
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Dari rumah calon penjual mobil yang dia tawar tadi Yanto pun langsung pulang. Hari masih sore ketika dia tiba di rumah jam 04.00. Yanto melihat Fitri sedang memperhatikan Daanish bermain di karpet ruang tengah. Sedang Daffa bermain dengan Herry.
“Sudah salat ashar Yank?” tanya Yanto ketika dia sudah selesai mandi. Dia ingi salat bersama agar bisa bicara.
“Sudah,” jawab Fitri tanpa menoleh.
“Mas sholat dulu ya?” Fitri tak menjawab apa pun. Fitri terus memperhatikan tingkah laku Daanish. Saat tiba di rumah sebelum masuk kamar tadi, Yanto meletakkan dua ponselnya di meja ruang tengah dekat Fitri duduk di karpet.
Saat itu masuk sebuah pesan di ponsel nomor pelanggan. Fitri dan Yanto biasa membuka nomor itu bersamaan. Transaksi di nomor itu juga memang Fitri yang sering melakukannya. Baik untuk membayar DP atau bayar belanjaan pesanan spare part. Jadi saat sekarang ada pesan masuk di nomor itu tanpa curiga Fitri langsung membukanya.
‘Mas Bambang ini nomor aku save ya. …. Aisy.’
Fitri langsung melompat kaget, dia menggendong Daanish dan membawanya lari ke rumah Erlina. Tak bawa dompet atau ponsel juga pakaian ganti Daanish.
__ADS_1
Gendis kaget melihat menantunya berlari dan tak pamit apa pun pada dia.
“Yantooooo …,” panggil Gendis di depan kamar putranya yang tertutup. Walau tak dikunci tetap tak etis dia menyerobot masuk.
Yanto belum selesai salat, sehingga dia tidak menjawab. Gendis mengetuk pintu kamar Yanto anaknya dan menunggu di depan pintu kamar.
“Kenapa Bu?” tanya Yanto lembut.
“Entah kenapa barusan Fitri lari bawa Daanish tak bawa apa pun. Aku yakin dia pasti ke rumah Bu Erlina tapi alasan dia lari itu yang Ibu bingung,” kata Gendis.
“Dia enggak bilang apa pun sama ibu?” tanya Yanto.
Yanto melihat ponsel usahanya ada di karpet bukan di meja seperti tadi dia letakkan sepulang kerja. Yanto memungut ponsel yang masih terbuka sedang membaca pesan masuk.
“Astaghfirullahaladzim, ini Bu titik pangkal dia marah dan diam saja sejak kemarin. Mungkin sekarang ditambah seperti ini,” ujar Yanto memperlihatkan foto dirinya duduk berdampingan dengan seorang gadis, walau tak duduk rapat dan berbeda kursi. Yang pasti mereka duduk bersama.
Ternyata selain menuliskan bahwa itu nomor Aisy, gadis itu juga mengirim foto mereka duduk berdampingan saat Yanto sedang menawar mobil tadi.
‘Mas Bambang ini nomor aku save ya. Sekalian aku kirim foto pertemuan kita barusan. Aisy.’
__ADS_1
Bu Gendis menggelengkan kepala dia tak percaya Yanto berbuat buruk karena foto putranya tak terlihat akrab atay mesra. Duduk berjauhan dan tak terlihat akrab. Dia tak melihat ada kesalahan di foto seperti itu.
“Ini tadi di rumah orang yang mau jual mobil Bu. kebetulan perempuan ini keponakannya, dia teman smpku dulu. Aku nggak tahu kalau dibikin foto dan aku yakin Si Aisy ini minta nomorku dari pamannya karena aku bertransaksi dengan pamannya. Yang nyimpen nomor aku kan pamannya bukan Aisy makanya dia kasih tahu itu nomor dia. Aku enggak ada hubungan apa pun.”
“Kami baru aja ketemu kemarin sama Fitri ,” Gendis tak mau bicara apa pun tak mau berkomentar apa pun karena takut salah ucap takut salah menilai.
“Kalau begitu kamu susul dulu ke rumah mertuamu. Kasihan dia seperti itu tidak baik persoalan ini menjadi berlarut-larut. Tinggal aja Daffa. Cukup Daanish yang dibawa ribut di sana. Semoga aja Fitri mau mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan kamu bawa handphone itu biar jadi saksi bahwa tak ada apa-apa antara kamu dan perempuan tersebut.”
“Masalahnya Bu, Fitri mendengar sendiri perempuan itu sejak SMP naksir aku dan waktu SMA dia nyari aku dan sampai sekarang tidak menikah karena nungguin aku.” keluh Yanto.
“Wah nek ngono Ibu enggak bisa ngomong apa-apa. Wis apes mu Nang, apes mu,” ucap Gendis yang mengatakan ini adalah kesi-alan nasib Yanto. Pantas saja Fitri marah, kemarin baru mendengar kalau perempuan itu sejak SMP mencintai dan menunggu Yanto, hari ini melihat Yanto mengunjungi rumahnya. Bukankah itu apes buat Yanto?
Gendis bingung sendiri kalau kondisinya sudah seperti itu.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.
__ADS_1