BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PATIN ASAM PEDAS


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



"Lho kok *rene* Nto? Kamu nggak kerja?" kata ibu Gendis saat Yanto dan Fitri datang.



"Mas Yanto enggak kerja Bu, kita mau ngobrol sama Ibu," balas Fitri sambil salim pada ibu mertuanya.



Fitri dan Gendis lalu bertukar khabar basa basi sebelum masuk ke pembicaraan utama. Tadi Fitri dan Yanto berangkat masih pagi agar tidak macet dan mereka bicara tak ada adik-adiknya Yanto.



"Begini Bu, kan sebelum Ayah sakit aku sudah diterima kerja di Jogja. Ayah juga sudah tahu soal itu. Lalu Mas Yanto kan juga kepengen punya penghasilan besar karena mau nabung buat buka usaha,  jadi dia pengennya jadi sopir yang jarak jauh misalnya Jakarta - Jogja atau Bandung - Jogja."



"Karena aku akan kerja di Jogja dan Mas Yanto mau pindah ke PO di Jogja juga, maka  kami mau pindah ke Jogja Bu."



"Kamu mau tinggal di Jogja? Bagaimana dengan kedua orang tuamu?"



"Enggak apa-apa. Ayah malah langsung ngasih izin." kata Fitri lagi.



Memang saat bicara dengan orang tuanya Fitri yang maju adalah Yanto. Saat bicara dengan orang tuanya Yanto yang bicara Fitri.



"Kalau orang tuamu sudah mengizinkan, Ibu ngasih restu untuk kalian."



"Iya Bu niat kami ke sini memang minta doa restu dan ridhonya Ibu," jawab Yanto.



"Iya Ibu merestui Nang. Bismillah ya,  kalian baru menikah, kalau memang mau nabung ya nabung lah. Semoga tercapai apa yang kamu idamkan dulu yaitu buka showroom yang ada bengkelnya," kata Gendis.



"Iya Bu."



\*'Rupanya niatnya punya show room yang ada bengkelnya memang sudah terucap dari dulu. Buktinya Ibu sudah tahu kalau dia mau buka bengkel itu,' \*batin Fitri dalam hatinya.


\*\*\*



"Mas beli patin sana Mas," Fitri menyuruh Yanto beli ikan patin.


__ADS_1


"Kenapa?" kata Yanto.



"Kepengen aja masakan ibu. Waktu itu kan aku udah cobain pepesnya sekarang aku pengen asam pedasnya itu loh Mas yang katanya kayak kuah sayur asam itu Mas," jawab Fitri.



"Yooo," tanpa banyak cakap Yanto meng iyakan permintaan istrinya.



"Ibu ada yang mau dibeli nggak?"



"Kenapa Nang?" tanya Gendis.



"Ini Genduk ( panggilan sayang buat gadis kecil, Yanto mengibaratkan istrinya gadis kecil ) pengen kuah asam manis eh kuah asam pedas yang ibu masak dari patin. Bumbunya lengkap enggak karena aku mau beli patinnya."



"Terus mau beli apa lagi?" Tanya Yanto.



Gendis pun mencatat apa yang kurang.



"Tapi kayaknya berasnya entek ( habis ), tadi sudah nyuruh Herry beli tapi dia tadi telat bangun jadi belum beli. Itu uangnya ada di atas meja."




Pulang dari warung Yanto membawa banyak sembako termasuk beras satu karung, minyak gula dan banyak lagi yang lainnya.



"Ya Allah Nang kok banyak banget? Kan sudah dikirim uang gajimu untuk makan kami," Gendis jadi tak enak. Dia bukan minta belikan beras, tapi tadi pagi memang Herry tak sempat.



Sudah dua  bulan Herry tak membersihkan mushola bila hari Minggu sehingga tak dapat bayaran beras. Dua bulan ini setiap hari Minggu Herry harus ikut belajar kejar materi karena akan ujian.



" Ya nggak apa apa toh." kata Yanto kalem.


\*\*\*



"Oalah. Enak banget ya Bu. Seger ya ini asem pedes," puji Fitri memakan masakan Gendis. Tadi dia memperhatikan bumbunya apa saja.



"Yanto ki senangane patin pokoknya dimasak apa aja." kata Gendis.


__ADS_1


"Iya Ibu,aku mulai belajar nanti *ta*' catat bumbunya Bu."



"Dicatat *kanggo ngopo* ( Dicatat buat apa )?"  kata Yanto.



"Ya nanti kita di Jogja aku masak toh Mas." Fitri memberi alibi mengapa dia ingin mencatat resep kesukaan Yanto.



"Ya enggak apa-apa, kalau kamu nggak bisa biar aku yang masak Dek. Gampang kok."



"Kita kan harus berbagi peran. Semuanya kita kerjain berdua," kata Fitri.



"Ya iyalah masa rumah tangga yang ngerjain satu orang? Ya nggak pantes.  Entah itu dikerjain cuma sama istrinya atau sama suaminya saja, itu nggak boleh. Rumah tangga itu harus imbang Dek kalau mau langgeng," kata Yanto.



"Iya pastilah kita harus langgeng."



"Insya Allah," jawab Yanto.



"Baru sekali to Mbak maem itu?" kata Timah.



Makan siang Timah dan Herry sudah pulang sekolah pastinya.



"Iyo Dek baru sekali ini maka tadi aku minta mas Yanto beli, kepengen masakan Ibu. Aku kan enggak ngerti. Kalau begini aku bisa ngeraba bumbunya. Nanti aku coba di rumah," kata Fitri.



"Kemarin aku bikin pepes patin, aku udah berhasil ya Mas?" kata Fitri lagi.



"Iya Alhamdulillah pepesnya enak," kata Yanto memuji istrinya. Memang Fitri pernah mencoba membuat pepes patin dan Yanto memang memuji itu enak.



"Alhamdulillah. Padahal aku nggak tanya resep ke ibu, aku cuma meraba-raba aja apa yang aku rasain kira-kira bagaimana.  Itu yang aku bikin." Jelas Fitri.



"Pintar kau nDuk,"  kata Gendis.



"Iya Ibu kalau nggak gitu nanti Mas Yanto kasihan nek ( kalau ) kepengen harus ke sini nyariin ibu."


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul  LOVE FOR AMOR yok

__ADS_1



__ADS_2