BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
HANYA SOPIR BUS?


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Diah!” seru seorang perempuan melihat Diah Ayu Fitri duduk sendiri sedang makan puding.



“Ya ampun Ningsih,” jawab Fitri dia tak percaya bertemu dengan teman kuliahnya.



“Apa kabar kamu? Sejak selesai kuliah kamu menghilang,” tanya Ningsih setelah cipika cipiki. Ningsih duduk di sebelah Fitri. Tempat duduk Yanto yang sedang mengambil buah. Yanto yang kembali dari mengambil buah duduk di belakang istrinya bersama Dadang, sopir cadangannnya Burhan.



“Aku enggak menghilang, aku kerja di Jogja 3 tahun kemudian baru aku kembali ke sini karena aku hamil anak pertama,” jelas Fitri soal kondisinya setelah selesai kuliah.



“Kamu serius sudah punya anak? Kayaknya tubuhmu masih seperti dulu aja. Sama seperti saat Dwi Handoyo mendekatimu,” ungkap Ningsih memperhatikan Fitri dengan saksama.



“Ha ha ha, enggak usah bahas soal Dwi deh. Nanti dikira aku suka sama dia. Padahal sejak dulu aku enggak pernah nganggap Dwi lebih dari seorang teman. Bahkan sahabat pun tidak, apalagi pacar. Sampai dia ngamuk dan ngaku-ngaku pacar aku waktu di rumahmu itu. Di situ aku kehilangan ponsel. Aku rasa ponselku diambil dia untuk ambil foto-foto aku,” ujar Fitri. Dia tak tahu Yanto mendengar semua itu karena Yanto duduk di belakangnya.



“Mana suamimu?” tanya Ningsih penasaran.



“Tadi dia pamit izin ambil buah, pasti dia sedang ngobrol dengan teman-temannya karena pengantin lelaki adalah mantan wakilnya waktu masih menjadi sopir di bus antar kota di Jogja,” jawab Fitri.

__ADS_1



“Jadi suamimu sopir bus?” tanya Ningsih tak percaya.



“Iya suamiku mantan sopir bus antar kota. Tapi sudah berhenti sih, sejak aku hamil dia berhenti. Karena aku enggak bisa ditinggal jauh. Beda ruangan aja aku langsung mual sehingga dia berhenti bekerja untuk selalu berada disisiku.” jelas Fitri.



“Mantan sopir bus bisa jadi apa?” tanya Ningsih dengan tak memperdulikan perasaan Fitri.



“Sopir bus bisa apa sih? Berapa sih kekayaannya? Tentu sangat jauh dari dari Dwi Handoyo yang kaya raya sebanding dengan dirimu yang sama-sama anak orang kaya,” tukas Ningsih lagi.



“Alhamdulillah kami sekarang punya bengkel kecil-kecilan. Sebenarnya bukan bengkel, tapi showroom mobil bekas kecil-kecilan itu usaha suamiku,” jawab Fitri tanpa sedih karena dilecehkan kemampuan finansial suaaminya.




“Aku nggak miskin kok, aku sangat kaya raya dengan dua anak kami yang sangat sehat. Itu kekayaan kami berdua.”



“Kalau sejak dulu aku mengejar harta tentu bukan Dwi pilihan dulu yang ingin aku terima. Pasti aku lebih memilih Ferianto Salim yang jelas-jelas dia mau pindah agama dan kamu tahu berapa perusahaan papanya. Tapi aku enggak mau kan? Karena aku bukan mencari harta. Aku mencintai suamiku sejak dia masih kelas 1 SMK. Dia sosok yang sangat besar artinya buat hidupku,” kata Fitri dengan bangga.



“Apa kamu bangga dengan kekayaanmu?” tembak Fitri.


__ADS_1


“Bagimana dengan kekayaan suamimu?”



“Aku …  aku …,” kata Ningsih terbata.



“Suamimu kurang kaya apa? Sayangnya kamu hanya selingkuhannya. Kamu cari suami kaya, kamu enggak mikir suamimu itu punya perempuan lain yang sah sebagai istrinya. Sehingga semua harta adalah milik istrinya bukan milikmu.”



“Kecuali walau jadi selingkuhan, semua saham atau semua rumah langsung dijadikan buatmu itu enggak apa apa. Itu berarti kamu hebat. Tetapi dengan menjadi selingkuhan kamu bukan menyakiti istrinya, tapi menyakiti hati anak-anak yang tak berdosa.”



“Kalau kamu punya rasa empati terhadap anak-anak, kamu bisa bayangkan bagaimana anak-anakmu ditinggal pergi oleh ayahnya? Ditinggal tak diberi kasih sayang oleh ayahnya hanya diberi nafkah. Itu yang kamu harus pikir kalau memang kamu ada empati.”



“Dan kamu tahu pada sopir bus yang miskin itu aku yang terlalu posesif pada dia, bukan dia yang posesif pada aku. Dia lebih muda tapi dia lebih dewasa, dia lebih miskin harta tapi dia lebih kaya hati itu yang aku syukuri dan kebahagiaan kami itu bukan dari harta. Kami tidak berkekurangan itu sudah anugerah terindah dan kami bisa memberi orang lain itu kelebihan kami.”



“Kalau suamiku butuh hartaku dia tentu enggak akan bekerja, cukup kami makan dari uang hasil kost orang tuaku. Suamiku tak mau aku hidup di bawah ketiak orang tuaku. Kami lebih baik makan dengan lauk garam tapi beli sendiri daripada dibelikan nasi padang hasil dari orang tuaku, itu prinsip suamiku.”



“Memang sejak kita kuliah aku dan kamu itu selalu berbeda pendapat dalam hal materi, walau kita akrab. Itulah aku sejak dulu, aku tidak pernah memandang orang dari hartanya, tapi dari hatinya.”


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.


__ADS_1


__ADS_2