
Sesuai dengan permintaan Herry, Pak Harjo langsung melaporkan kejadian itu pada aparat desa. Juga dia langsung bikin laporan resmi ke kantor polisi dia melakukan bersama dengan Pak Budi.
Dugaan polisi pelaku adalah orang yang bisnisnya sama dengan Pak Budi atau Pak Harjo.
“Maaf, itu bukan tambak milik pribadi saya. Tapi milik majikan saya,” jelas pak Harjo.
“Kenapa majikannya nggak ikut melapor?” tanya polisi.
“Majikan saya masih SMA dan hari ini dia sedang ujian semester jadi dia bilang belum bisa lapor pagi ini. Sedang dia minta saya segera lapor agar TKP masih sesuai dengan kejadian semalam belum diacak-acak oleh orang-orang.”
“Wah hebat ya majikannya masih SMA,” kata polisi.
“Benar Pak, majikan saya masih SMA bahkan adiknya yang perempuan sejak SD sudah punya usaha peternakan kambing,” jelas Pak Harjo.
__ADS_1
“Ya ampun anak SD perempuan sudah punya peternakan kambing?” polisi tak percaya mendengar info yang diberikan oleh Pak Harjo.
“Begitulah, kedua majikan kecil kami Pak. Dia memang bukan seperti anak-anak biasa yang senang bermain tanpa tujuan atau hasil positif. Majikan kami lebih senang bermain yang menghasilkan seperti bermain media tanam atau bermain rumput untuk pakan ternak.”
Polisi langsung mencatat beberapa pemilik tambak yang juga materinya sama dengan milik Pak Budi atau milik Herry yaitu patin dan belut tentu saja polisi akan menyelidiki yang materialnya sama dengan tambak yang dirusak karena mereka menduga itu adalah persaingan bisnis.
Aparat desa juga langsung bergerak, mereka tak menduga ada kejadian seperti itu pada saat siap panen. Tentu saja mereka mengetes apakah ikan patin yang diberi racun tersebut layak makan atau tidak setelah dicek ternyata ikan tersebut bisa dimakan. Maka Pak Budi dan Pak Harjo langsung membagikan semua hewan yang ada karena sudah dicek oleh Dinas kesehatan desa bahwa itu bisa dikonsumsi sama saja bila kita mengambil ikan dengan cara potas tetap aman untuk dimakan oleh manusia.
“Siapa ya yang usil?” kata ayah Suradi saat mengetahui laporan dari Yanto. Ayah Suradi bingung karena tambak juga sudah diberi ‘pagar’. mengapa masih bisa kena.
Ayah Suradi memang tadi datang untuk menjemput Daffa sekolah padahal maunya Yanto yang antar biar nanti ayah yang jemput.
“Entahlah Yah, belum diketahui siapa yang melakukan.”
__ADS_1
“Ayah yakin pasti nanti polisi atau aparat akan mengincar orang yang punya tambak serupa. Pasti akan dipikir ini adalah kompetitor yang sengaja merusak.”
“Itu yang kami pikir Yah. kasihan kalau orang yang tidak bersalah harus jadi tersangka.” jawab Yanto.
“Seingat aku Herry nggak pernah jatuhin harga, dia menjual sesuai dengan harga yang sama dengan harga peternak lain. Kenapa kok Herry kena musibah seperti ini?” kata Erlina.
“Herrynya sih nggak apa-apa Bu, dia santai aja cuma tadi dia bilang sama Pak Harjo suruh tenang aja karena Herry nggak akan menuduh Pak Harjo.”
“Pak Harjo juga nggak berani lah merusak peliharaannya sendiri karena dia kan makan dari situ,” ujar Suradi.
“Kalau panen pun Herry pasti ngasih bonus di luar gaji selain itu juga sewaktu-waktu dia mau ambil satu kilo atau dua kilo untuk hari-hari pun bebas. Enggak pernah dilarang asal bukan untuk dijual. Kurang apa Herry buat semua pegawainya?” Erlina menjabarkan apa yang anak lelakinya lakukan pada para pegawainya.
“Iya Bu, benar. Kemungkinan yaitu kompetitor yang ingin menjatuhkan Herry atau Pak Budi,” kata Yanto lagi.
__ADS_1