Fitri pergi tanpa anak-anak. Keluar kota pula. Sedang sejak Daffa ada saja dia tak pernah pergi keluar rumah tanpa putra sulungnya itu.



Besok memang rencananya Fitri dan Yanto akan ke Klaten untuk menghadiri pernikahannya Burhan. Tapi ketiga orang tua melarang dirinya membawa kedua anaknya. Kasihan anak-anak bila dibawa jauh untuk kondangan. Begitu alasan Gendis, Erlina dan Suradi.



Burhan asli Cilacap tapi calon istrinya orang Klaten sehingga mereka mengandakan pernikahannya di Klaten. Di rumah kedua orang tua mempelai wanita. Padahal mereka bertemu di Jogja. Calon istri Burhan bekerja di mini market dekat terminal Giwangan sehingga di sanalah cinta kedua calon mempelai terjadi.


__ADS_1


Rencananya nanti Burhan dan istrinya akan tinggal di Jogja mereka sudah mengontrak ruang usaha yang akan dijadikan kios makan di dekat PO, mereka akan tinggal di situ juga jualan di situ tidak ngontrak rumah terpisah sehingga satu lokasi aja. Itu yang Burhan ceritakan pada Yanto tempo hari.



“Kita itu mau pergi ke Klaten aja bingung ya. Kok ada ya Ibu yang bisa ninggalin anak tanpa pengin balik lagi?”



“Banyak ibu seperti itu ada yang hatinya berat cuma kita enggak tahu kan?” Kata Gendis.



“Kita lihat juga banyak ibu yang kerja di kota anaknya dititipin ke orang tuanya di desa, itu karena kondisi dia harus bekerja mencari nafkah buat anaknya, pasti batinnya berat,” jawab Gendis lagi.



“Tapi ada ibu yang memang serta-merta meninggalkan anaknya tanpa peduli. Bahkan ada yang membuang bayi baru lahirnya di tong sampah, di depan rumah orang atau di depan Panti Asuhan. Itu bisa jadi itu karena faktor dia tidak punya suami, bisa jadi karena faktor ekonomi dia enggak siap atau segala macam.”




“Jangankan kalian berdua yang akan ke Klaten meninggalkan anak berumur 2 dan 1 tahun. Mereka masih batita. Kalian takut anak-anak rewel. Waktu kalian pergi ke Jogja aja Ibu rasa setengah napas Ibu hilang,” ungkap Erlina.



“Padahal kalian sudah dewasa. Kalian pergi juga izin resmi. Ibu sama ayah nganterin kalian pindahan, tapi ya itu yang kami rasa, separuh napas kami sudah terburai,” lanjut Erlina lagi.


__ADS_1


“Itulah misteri yang kita enggak tahu,”  Gendis mengerti galaunya Erlina saat ditinggal Fitri ke Jogja. Dia merasakan ketika mengantar Yanto kost di kota.



“Ada beberapa ibu yang bisa seharian kerja full di luar pulang sampai rumah sudah capek anak sudah tidur diurusin pembantu dan dia tak memperhatikan anaknya. Karena merasa telah lelah seharian. Toh anak-anak sudah makan kenyang tak kekurangan.”



“Ada ibu lain yang kerja full di kantor. Tapi pulang dia langsung ngopenin anaknya karena dia merasa bersalah sudah banyak membuang waktu kebersamaan dengan anaknya. Sama-sama kerja tapi beda sikap ke anak.”



“Dan yang ketiga ada ibu yang seperti kamu enggak mau kerja sama sekali, maksud Ibu kerja tapi nggak ninggalin rumah. Kamu kan bisa aja tiap hari kerja sama Yanto ikut ke bengkel mengatur pembukuan dan segala macam. Tapi kamu lebih memilih untuk kerja di rumah.banyak ibu sekarang kerja online.”



“Banyak faktor latar belakang masalah dan pemikiran dan kita enggak bisa nutup mata bahwa ya enggak bekerja di kantor itu sudah lebih baik dari yang bekerja. Sama aja kita berdebat soal ASI dan su5u formula atau kita berdebat tentang melahirkan normal dengan melahirkan caesar, kan banyak faktor yang harus kita perhitungkan,” kata Gendis.



“Jadi memang kita tidak bisa menjudge atau menghukum atau apalah terhadap suatu kondisi orang lain.”



Erlina dan Suradi memang sedang ke rumah Gendis sore ini. Mereka mengantarkan telur hasil dari peternakannya Suradi, sambil melihat mesin tetas. Kemarin Suradi membeli 10 butir telur angsa dia ingin mencoba memelihara angsa buat jaga rumah. Entah berapa yang akan menetas nanti.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok.

__ADS_1



__ADS_2