
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ada yang mau dipesan enggak Yank? tanya Yanto saat dia mau berangkat ke bengkel. Yanto bicara di depan Ibu Gendis.
“Enggak, enggak ada yang butuh dibeli,” jawab Fitri tanpa melihat suaminya, dia sibuk membereskan ruang tengah.
“Ya sudah Mas berangkat ya,” kata Yanto dengan lembut di kecup puncak kepala Fitri, memang sengaja dia hampiri istrinya yang sejak tadi menghindar darinya.
“Ya,” jawab Fitri. Sengaja dia tidak ada di kamar karena takut kalau di kamar nanti Yanto ingin bicara. Sejak tadi Fitri menghindar tempat yang sendirian agar tidak diajak bicara berdua oleh Yanto.
“I love you Ma, jangan pernah berpikir Papa akan berpaling,” bisik Yanto di telinga istrinya. Dia langsung keluar.
“Bu, aku ke warung ya,” pamit Fitri pada Gendis.
“Mau beli apa?” tanya Gendis, dia ingat sepertinya sayuran sudah lengkap semua dan ikan serta daging kemarin Fitri baru beli dari super market.
“Mau beli kelapa parut Bu. Paling tidak beli kelapa muda buat di parut sendiri untuk bikin lupis nanti,” jawab Fitri.
“Apa gula merah kita masih cukup?” tanya Gendis.
“Nanti aku beli lagi gula merah buat bikin kuahnya lupis. Titip anak-anak sebentar ya Bu,” ucap Fitri.
“Kamu enggak bawa satu pun?” tanya Gendis bingung. Tak biasanya Fitri seperti ini.
__ADS_1
‘Ada apa ya Fitri kok ke warung enggak bawa satu pun anaknya? Biasanya pasti dia bawa salah satu dari mereka,’ Gendis langsung bertanya dalam hatinya.
“Enggak usah Bu, panas. Biar sama Mbak Yati dan Ibu aja,” jawab Fitri.
“Ya wes hati-hati,” kata Gendis.
“Kenapa Bu?” Gendis langsung menghubungi Yanto yang belum jauh, baru sampai ujung desa. Yanto menepi ketika ponsel di sakunya bergetar.
“Ada apa dengan Fitri?” tanya Gendis.
“Aku juga nggak tahu Bu,” kata Yanto bingung.
“Memangnya kenapa Fitri?” tanya Yanto lagi.
“Kok tumben Bu?” tanya Yanto.
“Kalau Ibu tahu, Ibu enggak akan tanya kamu. Makanya Ibu bingung kenapa dia tumben tak bawa salah satu dari anak kalian.”
Yanto tentu langsung berpikir buruk bahwa Fitri ingin melarikan diri.
“Tapi tak mungkin dia kabur kok Bu. Kan ayah dan ibunya juga sudah tinggal di sini enggak mungkin dia pergi meninggalkan anak-anak. Hidupnya hanya untuk anak-anak,” jelas Yanto menepis pikiran buruknya.
__ADS_1
“Dengan alasan apa dia meninggalkan anak-anak? Apa kalian ribut?” tanya Gendis.
“Kami itu enggak pernah ribut Bu, kecuali saat di Bogor dulu. Bahkan saat dia tahu bahwa aku punya sesuatu di Bogor saja dia enggak pernah marahin aku atau diamin aku. Tapi sejak sebelum Ibu pulang kemarin dia sudah diam sama aku. Entah kenapa aku juga semalaman mikirin, aku salah apa sama dia tapi enggak ketemu.”
“Aku sampai bingung karena 7 tahun kami menikah kami enggak pernah ribut, tadi malam aja dia langsung diam enggak mau ngomong apa pun.”
“Apa seperti dugaan Fitri tadi?” tanya Gendis khawatir.
“Memang dia menduga apa Bu?” Yanto pura-pura tak tahu kalau dia mendengar percakapan ibu dan Fitri di dapur tadi pagi.
“Kamu punya pacar dan kamu pacaran malam-malam. Tengah malam kamu malah kirim-kiriman pesan sama pacarmu,” Yanto tahu memang itu yang di dalam dugaan Fitri dan dia tadi sudah dengar. Cuma dia juga tak mau membocorkan pada ibunya Kkalau dia sudah dengar.
“Aku tuh tadi malam enggak bisa tidur karena Fitri mendiamkan aku Bu. Lalu aku bingung, aku pegang HP untuk mencari barang dagangan bukan ngobrol sama perempuan lewat pesan.”
“Ibu tahu sejak dulu aku enggak senang berkirim pesan pada siapa pun untuk ngobrol. Aku lebih suka bicara. Kirim pesan hanya untuk awal tanya bisa telepon tidak. Bukan buat ngobrol.”
“Kalau kamu telepon pacarmu tentu terdengar Fitri makanya kamu hanya berkirim pesan tengah malam,” tepis Gendis.
“Seperti yang tadi Fitri bilang mungkin kepada Yani kamu enggak kirim pesan karena kamu enggak suka sama Yani, tapi kalau sama pacarmu pasti kan kamu kirim-kiriman pesan,” Gendis pun rupanya ikut terbawa arus dengan keributan yang Fitri pikirkan.
“Enggak Bu, aku enggak akan berpaling terlebih aku punya dua anak. Ibu tahu kan betapa menderitanya saat dia hamil hingga melahirkan? Itu tak mungkin aku gantikan dengan perempuan mana pun dan betapa kami tertatih-tatih untuk bisa mendapatkan momongan. Masa sekarang sudah punya omongan ibunya aku tinggal begitu saja. Tidak akan mungkin Bu. anak-anak itu butuh kami berdua, bukan butuh aku saja atau Fitri saja. Harus kami berdua Bu,” kata Yanto.
“Sudahlah kamu hati-hati,” Gendis pun menutup pembicaraan. Dia takut Fitri kembali dan mendengarkan dia menghubungi Yanto.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY yok.