
“Sudah enam tahun ya kita nggak ke sini,” kata Yanto saat mereka sedang berjalan di Malioboro sambil bergandengan tangan.
“Sudah tujuh tahun lah, kan dari awal hamilnya Daffa,” balas istrinya.
“Bagaimana bisa 7? Usia Daffa sekarang baru 5 tahun mau 6 tahun,” kata Yanto sambil merengkuh pundak istrinya.
“Ya benar hampir 6 tahun kita nggak ke sini. Beda banget ya Pa,” kata Fitri sambil bergayut di lengan Yanto.
“Iya sekarang di Malioboro sudah tidak ada pedagang, padahal buat kita yang orang luar kota, kumpulan pedagang itu yang bikin suasana Malioboro itu antik beda dengan kawasan lain. Tapi rupanya Pemda punya penilaian lain. Jadi sepi jalanan ini. Nggak ada memori jalan di jalan teras toko Malioboro lagi.” jawab Yanto.
“Ciri khas Malioboro nya hilang sejak di lokalisasi seperti ini pedagangnya,” kata Fitri.
Saat itu Fitri dan Yanto memang sudah sampai ke teras Malioboro yaitu lokalisasi para pedagang yang dulu berjualan di sepanjang trotoar jalan. Bukan trotoar sih di ya terasnya toko. Dulu mereka jualan di situ. Kalau malam juga ada angkringan dan sebagainya. Sekarang semua dijadikan satu di lokalisasi menjadi TERAS MALIOBORO.
__ADS_1
Kalau tipe pedagangnya tetap sama cuma suasananya yang berbeda ya itulah kemajuan memang kadang ada yang dibuat modern tapi satu sisi menjadi hilang.
Yanto dan Fitri memang baru tiba di Jogja sore tadi menjelang magrib mereka langsung menuju hotel yang sudah mereka sewa secara online. Sekarang liburan sekolah pasti hotel penuh semua jadi memang Yanto dan Fitri mengambil pikiran yang praktis yaitu menyewa hotel secara online.
Yanto berjalan masuk teras Malioboro, tujuan mereka mencari makan malam. Dia mencari tempat lesehan agar santai. Fitri memesan tanpa perlu bertanya apa keinginan suaminya.
Yanto memandang wajah manis di depannya. Rasanya tak bosan dia memperhatikan wajah Ibu dua anaknya tersebut. Tak terbayangkan kalau memang dia bisa bermain hati menikahi Yani atas dasar cinta paling tidak atas dasar suka lah.
Bagaimana mungkin dia bisa berpaling sedangkan untuk mendapatkan cinta Fitri saja dia sudah jungkir balik perjuangannya. Mendapatkan Fitri menjadi istri memang tidak berat karena saat itu tanpa terduga Suradi memintanya menikahi Fitri saat Suradi putus asa dan kritis. Tapi mengalahkan rasa tak percaya dirinya itu yang sangat berat. Bagaimana dia bisa percaya diri, sedangkan yang dinikahi adalah putri majikannya?’
Di awal pernikahan dia pun hanya berani mencium pipi istrinya. Benar-benar perjuangan batin untuk dia mendapatkan hal lebih. Jadi aneh kalau dia bisa menyukai perempuan lain bahkan hingga menjikahinya atas dasar suka. Tidak akan pernah.
Kemarin dia mendapat cerita yang mengerikan dari Ayah mertuanya yaitu bila sudah ada kebosanan pada pasangan, rumah tangga akan mulai terkikis kebahagiaannya dan Yanto tak ingin sampai dia mengalaminya.
__ADS_1
“Kamu mungkin melihat Ayah dan Ibu awet hubungannya seperti sekarang. Sebenarnya tidak. Kami pernah hampir bubaran. Semua itu kesalahan Ayah. Untungnya Ibu memaafkan. Fitri juga mempunyai sifat pemaaf seperti Ibumu ini,” kata Suradi di deppan Erlina waktu Yanto mengutarakannya niat untuk membawa Fitri honeymoon di pernikahan mereka yang ke-10.
“Maksud Ayah kepleset bagaimana Yah? Tergelincir bagaimana?”
“Sebelum Fitri itu ada dua kakaknya yang meninggal saat masih di perut, lalu lahirlah Fitri. Saat itu ibumu hidup hanya untuk Fitri tidak ada siapa pun selain Fitri dan Fitri,” ucap Suradi memulai kisah masa kelamnya.
“Ayah waktu itu masih tetap mengerti bagaimana Ibu. lebih-lebih baby blues kan bahaya. Ayah terus mendampinginya sampai ketika usia Fitri 2 tahun Ibu hamil lagi. Ayah tentu saja bahagia berharap si kecil bertahan, tapi ternyata si kecil pun tidak bertahan. Fitri tetap anak tunggal kami. saat itulah Ibu mulai depresi,” kata Suradi sambil memandang istrinya.
“Ya benar Ibu depresi,” kata Erlina.
“Ibu sedih dua sebelum Fitri meninggal, lalu adiknya Fitri juga tak bertahan. Ibu membayangkan kalau Ayah marah karena bayi di perut Ibu tak bisa bertahan.”
“Semakin Ibu depresi dia semakin jadi pemarah,” ucap Suradi.
__ADS_1
“Ayah yang merasa sudah capek-capek kerja, pulang cuma dimarahin akhirnya memilih sibuk di kantor tidak mau dengerin Ibu ngomel,” kata Suradi.
“Itu awal kehancuran rumah tangga kami.” kata Erlina.