
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Kita jalan yuk Dek," ajak Fitri pada Timah.
"Ke mana ya Mbak?" Timah tentu senang diajak mbak nya yang cantik.
"Ke toko dekat sini aja, sebentar Mbak minta kunci mobil di Mas mu," ucap Fitri.
"Mas minta kunci boleh?"
"Mau ngapain bawa mobil?" kata Yanto.
"Mbok kasih toh sebentar aja. Aku ke depan sama Timah."
"Ya nggak usah bawa mobil kalau cuma ke depan." Yanto tak berani main kasih kunci walau satu tahun ini Fitri bawa mobil sendiri saat kuliah dulu.
"Enggak kasihan po aku suruh jalan, jauh lo Mas. Kasihin aku sebentar," rengek Fitri.
"Mau dianterin?" Tanya Yanto.
"Nggak Mas aku pengen berdua Timah aja.” bujuk Fitri.
"Ya wis hati-hati ya," Yanto memberikan kunci mobil pada istrinya sambil mengacak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Iya." Fitri langsung mengajak Timah pergi ke toko depan jalan raya, keluar dari desa.
"Kamu pilih yang mana yang kamu mau," kata Fitri di toko pakaian.
"Enggak Mbak, aku sudah ada." Tolak Timah.
'*Anak e ibu semua tak mau aji mumpung. Timah dan Herry yang anak kecil aja ditawari apa pun kalau enggak butuh enggak akan menerima. Terlebih mas Yanto. Ibu sangat bagus mendidik anak-anaknya*,' Fitri sangat mengagumi hasil didikan ibu mertuanya.
"Sudah tho. Enggak apa apa," kata Fitri.
Setelah di bujuk cukup lama akhirnya Timah mau mengambil beberapa baju yang dia sukai.
"Ini buat Mas Herry cukup nggak ya?" Tanya Fitri.
"Oh yang itu. Oke."
Selanjutnya mereka pun ke bagian sepatu. Timah dan Herry dibelikan sepatu untuk sekolah oleh Fitri.
"Banyak betul Mbak, buku yang kemarin masih ada loh," tolak Timah.
"Ya sudah kurangin bukunya setengah," jawab Fitri ringan.
"Kalau masih ada ya enggak perlu Mbak. Masih banyak buku yang kemarin," tolah Timah dengan polosnya.
__ADS_1
"Ya udah beli apa yang kamu butuhkan."
"Kayaknya nggak ada deh. Cuma Mas Herry kemarin butuh penggaris ini sama jangka," sahut Timah. Fitri mengambilkan jangka dan penggaris segitiga yang dibutuhkan oleh Herry.
"Ya sudah apa lagi?"
"Sudah Mbak cukup. Nanti aku malah di d*ukani* ( dimarahi ) Mas Yanto." Timah tak mau ditegur kakaknya karena mau saja diberi barang. Mereka memang diajari agar tak silau oleh pemberian orang lain.
"Ya wis ayo beli es krim."
"Satu aja ya Mbak. Jangan banyak-banyak nanti didukani ibu, lagian mau disimpan di mana kalau banyak-banyak."
'*Oh iya mereka nggak ada kulkas dan televisi*,' Fitri baru ingat rumah Yanto tak ada elektronik apa pun.
"Yo wis. Yuk kita beli jajanan dulu ya." Fitri lalu membeli beberapa snack untuk cemilan adiknya.
\*\*\*
"Kalian abis beli apa?" kata ibu Gendis.
"Ini loh bu Mbak Fitri ini lho, malah tadi mau beliin aku buku, mau beliin apa yang enggak aku butuhin. Wong masih banyak," kata Timah dengan logat medok Jawa yang kental.
"Jangan toh kalau masih ada jangan belikan lagi. Walau tidak busuk kan enggak ada gunanya," Yanto menegur istrinya lembut agar tak tersinggung.
"Iya Mas. Sekarang aku ngerti kok Mas. Enggak akan aku belikan lagi karena Timahnya udah ngomong," kata Fitri dengan tersipu karena dia tahu telah melakukan kesalahan.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok
__ADS_1