
“Mas belum makan? Mau makan dulu? Ayo kalau mau makan, di mana? Mau makan di rumah makan atau di kedai bakso atau di warung? Jangan sampai perut kosong. Nanti dimarahin loh. Kalau di kami nggak boleh ada yang telat makan. Kalau tahu tadi aku bawa bekal dobel. Aku nggak tahu Mas itu belum makan,” kata Timah tanpa bisa di rem.
“Enggak kok. Aku tadi sudah makan,” jawab Satrio. Karena memang dia sudah makan. Sepulang sekolah tadi dia mampir ke warung seperti kebiasaannya tiap hari. Dia tak pernah makan siang di rumah.
“Pantas ya sekarang Mbak Tria kadang juga bawa bekal. Aku lihat beberapa kali dia bawa beberapa tangkep roti atau bahkan juga aku lihat kadang dia bawa nasi dalam kotak makan. Rupanya karena melihat Herry yang laki-laki saja nggak malu bawa bekal sekolah,” ujar Satrio.
“Seperti tadi aku bilang. Kita itu malu kalau mengemis atau mencuri Mas. Kalau tidak mencuri atau mengemis nggak perlu malu. Karena makanan yang kita bawa juga halal kok,” kata Timah lagi.
“Mungkin kan diejek oleh teman-teman sehingga malunya dari situ, bukan malu pas makan,” kata Satrio.
__ADS_1
“Apa kalau kita ngeladenin ejekan mereka kita kenyang?” kata Timah lagi.
“Orang ngejek itu nggak akan ada selesainya Mas. Ibu bilang kita nggak bisa nutup mulut orang. Kita tutup saja telinga kita agar nggak dengar suara-suara sumbang mereka,” ucap Timah.
“Ya ampun, segitu bijaknya ibumu ya,” ucap Satrio.
“Setelah pulang dari Singapura, tabungan mereka sudah penuh. Dan mereka memutuskan kembali ke Solo. Tak kembali hidup di Jakarta.”
“Ibumu orang hebat di kantornya, nggak malu punya suami sopir?” tanya Satrio.
__ADS_1
“Tadi sudah aku katakan berulang-ulang malu itu bila mencuri dan mengemis Mas. Pekerjaan sopir itu halal kok. Dan saat Mas Yanto pertama nikah dengan mbak Fitri, Mas Yanto itu hanya anak STM baru lulus Mbak Fitri sudah S1 loh. Mas Yanto cuma sopir bus dan Mbak Fitri itu sudah bekerja di kantor dan jabatan terakhir dia apa gitu. Tinggi kok jabatan di kantornya,” kata Timah.
“Tapi Mbak Fitri maupun Mas Yanto sama sekali nggak malu karena mereka memang saling menunjang. Uang gaji Mas Yanto semuanya ditabung buat modal usaha. Sedang uang gaji Mbak Fitri digunakan buat biaya hidup termasuk menopang aku dan ibu.”
“Tadinya itu adalah urusan Mas Yanto, begitu menikah diambil alih oleh Mbak Fitri. Mbak Fitri yang menanggung semuanya sebenarnya bisa saja sih dibilang semua usaha dan biaya hidup itu ditanggung separo-separo. Untuk mempermudah perhitungan saja mereka menerapkan seperti itu.”
“Itu memang komitmen mereka berdua. Uang gaji Mbak Fitri buat kehidupan sehari-hari uang gaji Mas Yanto full tanpa dipotong langsung masuk semua tabungan modal usaha. Modal usaha itu sebenarnya bukan uang Mas Yanto pribadi tapi uang dengan Mbak Fitri. Kalau uang yang dari rumah kost itu semuanya 100% punya Mbak Fitri, karena itu adalah warisan milik Mbak Fitri dari ayahnya.”
“Sekarang semua uang kost itu dimasukkan ke tabungannya anak-anak. Tidak ada yang dipergunakan sama sekali oleh Mbak Fitri. Diambil untuk pemeliharaan gedung dan operasional rumah saja misalnya bayar listrik, bayar PAM, gaji pembantu, lingkungan, itu saja sih. Kalau untuk makan hari-hari mereka semua sekarang dari kebun rumah ayah Suradi yang ada di desa.”
__ADS_1