BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
IBU SOSIALITA DI SEKOLAH DAFFA


__ADS_3

Di sekolahnya Daffa ada murid baru rupanya pindahan dari Semarang. Nama siswa tersebut Farhan.  Ubaydillah bapaknya Farhan menjabat sebagai kepala cabang bank unit desa di desa tersebut.


Hari pertama Suminah ibunya Farhan datang dengan pakaian yang super wah untuk ukuran di desa. Mengantar anak sekolah di desa sudah seperti akan pergi ke arisan ibu sosialita. Suminah atau yang maunya dipanggil dengan sebutan INA merasa dia harus tunjukan pada semua orang kalau dia dari kota besar. Tak seperti ibu-ibu pengantar siswa lain yang berasal dari desa. Sejak dulu dia dipanggail Minah, tapi sejak jabatan suaminya naik selalu ingin disebut sebagai Ina.


Ina memandang rendah kepada siapa pun, dia pikir karena suaminya kepala cabang Bank di desa tersebut sudah paling hebat.


Fitri yang biasa mengantar Daffa ke kelas tersenyum ramah pada semuanya dan semua tentu saja senang pada Fitri yang memang humble. Sebagai pendatang di desa ini, dan juga termasuk orang terkaya di desa, Fitri tak pernah membedakan dirinya dengan para ibu pengantar lainnya.


Sebagai kepala cabang tentu saja orang tuanya Farhan tinggal di rumah dinas,  mereka juga pakai mobil dinas.


Yanto seperti biasa menemani Daanish di tempat bermain. Sebelum Daffa masuk kelas tentu saja juga bersama Daffa. Tapi kali ini Yanto hanya berteman Daanish saja karena Daffa bersama sang mama asyik bermain puzzle di depan ruang kelas.


“Bisa saya pakai ayunannya Pak?” kata Ina tanpa basa basi. Dia mengusir Daanish yang baru dua tahun karena putranya yang berusia empat tahun ingin bermain ayunan.


“Anak Bapak kan bukan sekolah di sini, biarkan anak saya pakai ayunan ini,” lanjut Ina melihat Daanish tak menggunakan seragam.

__ADS_1


“Silakan,” jawab Yanto. Dia menurunkan Daanish dengan lembut.


“Ayo Ade, kita main di sana,” ajak Yanto pada si kecil Daanish. Daanish pun tidak rewel diajak pergi oleh Yanto.


“Ya ampun sombong banget sih ibu itu,” kata seorang ibu pada temannya dia melihat Yanto diusir oleh Ina dengan alasan Farhan ingin main ayunan.


“Memang kenapa?” tanya si teman yang tak melihat langsung kejadian itu.


“Dia mengusir Daanish loh dari ayunan. Katanya karena Daanish bukan anak sekolah di sini. Untung aja yang diusir Pak Yanto kalau orang lain tentu akan melawan,” sungut ibu pertama.


“Lagian kan rumah dinas juga enggak bawa apa pun kecuali pakaian. Semua barang juga bukan barangnya dia.”


“Sudah diamkan saja, kita lihat aja kiprahnya dia sampai di mana.”


Fitri malah sibuk menemani Daffa mengatur puzzle yang memang disukai oleh Daffa.

__ADS_1


Tiba-tiba seorang anak menarik puzzle yang sedang dirakit Daffa didepan kelas. Tentu saja Daffa tidak terima mainan yang sedang dia pegang diambil. Dia menolak memberikan puzzle tersebut.


“Loh Mas Farhan kok ngerebut begitu?” tegur ibu guru dengan lembut.


“Harusnya kalau mau main itu bersama atau kamu pinjam dulu, ngomong dulu tidak asal rebut,” nasihat bu guru pada Farhan.


“Biarkan saja lah Bu. Namanya anak-anak. Anak saya terbiasa apa pun yang dia inginkan pasti dia peroleh,” bela Ina. Dia malah tak menegur putranya yang jelas salah.


Fitri terpaku melihat ibu yang malah membiarkan putranya bertindak arogan seperti itu.


“Oh begitu ya Bu ka;au menurut Ibu. Tapi seharusnya sejak dini Farhan diajarkan bagaimana sopan santunnya meminjam barang orang lain,” jawab bu guru lagi.


“Enggak perlu itu semua. Yang dia inginkan harus didapat sehingga tidak perlu untuk meminjam atau meminta pada orang lain. Toh semua yang di sini adalah barang sekolah bukan barang seorang siswa. Jadi boleh aja dong diambil,” bantah Ina.


__ADS_1


__ADS_2