BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DEK


__ADS_3

“Seharusnya kamu ada liburnya tidak tiap hari ke kandang!”


“Aku juga nggak tiap hari kok, terlebih mau ujian seperti ini. Tapi kalau hari Sabtu dan hari Minggu aku wajibkan diriku ke kandang. Karena kan kalau hari Sabtu dan hari Minggu konsumen banyak. Kasihan Mas Pujo sendirian,” jawab Tria yang mendapat teguran di telepon.


“Kamu masih lama di sana?”


“Masih. Ini baru selesai makan dan salat,” balas Tria.


“Ya sudah Mas ke situ,” jawab Herry.


“Memang nggak apa-apa Mas ke sini?”


“Nggak. Nggak apa-apa. Barusan selesai makan. Kalau sudah selesai makan bebas kok. Hari Sabtu dan hari Minggu memang peraturan di rumah kami wajib makan siang bersama. Kecuali ada hal yang tak bisa kami hindari.”


“Ya wis aku tungguin,” kata Tria.


Herry pergi ke kandang, sebelumnya dia mengantar bumbu pecel dulu untuk bu Erlina.

__ADS_1


“Bawa apa itu Mas?” tanya Tria.


“Ini kerupuk mie sama bumbu kacang. Tadi mbok Minah bikin. Tapi nggak ada cairan gulanya,” jawab Herry menyerahkan kerupuk untuk Tria.


“Bumbu kacangnya sudah pedas kan?”


“Sudah, ini yang rasa pedas,” jawab Herry.


“Kalau begitu tambahin kecap saja. Nggak perlu tambah cairan gula nggak apa-apa,” kata Timah. Dia senang Herry membawakan dia kerupuk kesukaan mereka berdua.


Herry membantu Tria melayani konsumen. Walau dia belum yahu bentul soal kelinci. Dia membantu menyiapkan kardus dan tali rafia.


“Senang ya Mas punya keluarga seperti keluarga Mas itu. Walau ayah sudah lama nggak ada tapi ibu bisa membangun suatu keluarga utuh. Aku yang masih ada dua-duanya malah tak ada kehangatan keluarga,” keluh Tria, saat selesai mengembalikan uang pada konsumen yang baru belanja.


“Tidak usah menoleh pada kebahagiaan orang lain. Bangunlah kebahagiaan itu dalam hatimu sendiri. Kalau kita berpikir seperti itu tentu kita juga akan iri pada keluarga Andre yang orang tuanya mendukung dalam kasih sayang dan ekonomi. Tidak seperti aku yang pernah sangat minus, sehingga untuk makan saja aku sulit. Aku pernah setiap libur itu membersihkan mushola agar bisa dapat beras guna meringankan beban Mas Yanto. Saat itu ibu pernah jadi buruh cuci. Pasti kita akan berpikir seperti itu.”


“Keluarga Andre tak pernah kekurangan uang dan kasih sayang tapi kan belum tentu begitu. Mungkin ada kekurangan yang tante Riana impikan. Kita nggak tahu apa itu. Jadi nggak usah berpikir tentang kondisi keluarga orang lain yang terlihat bahagia.”

__ADS_1


“Kita sering dengar sawang sinawang. Walau kelihatannya bahagia, tapi belum tentu,” kata Herry bijak.


“Sekarang nggak usah seperti itu deh. Kita lihat misalnya rumors yang lagi heboh. Pasti kita semua tahu lah para artis misalnya. Kurang apa sih mereka? Masih muda tampan atau cantik kaya, keluarga harmonis. Ternyata kita dengar tertangkap karena kasus narkoba.”


“Mereka lari ke narkoba padahal kelihatannya keluarganya bahagia, tenar dan tak kekurangan uang. Ternyata mereka butuh pelampiasan tertentu yang mereka nggak bisa ungkap pada pasangannya. Ada kan satu atau dua artis yang sampai berulang kali ditangkap. Itu karena dia selalu melihat kebahagiaan orang lain. Padahal kita melihat mereka bahagia.”


“Iya juga ya Mas?” kata Tria sadar.


“Dulu Mbak Fitri sering nasehatin aku. Waktu itu aku masih kecil. Aku nggak mengerti kenapa dia selalu ingetin hal itu. Aku mulai bisnis tambak itu istilahnya dijeblosin ayah! Tidak seperti Timah yang memang suka dengan kambing atau memang keinginannya sendiri. Tapi Mbak Fitri selalu kasih aku semangat : cintai apa yang ada pada kamu, jangan melihat orang lain. Kalau kita cinta apa yang kita miliki, pasti kita akan memelihara atau mengurusnya dengan baik. Sejak itu aku mencintai usaha tambakku dan aku tidak mau dibantu oleh ayah karena tanahnya sudah dari ayah, walau atas nama Mbak Fitri.” Tria mulei mengerti yang Herry ceritakan.


“Kamu bisa bayangkan bahwa Mbak Fitri itu cinta banget sama pekerjaannya saat menjadi marketing manager. Tapi dia cinta sama keluarganya. Dia mau melepas pekerjaan mapannya dan merangkak dari jualan motor tanpa bengkel. Waktu itu hanya di rumah dengan satu motor dia beli lalu dibetulkan Mas Yanto dan dijual. Sehingga mereka punya bengkel kecil itu pun sewa. Sampai mereka beli tanah dan kemudian melebar dengan tanah di belakangnya juga di sampingnya sehingga mempunyai showroom sebesar sekarang. Itu karena apa? Karena Mbak Fitri mencintai pekerjaannya. Walau dia tidak tiap hari ke bengkel tapi seperti kamu tahu dia adalah marketing finansialnya bengkel tersebut.”


“Iya Mas aku mengerti, aku tadi salah. Tidak seharusnya aku iri pada orang lain,” sesal Tria.


“Dalam suatu hubungan pasti akan ada iri DEK,” kata Herry yang mulai memanggil dek pada Tria. Tria juga kaget mendengar panggilan itu.


“Nanti suatu saat kamu akan melihat ada lelaki yang lebih kaya atau lebih ganteng atau lebih tenar. Aku pun begitu akan melihat ada perempuan lain yang lebih manis, lebih pintar atau lebih apa pun. Kalau kita terbiasa melihat dengan iri, kita pasti akan mencoba memiliki dia. Itu membuat perselingkuhan!”

__ADS_1


“Aku memang belum berpengalaman pacaran apalagi menikah, tapi itu yang Mas Yanto ajarkan pada aku. Jangan pernah berpikir akan berpaling. Kalau suatu saat kamu bosan sama aku kamu ingin mencari yang lain, kita sudahi dulu hubungan kita. Jangan sekali-kali kita menduakan. Itu menyakitkan orang tua kita terutama ibu. Karena begitu aku mengenalkan kamu sebagai kekasih aku, ibu punya keterikatan batin dengan kamu. Itu yang berat buat aku,” Tria memandang kagum pada lelaki muda di depannya. Usianya memang lebih muda. Tapi pemikirannya sangat jauh. Bahkan jauh di banding bang Andra sekalipun. Pemikiran Herry atau Yanto memang dikondisikan kehidupan mereka, sehingga mereka lebih pintar menelaah lingkungan.


__ADS_2